Menuju konten utama

Cerita Pilu Usai Bencana Sapu Kampung Sindang Resmi Kota Bogor

Kawasan Kota Bogor bagian selatan, termasuk Kelurahan Bondongan sebenarnya termasuk kawasan rawan bencana.

Cerita Pilu Usai Bencana Sapu Kampung Sindang Resmi Kota Bogor
Tampak muka longsor di Bondongan, Kota Bogor. Foto Rohman. Foto/Rohman WIbowo

tirto.id - Terpal berwarna biru sekira panjang 10 meter dibagi dua untuk menutupi bekas longsoran tanah yang curam ke bawah sampai 5 meter. Bongkahan kayu dipasang di ujung sisi terpal sebagai penahan angin dan gesekan. Di sisi lain tampak garis pembatas polisi yang menandakan kawasan masih dalam status rawan.

Ada tiga bangunan yang langsung menghadap tembok penahan tanah yang longsor pada Senin (27/10/2025) jelang petang itu. Di sisi kiri, menetap pos ronda yang saban malam digunakan warga. Di tengah, bercokol rumah seorang perantau yang jarang dihuninya, dan sebelah kanan adalah rumah berisi satu keluarga yang dikepalai Rahmat.

Rahmat menafkahi keluarganya dengan berjualan ketoprak di kios berjarak sekira 10 menit dari rumahnya di Kampung Sindang Resmi, Kelurahan Bondongan, Kota Bogor.

Kala longsor menerjang kampungnya, Rahmat sedang mengulek bumbu kacang untuk satu porsi ketoprak pesanan. Sembari itu dia melihat ke langit yang kian deras mengeluarkan air hujan. Perasaannya mendadak tak enak.

Begitu Rahmat beres membikin ketoprak, seorang pria bertelanjang dada menembus deras hujan menghampirinya.

“Itu dilihat dulu rumah, ada longsor,” teriak pria itu.

Rahmat lantas bergegas ke rumahnya. Begitu masuk gang rumah, banjir sudah setinggi perut.

“Banjir kencang ngalirnya seperti aliran sungai. Air itu saya lihat mengalir ke seluruh penjuru gang. Saya langsung merayap ke pintu rumah. Saya lihat dari luar, isi rumah sudah terendam air,” kata Rahmat kepada Tirto.

Tiba di rumah, Rahmat tak berani membuka pintu. Dia khawatir kalau-kalau banjir makin meluber ke dalam. Dia hanya mampu mematikan aliran listrik untuk menghindari bahaya.

Rahmat mengaku bahwa ini adalah banjir dan longsor kali pertama sejak dia dan keluarganya menempati rumah itu 10 tahun lalu.

Dua jam kemudian, banjir berangsur surut. Seketika itu, Rahmat memasuki rumahnya dan mendapati lantai semen berubah menjadi lumpur. Tak cuma alat elektronik yang rusak terendam, kasur yang saban hari dia tiduri juga tercemar lumpur dari tanah longsor dan air banjir.

Meski begitu, Rahmat tetap akan memakai kasur lantai berwarna merah itu. Kepada Tirto, dia tak segan menunjukkan kasur yang dikeringkan depan rumah petak itu.

Saat berbincang dengan Rahmat, seorang anak laki-laki mengintip dari tirai kamar. Rahmat bilang anaknya tidak masuk sekolah sejak dua hari setelah peristiwa bencana. Buku pelajaran dan tas anaknya rusak tak tersisa dilarut air banjir.

Rahmat pun terpaksa absen berjualan. Membersihkan seisi lantai rumahnya dari lumpur jauh lebih mendesak. Juga, dia disibuki aksi swadaya masyarakat setempat membuang material longsor dari saluran drainase.

Kalau dihitung-hitung, dia sekurang-kurangnya kehilangan pendapatan kotor senilai Rp1 jutaan.

“Biasanya tidur pakai kasur, sekarang enggak bisa,” ujar Rahmat sembari menunjukkan matras berlogo BNPB yang diberikan pascabencana.

Bencana Menerjang dan Imbasnya

Nasib rumah Rahmat berbeda 360 derajat dibanding rumah yang persis di sampingnya. Rumah itu dihantam longsor hingga bagian belakangnya rubuh tak tersisa. Kaki bakal terbenam di lumpur bila melangkah ke dalam. Atap rumah pun rusak meninggalkan lubang menganga.

Pos ronda yang berjarak satu tembok dengan rumah itu juga kena terjangan longsor dengan kondisi serupa.

Warga Kampung Sindang Resmi meyakini longsorlah yang mulanya memicu banjir. Tembok penahan tanah yang disebut-sebut sudah ada sejak medio 1990-an itu tak kuat lagi menahan debit air hujan hingga akhirnya longsor tak terhindarkan. Material longsor lalu menghalangi aliran air sungai drainase dan menyebabkannya meluber ke permukiman.

