tirto.id - Managing Director Stakeholders Management Danantara Indonesia, Rohan Hafas, menilai, di tahun ini PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk masih akan menanggung kerugian. Meski begitu, seiring dengan perbaikan yang kini tengah dilakukan oleh maskapai pelat merah tersebut, pada 2026, ekuitas Garuda diperkirakan akan mengalami kenaikan.
“Laba apa enggak gitu ya? Nggak mungkin lah. Kalau laba secepat-cepatnya … ekuitas positif. Insya Allah positif. Tapi, kalau laba itu … luka aja kena pisau, kita baru tiga hari berhenti daerahnya,” ujar dia dalam Exclusive Group Interview, di Wisma Danantara, Jakarta Selatan, Kamis (26/2/2026).
Sebagai informasi, pada pertengahan 2025, Garuda Indonesia masih mencatatkan ekuitas negatif sebesar 1,5 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp25 triliun, dengan rasio utang terhadap aset mencapai 123 persen. Karena kerugian yang terus berlanjut dan beban utang besar, total liabilitas Garuda pun jauh melebihi aset yang dimiliki.
Namun, untuk menghindari delisting dan memperbaiki permodalan, Danantara menyuntikkan modal sebesar Rp23,67 triliun kepada perusahaan dengan kode saham GIAA ini.
“Jadi tahun 2025 kalau ditanya tahun lalu gimana, itu sudah pasti bukan tahun untuk mencari laba, pasti, karena dia baru sembuh, baru di injek, baru ganti manajemen dan sebagainya. Kemudian artinya kita lebih mengandalkan untuk perubahan struktur organisasi, stabilisasi, operasional,” kata Rohan menjelaskan apa-apa saja perbaikan yang sudah dilakukan Garuda Indonesia.
Perbaikan kinerja Garuda Indonesia mulai terlihat dari tingkat okupansi penumpang, di mana secara rata-rata pada tahun lalu naik menjadi 80,7 persen, dari yang sebelumnya sebesar 77 persen. Kondisi ini sudah cukup bagus bagi maskapai yang memiliki jam-jam puncak (peak) dan tidak.
Sementara itu, dari sisi suntikan modal, dari Rp23,67 triliun modal yang diinjeksikan kepada Garuda Indonesia, 63 persen atau atau sekitar Rp15 triliun di antaranya digunakan untuk perawatan (service) Citilink, anak usaha Garuda. Kemudian, Rp3 triliun digunakan oleh Garuda Indonesia untuk membayar tagihan BBM yang terutang selama pagebluk.
“Pesawatnya sudah mungkin 70 persen udah nggak boleh terbang karena belum service. Jadi, bukan inject dibuang, dalam hal itu hanya ongkos service yang ditunda karena Covid. Penumpangnya juga nggak ada, dibiarin aja dulu. Nah, waktu dia harus service, udah numpuk dong, karena kita juga nggak tau COVID 1 tahun, 2 tahun, 6 bulan, jadi udah numpuk. Pesawatnya cukup banyak yang harus di-service,” jelas Rohan.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Farida Susanty
Masuk tirto.id






































