tirto.id - Kota Semarang kembali dikepung banjir. Sudah berhari-hari, sejumlah titik di Kota Lumpia tergenang air. Salah satu yang terendam adalah Jalan Kaligawe.
Sebagian kendaraan terpantau tak berani melintas di jalan yang beririsan dengan Jalur Pantura Semarang-Demak itu. Tampak yang berani, hanyalah kendaraan-kendaraan besar.
Sementara untuk sepeda motor dan mobil pribadi jarang yang terlihat melintas di Jalan Kaligawe. Kalau pun ada, sebagian mogok.
Selain merendam jalanan, banjir juga menggenangi permukiman warga.
"Banjir terus, tapi piye meneh (mau bagaimana lagi)," Sarwadi mengeluh saat ditemui pada Rabu (29/10/2025) siang. Warga Kota Semarang ini, rumahnya sudah berhari-hari dikepung air.
Banjir di rumahnya masih rata-rata setinggi lutut orang dewasa, padahal hari ini tidak ada hujan. Terhitung enam hari sudah air menggenangi jalan depan rumahnya. Kata Sarwadi, banjir mulai naik sejak Kamis (23/10/2025) waktu hujan mengguyur sejak pagi.
Menurut pengamatannya, di banding sehari sebelumnya, air menyusut sekitar satu jengkal. "Nek udan yo tambah jeru (kalau hujan ya tambah tinggi)," celetuknya.
Sawardi tidak kaget, tapi tetap heran atas kenyataan yang dihadapinya. Rumah yang dia tinggali berada di Kelurahan Tambakrejo, Kecamatan Gayamsari, Semarang jadi langganan banjir. Bahkan di saat kampung lain masih kering.
Rahmat juga mengalami nasib serupa. Sama-sama warga Kelurahan Tambakrejo, tetapi rumahnya beda kamping dengan Sawardi. Banjir baru merendam rumahnya empat hari terakhir.
"Empat hari ini lah banjirnya, rumah saya agak di belakang sana," ucapnya sambil menunjuk ke arah utara tempat rumahnya berada.
Rahmat dan semua warga di kampungnya terpaksa memarkirkan kendaraan mereka di Jalan Kaligawe Raya, tepatnya di atas jembatan yang konturnya lebih tinggi. Genangan air, telah membuat kendaraan tak lagi bisa memasuki gang.

Telan Korban Jiwa
Banjir yang tengah melanda Ibu Kota Jawa Tengah tidak hanya menimbulkan genangan, tetapi juga menyisakan duka. Tiga warga Semarang dinyatakan meninggal dunia karena terseret banjir.
“Tiga orang meninggal,” ujar Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang, Endro P Martanto, Rabu (29/10/2025).
Berdasarkan data BPBD, banjir Kota Semarang melanda 24 kelurahan di lima kecamatan. Ketinggian airnya bervariasi. Di beberapa titik ada yang sudah kebanjiran lebih dari sepekan.
Secara spesifik, di Kecamatan Semarang Utara, air merendam sebagian Kelurahan Tanjung Emas, Bandarharjo, Purwosari, Panggung Lor, Panggul Kidul, Bulu Lor, hingga Dadapsari.
Di Kecamatan Gayamsari banjir mengepung Kelurahan Kaligawe, Tambakrejo, Sawah Besar, dan Siwalan. Ketinggian airnya antara 10-80 sentimeter.
Lalu di Kecamatan Genuk, banjir melanda Kelurahan Genuksari, Gebangsari, Banjardowo, Bangetayu Kulon, Terboyo Wetan, Trimulyo, Muktiharjo Lor dan Trimulyo dengan ketinggian 10-80 sentimeter.
Sedangkan di Kecamatan Pedurungan banjir terjadi di Kelurahan Tlogosari Kulon, Muktiharjo Kidul dan Tlogomulyo. Ketinggian air di wilayah ini berkisar 10-50 sentimeter.
Endro mengungkap, banjir kali ini cukup parah. Tercatat ada 63.400 jiwa atau 21.125 kepala keluarga yang terdampak banjir.
Banjir Semarang memang bukan hal baru. Namun pertanyaannya, kapan kota ini bebas dari banjir?
Penulis: Baihaqi Annizar
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id





