Gejala tembok penahan tanah mulai rapuh dideteksi oleh Yanto. Ketua RW 08 Kampung Sindang Resmi ini melihat ada kebocoran pipa milik PDAM yang menyatu dengan turap itu.

“Itu di sebelah kiri kalau dilihat dari arah rumah saya. Jadi, ketika ada debit air hujan besar, ya terjadilah longsor,” kata Yanto.

Menjelang longsor, Yanto tengah berada di depan rumahnya yang berjarak hanya satu tembok dari turap penahan tanah itu. Dia memang punya kebiasaan merekam kondisi turap dan aliran air yang berlokasi di samping rumahnya. Katanya, itu buat jaga-jaga kalau ada kenaikan permukaan air dan pergerakan tanah yang tak wajar karena curah hujan.

Namun, kebiasaan merekam hujan pada sore itu terhenti saat dia melihat curah hujan kian tinggi. Dia merujuk genangan air dari arah Jalan Pahlawan mengalir deras ke arah turap. Gara-gara itu, dia mulai gusar.

Dan memang, persis pukul 17.03 WIB, turap dari berbahan beton itu ambruk.

“Terdengar suara semacam petir. Warga pada keluar rumah,” tutur Yanto.

Longsoran itu meluncurkan material beton, tanah, dan bebatuan hingga menyumbat aliran drainase. Air hujan, aliran air drainase, dan air dari pipa PDAM yang bocor dari atas lantas menerjang perkampungan.

“Kami panik karena kami belum pernah merasakan langsung bencana ini,” ujar Yanto.

Tembok pembatas antara drainase dan rumah Yanto juga jebol oleh aliran air. Banjir pun menerjang dari dua sisi. Melihat itu, Yanto bergegas menyelamatkan warganya. Seturut itu, dia mendengar jeritan warga yang dilanda kepanikan. Prioritasnya kala itu adalah menyelamatkan 5 penduduk lanjut usia dan 3 balita.

“Saya teriak sebisa mungkin agar lansia dan balita tidak keluar rumah dan diungsikan ke rumah yang dua tingkat,” ucapnya.

Di kampung itu, ada satu madrasah yang lokasinya lebih tinggi dari area sekitarnya. Di situlah, warga menampung barang-barang berharga yang berhasil diselamatkan. Termasuk, tujuh motor yang disebut Yanto digotong saat banjir.

Banjir yang terus mengalir mengarahkan Yanto menuju sumbatan air. Dia dan warga lainnya mencoba membongkar bongkahan batu, tanah, sampai beton dengan alat seadanya. Namun, usaha itu berujung gagal.

Sampai akhirnya, 15 menit setelah kejadian, tim BPBD Kota Bogor datang ke lokasi. Mereka menerima pesan terkait peristiwa longsor dan banjir yang dikirim Yanto ke grup percakapan kelurahan.

Saking tebalnya material longsor yang menimbun drainase, personel BPBD mesti memakai alat berat bertenaga listrik jenis jack hammer. Personel BPBD butuh lebih dari satu jam untuk membongkar sumbatan yang terdiri dari bongkahan beton dan tanah itu.

“Jadi, banjir karena air keluar kencang dari drainase, yang mana mengakibatkan 14 rumah, 20 KK dan 69 jiwa terdampak. Ini seperti banjir bandang,” ucap Yanto.

Titin, sesama warga Kampung Sindang Resmi, sedang menyikat halaman rumahnya menjelang kejadian longsor. Kala hujan deras datang, dia memang biasa memanfaatkan air hujan untuk membersihkan halaman.

Seperti halnya Yanto, Titin menyadari bencana datang usai mendengar suara gemuruh dari arah atas turap. Tanpa sempat melihat apa yang terjadi, tetiba semburan air menerjang rumahnya dari arah samping.

Melihat air datang, Titin bergegas masuk ke rumah untuk menyelamatkan ibunya yang berusia 85 tahun. Titin dan anaknya membopong sang ibu ke samping rumah yang memiliki lantai atas.

“Pas longsor kaya terasa gempa,” kata Titin sembar menunjukkan tinggi air sedada.

Malang betul nasib Titin. Seisi rumahnya—lemari, pakaian, kasur, sampai alat elektronik—habis tersapu air bah. Hanya kompor dan beberapa helai pakaian yang berhasil diselamatkannya—itu pun sudah berkubang lumpur.

Belum lagi, uang ratusan ribu milik ibunya yang saban bulan dikumpulkan dari pemberian anak-anaknya juga hanyut. Yang tak kalah menyesakkan, uang anaknya di celengan pun ikut terbawa banjir.

“Niatnya [anak saya] mau dibelikan baju bola dan ziarah ke Cirebon nanti Desember,” kata Titin.

Belum lama juga, Titin menyelesaikan renovasi lantai di dalam rumahnya. Dia bilang perlu waktu 5 bulan untuk mengumpulkan uang dua jutaan demi memperbaiki lantai. Perbaikan itu menjadi vital bagi keamanan rumahnya.

