Churchill: Diktator Terburuk Abad 20 Serupa Hitler dan Stalin

Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 30 Januari 2018
Dibaca Normal 4 menit
Kebencian rasial Churchill melahirkan kematian massal 1-3 juta orang Bengala, India. Ia tak acuh dengan bencana kelaparan akut pada 1943.
tirto.id - Pada 2002 BBC pernah melakukan jajak pendapat guna mencari tokoh Britania Raya terhebat. Pemilihnya tercatat lebih lebih dari satu juta orang. Setelah pemungutan dan perhitungan suara, di urutan nomor satu yang mengantongi 447.425 suara, adalah Sir Winston Churchill. Sang negarawan, orator, pengarang buku, prajurit, dan tak lupa, salah satu perdana menteri Inggris paling legendaris.

Kisahnya memimpin Inggris diabadikan dalam banyak literatur dan diadopsi ke layar lebar. Darkest Hour adalah film drama perang terbaru yang mengangkat perjuangan Churchill dalam upaya melawan Nazi Jerman selama Perang Dunia II. Churchill menolak perundingan damai dengan Hitler. Pidatoya pada 4 Juni 1940 menggetarkan Parlemen Inggris dan membuat semangat nasionalisme menyeruak hingga ke jalan-jalan.

Churchill adalah legenda dengan reputasi besar. Khususnya di Inggris, tentu saja. Faktanya, rekam jejak Churchill sebelum menghadapi PD II tergolong berdarah-darah. Ia adalah salah satu politisi elite yang mendukung kolonialisme dan imperialisme Inggris di banyak tempat, termasuk di India dan Kenya. Kebijakannya, yang beberapa sejarawan nilai juga didorong oleh sikap rasis, melahirkan tragedi dengan jutaan korban jiwa.

Churchill lahir pada 30 November 1874 di Istana Blenheim, Oxfordshire. Tumbuh dalam keluarga ningrat, ayahnya, Lord Randolph Churchill (putra ketiga John Spencer-Churchill, Duke of Marlborough), adalah seorang politisi Britania kawakan. Ibunya, Jennie Jerome, adalah putri jutawan Amerika Serikat, Leonard Jerome.

Persinggungannya dengan Tanah Hindustan berawal pada Oktober 1896. Churchill muda aktif di militer Inggris dan dikirim ke India. Ia ditugaskan sebagai prajurit di daerah North West Frontier. Ia pernah membantu memadamkan pemberontakan Mohmand di Distrik Swat. Kawan-kawan lain menenteng senjata, sementara ia ditugaskan untuk menulis kabar peperangan untuk surat kabar The Pioneer dan The Daily Telegraph.


Churchill masuk ke dunia politik pada 1900-an. Sebelum menduduki kursi Perdana Menteri pada 1940, ia adalah salah satu tokoh paling vokal menentang gerakan kemerdekaan India sepanjang 1920-an dan 1930-an.

Kuatnya aspirasi swaraj atau pemerintahan sendiri dalam masyarakat India membuat Pemerintah Inggris terlibat dalam Konferensi Meja Bundar (1930-1932) untuk membahas masa depan daerah kolonialnya yang paling berharga itu. Saat itu, banyak politisi Inggris yang percaya bahwa India perlu bergerak menuju wilayah berstatus dominion. Artinya merdeka dan punya pemerintahan sendiri, tapi tetap menjadi anggota persemakmuran sebagaimana status Australia, Kanada, atau Selandia Baru.

Churchill berada di sisi seberang. Di satu sisi, Churchill dikenal sebagai orator yang mempesona. Di sisi lain, ia juga politisi yang ceplas-ceplos saat mengungkapkan pendapatnya. Akibat Churchill tak simpati terhadap konferensi, misalnya, ia dengan enteng menyebut konferensi itu sebagai “prospek yang mengerikan.”