Kini, lantai yang baru saja direnovasi dengan susah payah itu kembali rusak, posisinya tampak retak dan miring.

“Lantai ini kalau ambruk langsung ketemu selokan dan air bisa naik ke atas. Makanya saya jaga betul bagian lantai ini,” tuturnya.

Kawasan Rawan Bencana

Bila diamati, lokasi Kampung Sindang Resmi memang lebih rendah ketimbang area sekitarnya. Kontur area kampung itu yang menurun dan ada tebingan di beberapa titik. Kondisi demikian membuatnya masuk dalam kategori daerah rawan longsor.

Dalam Peraturan Daerah Kota Bogor Nomor 6/2021 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bogor 2011-2031, ada klausul yang mengatur soal kawasan rawan longsor. Seturut peraturan tersebut, kawasan yang memiliki tingkat kemiringan lebih dari 40 derajat semestinya tidak boleh dibangun permukiman.

Kawasan Kota Bogor bagian selatan, termasuk Kelurahan Bondongan sebenarnya termasuk kawasan rawan bencana. Kepada Tirto, Kepala Pelaksana BPBD Kota Bogor, Dimas Tiko, mengonfirmasi bahwa tingkat kemiringan tembok penahan tanah di Kampung Sindang Resmi sampai 60 derajat.

Namun, Wali Kota Bogor, Dedie Rachim, menilai tidak ada isu dalam kekuatan tembok penahan tanah yang digarap pemerintah itu. Menurutnya, yang justru menjadi masalah adalah aliran air yang berada di dekat permukiman.

“Waktu saya tinjau, sebenarnya tidak ada masalah dengan TPT Bondongan. Hanya saja terdapat sumbatan karena sampah menumpuk di bawah pos ronda mengakibatkan air tersumbat dan berbalik menekan,” kata Dedie kepada Tirto.

Meski demikian, Dedie tak menampik memang banyak kasus tembok turap penahan tanah yang longsor di wilayahnya. Akan tetapi, longsor terjadi karena tidak ada jarak yang memadai antara bibir sungai atau tebing dengan rumah warga. Dia juga menunjuk adanya beberapa warga yang menjadikan tebing sebagai penopang pondasi bagian rumah.

“Ke depannya, TPT yang roboh akibat menjadi penumpu pondasi rumah tidak bisa serta merta diperbaiki. Namun, harus dinaturalisasi dan ditanami pohon,” kata dia.

Kepada Tirto, dosen perencanaan wilayah dan kota dari Universitas Trisakti, Yayat Supriatna, mewanti-wanti bahwa Pemkot Bogor harus memitigasi risiko bencana pada permukiman yang terletak di daerah dengan derajat kemiringan tinggi.

Perhatian lebih juga mesti diarahkan pada kawasan permukiman yang berpotongan atau mengubah bentang aliran air.

“Di situ, yang terjadi adalah banyak aliran air yang terhambat dan tersumbat sehingga terjadi pengendapan,” kata dia.

Yayat menekankan bahwa struktur beton pada turap yang dibangun terkadang tidak menyentuh pada struktur tanah yang paling keras. Atau, struktur turapnya itu tidak memperhatikan potensi risiko akan curah hujan yang tinggi. Jadi, banyak air tertahan sehingga berakibat limpasan air cukup besar.

Dia mengingatkan agar rumah-rumah di kawasan rawan longsor memperhatikan aliran drainase agar limpasan air tidak bergerak liar lantaran perubahan bentangan alam. Selain itu, kawasan permukiman di bawah turap juga perlu diawasi karena biasanya tidak memiliki penahan alami seperti pepohonan. Padahal, akar pohon dan batang pohon yang besar itu bisa menjadi pengikat tanah.

“Tapi, sekarang justru diganti oleh turap yang tidak sesuai strukturnya sehingga potensi bencana bisa terjadi. Yang kita lihat video itu [longsor di Bondongan] adalah aliran air tidak bisa ditahan. Sehingga, bisa dikatakan turap yang dibangun di sana tidak didesain untuk mengantisipasi perubahan bentang alam yang terjadi,” ujar Yayat.

Bagi Titin, Yanto, dan Rahmat, tinggal di kampungnya sekarang sudah lebih dari cukup. Mereka ingin tetap bermukim di sana seperti para pendahulunya yang tinggal berpuluh-puluh tahun lamanya. Mereka juga berharap perbaikan tembok penahan tanah di kampungnya selekas mungkin dilakukan.

“Saya harap ada perbaikan secepatnya. Khawatir ada hujan deras lagi dan ada longsor susulan. Kami khawatir kalau kejadian malam sewaktu kami tidur. Kami enggak tahu kapan musibah datang,” ujar Rahmat.

Baca juga artikel terkait BENCANA BANJIR atau tulisan lainnya dari Rohman Wibowo

tirto.id - News Plus
Reporter: Rohman Wibowo
Penulis: Rohman Wibowo
Editor: Fadrik Aziz Firdausi