Churchill amat membenci Mahatma Gandhi, yang dikenal sebagai penggerak utama dan ideolog perjuangan antikolonial rakyat India, serta guru perlawanan tanpa kekerasan. Gerakan ini, plus ajaran lain yang dipraktikkan secara konsisten oleh pengikutnya, menjadi strategi perlawanan yang cukup merepotkan perwakilan kolonial Inggris di India.

Pada 1930 ia menyatakan “bahwa Gandhiisme dan segala yang berhubungan dengannya akan dikremus dan dilumat.” Pada 1920, ketika Gandhi beru merintis gerakan perlawanan, Churchill berkomentar bahwa seharusnya tangan dan kaki Gandhi diikat lalu dilumat oleh gajah yang ditunggangi oleh kepala pemerintahan kolonial. BBC bahkan pernah melaporkan bahwa Churchill akan memilih membiarkan Gandhi mati jika ia melakukan mogok makan.



Infografik churchil dan india


Ia suka jika rakyat India berselisih satu sama lain, sehingga sulit menyatukan kekuatan untuk menggalang persatuan sebagai modal kemerdekaan India. Dalam kolom Kevin Myers untuk Irish Independent, pada Juli 1940 Churchill menyambut gembira kabar bahwa Liga Muslim dan Kongres India bertikai. Ia berharap “perpecahan itu akan pahit dan berdarah.”

Kebencian-kebencian itu dicatat dengan baik oleh Richard Toye dalam bukunya “Churchill's Empire: The World That Made Him and The World He Made” (2011). Banyak koleganya yang menganggap Churchill didorong oleh kebencian yang mendalam terhadap demokrasi yang dijalankan oleh pihak selain orang Inggris. Apalagi dalam kasus India, Churchill juga didorong oleh sikap rasis, dan dengan demikian menganggap kelompok kulit putih negaranya adalah yang lebih superior.

Toye menemukan bahwa Churchill pernah mengumumkan “Saya benci orang-orang India. Mereka adalah orang-orang yang kejam dan menganut agama yang mengerikan.”

Sikap serupa ia tunjukkan pula kepada negeri jajahan di Afrika. Churchill percaya dataran tinggi Kenya yang subur harus menjadi tempat konsentrasi tinggal orang kulit putih. Ia menyetujui pembersihan warga setempat. Baginya, anak-anak Suku Kikuyu adalah “anak-anak brutal”. Saat suku tersebut memberontak, Churchill mengirim 150.000 orang di antaranya ke kamp penyiksaan yang dijuluki “Gulagnya Inggris”.


Istilah itu diciptakan oleh sejarawan pemenang Pulitzer Profesor Caroline Elkins, yang mempelajari kamp penahanan beserta situasinya yang jauh dari manusiawi tersebut selama lima tahun. Riset itu berbuah buku Britain's Gulag: The Brutal End of Empire in Kenya (2014). Churchill mendirikan kamp tersebut untuk menghancurkan cita-cita kemerdekaan Kenya, demikian menurut saduran Independent.

“Setruman listrik kerap dipakai sebagaimana juga siksaan dengan sundutan rokok dan api,” tulis Elkins. “Tim eksekutor mencambuk, menembak, membakar, dan mencacah tersangka dari suku Mau Mau.” Salah satu korban dari suku Mau Mau adalah Hussein Onyango Obama, kakek dari Presiden AS ke-44 Barack Obama.

Dr Shashi Tharoor adalah politisi India yang melalui bukunya, “Inglorious Empire: What the British Did to India” (2017) lebih tegas lagi menyebut Churchill setara dengan “barisan diktator terburuk” di abad 20. Pangkal persoalannya, menurut Tharoor dan banyak sejarawan lainnya, adalah keterlibatan Churchill dalam tragedi kelaparan Benggala, India, pada 1943.

Tragedi kelaparan massal di Benggala punya faktor yang kompleks. Ada yang menyebut iklim yang tak ramah pada kehidupan agraris sebagai tulang punggung warga Benggala. Sebagian mengacu pada faktor praktik pertanian yang kurang efektif, over-populasi, serta kematian petani oleh belitan lintah darat dan proyek alih fungsi lahan. Sebagai wilayah jajahan, banyak sumber daya baik alam maupun manusia India yang diprioritaskan untuk Inggris yang kala itu sedang berperang.


Dalam dimensi politik, pemicu kelangkaan pangan dimulai ketika Jepang mengokupasi Burma (Myanmar). Saat itu Burma adalah negara Asia Tenggara yang menjadi pemasok utama beras ke Benggala. Selama berbulan-bulan, warga Benggala pun kelaparan, anak-anak terkena malnutrisi, dan banyak yang mulai meregang nyawa.

Thahoor mencatat bahwa Churchill menolak memberi bantuan kepada Benggala karena beberapa hal. Pertama, karena Inggris sedang berperang, sehingga membutuhkan banyak logistik dan tak boleh menghabiskan biaya transportasi untuk kepentingan selain memenangkan pertempuran.

“Kapal-kapal yang dipenuhi gandum datang dari Australia dan berlabuh di Kalkuta. Namun Churchill menginstruksikan untuk tidak melepaskan muatan kapal dan memerintahkan agar kapal meneruskan pelayaran hingga ke Eropa,” kata Thahoor dalam acara festival penulis di Melbourne, sebagaimana dikutip Independent, Jumat (11/11/2017).

Leo Amery selaku Menlu Inggris untuk India dan Wavell sebagai wakil pemerintahan Inggris di India kemudian mengirimkan permintaan resmi ke Churchill agar mengirimkan persediaan logistik untuk India, di mana korban jiwa di Benggala terus bertambah. Namun, Churchill untuk alasan kedua, kemudian menanggapinya dengan ketidakpercayaan bahwa sedang mengalami kelaparan akut. Sebab jika makanan memang langka, “mengapa Gandhi tak mati-mati?”

Narasi serupa dituturkan oleh sejarawan Madhusree Mukerjee melalui bukunya, Churchill's Secret War: The British Empire and the Ravaging of India during World War II” (2011). Dalam cerita soal isi bukunya kepada Telegraph, Mukerjee mengungkapkan tawaran AS dan Australia untuk mengirim bantuan ke Benggala melalui kapal, tapi tak diizinkan masuk oleh kabinet perang Churchill. Saat AS berhasil membantu masyarakat India melalui kapal mereka, Inggris pun tak menirunya.


Akhirnya tragis. Satu hingga tiga juta (ada yang menaksir lebih dari empat juta) warga Benggala meninggal dunia akibat kelaparan massal.

Melalui artikel dan foto, para jurnalis di Benggala menggambarkan situasi dengan menyedihkan. Laki, perempuan, anak-anak, orang tua, seluruhnya tergolek tak berdaya di dalam rumah hingga di pinggir jalan. Tulang-tulang mereka menonjol terbungkus kulit. Di gang-gang, mayat bergelimpangan, beberapa bahkan sudah jadi makanan burung pemakan bangkai.

Seperti tak punya hati, menanggapi tragedi di Benggala, Churchill justru menyalahkan orang India sendiri yang menurutnya “berkembang biak seperti kelinci”.

"Menurut saya, dia (Churchill) benar-benar salah satu penguasa paling jahat abad 20, yang hanya cocok untuk berdiri di samping orang-orang seperti Hitler, Mao dan Stalin... Tangan Churchill berlumuran darah sebagaimana tangan Hitler. Terutama terkait keputusan yang secara pribadi dia tanda tangani selama tragedi kelaparan massal Benggala, ketika 4,3 juta orang meninggal karena keputusan yang diambilnya, atau disahkannya,” kata Thahoor.

Baca juga artikel terkait INGGRIS atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Politik)

Reporter: Akhmad Muawal Hasan
Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Akhmad Muawal Hasan