Cerita Memburu Kepala di Nias

Oleh: Iswara N Raditya - 11 Oktober 2017
Dibaca Normal 3 menit
Semakin banyak kepala manusia yang berhasil dipenggal, semakin tinggi pula status sosial seseorang.
tirto.id - Awuwukha yang pernah amat perkasa itu terbaring tak berdaya. Bayangan liang lahat sudah tergambar sangat dekat seiring usianya yang semakin renta. Sebelum ajal menjemput, Awuwukha berucap wasiat kepada anak-anaknya yang siap menjalankan apapun permintaan terakhir sang ayah.

Mantan salah satu orang terkuat di Pulau Nias itu berpesan, jika mati nanti, ia minta ditemani 5 orang. Seorang untuk menyiapkan minuman, 1 orang membuat sirih pinang, 1 orang meladeni makanan, 1 orang untuk menjaga, dan 1 orang lagi sebagai tukang pijat (Jajang A. Sonjaya, Melacak Batu Menguak Mitos Petualangan Antarbudaya di Nias, 2008).

Usai berwasiat, Awuwukha mengerik kuku jempolnya dengan pisau sebagai penegas bahwa titah sudah ditetapkan. Dengan kata lain, anak-anak Awuwukha wajib memenuhi pesan penghabisan itu. Artinya, mereka harus memburu 5 kepala manusia untuk menemani sang ayah ke alam selanjutnya.

Praktik memburu kepala itulah yang disebut dengan istilah mangai binu, tradisi berburu kepala manusia yang cukup akrab dalam kehidupan masyarakat Nias tempo dulu.

Legenda Awuwukha yang Perkasa

Nama Awuwukha terlanjur lekat setiap kali membahas sejarah Nias. Bahkan, bermula dari nama orang, Awuwukha kemudian menjadi gelar kehormatan. Masyarakat Nias memang punya tradisi menyematkan gelar sesuai dengan karakter paling menonjol dari seseorang (Suhadi Hadiwinoto, Nias: Dari Masa Lalu ke Masa Depan, 2008).

Salah satunya adalah Awuwukha, gelar bagi orang yang telah melakukan owasa (upacara besar untuk meningkatkan status sosial seseorang) dalam tingkatan lebih tinggi.

Ketut Wiradnyana (2010) dalam Legitimasi Kekuasaan pada Budaya Nias menuliskan Awuwukha memiliki arti “jurang yang dalam”, makna yang menyiratkan sosok tangguh dan tidak mudah dikalahkan.

Baca Juga:
Dengan demikian, gelar Awuwukha disematkan kepada orang yang diakui paling kuat, perkasa, dan digdaya. Sebagai ukuran pemberian gelar itu adalah banyaknya kepala manusia yang pernah dipenggal oleh yang bersangkutan. Dan Awuwukha adalah emali alias penjagal terbaik pada masanya.

Dikisahkan, Awuwukha yang tinggal di sebuah desa bernama Boronadu (sekarang termasuk wilayah Kabupaten Nias Selatan, Provinsi Sumatera Utara) adalah pencetus tradisi mangai binu di Pulau Nias.

mangai binu sering pula disebut dengan istilah lokal lainnya, seperti möi ba danö, mofanö ba danö, mangai högö, atau i emali. Kata emali disematkan kepada orang yang berperan sebagai pemburu kepala manusia macam Awuwukha.

Bukan tanpa sebab Awuwukha menjelma menjadi penjagal kelas kakap. Apa yang dilakukan Awuwukha itu bermula dari dendam lantaran ibu dan 7 saudaranya dibakar hidup-hidup di kediaman mereka oleh sekelompok orang dari desa lain. Para pengacau itu juga membakar lumbung padi milik Laimba, orang yang paling dihormati di desa.

Awuwukha yang datang terlambat dan melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa rumahnya telah terbakar bersama dengan keluarganya tentu saja murka besar. Ia pun bersumpah akan menuntut balas terhadap orang-orang yang telah melakukan perbuatan itu (Sonjaya, 2008).

Beberapa hari berselang, Awuwukha pulang. Langkahnya tenang lagi mantap, dengan raut muka yang mengesankan kepuasan. Ia memanggul sebuah karung yang ternyata berisi penggalan belasan kepala manusia, kepala orang-orang yang membakar rumah dan membunuh keluarganya, sekaligus mempermalukan warga desanya.

Sejak itulah, mangai binu atau perburuan kepala mulai berlaku karena apa yang telah dilakukan Awuwukha ternyata berlanjut. Musuh-musuhnya semakin banyak karena ingin membalas dendam. Namun, Awuwukha tak terkalahkan hingga menutup mata karena dimakan usia. Nama Awuwukha pun menjadi legenda, sekaligus diabadikan sebagai gelar yang diberikan untuk orang-orang sepertinya.

Sebagai Lambang Kedigdayaan

Tradisi memburu kepala manusia setidaknya berhasil membuat orang-orang asing berpikir seribu kali jika ingin mengusik masyarakat Nias. Stefan Anitei (2007) dalam The Island of the Head Hunters menceritakan, nyali para saudagar dari Arab ciut begitu mendengar kebiasaan aneh ini sehingga mereka lari tunggang-langgang meninggalkan daratan Nias dan kembali ke kapalnya.

Baca Juga:
Infografik Memburu Kepala ala Nias


Namun, mangai binu tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang. Hanya mereka yang memiliki kedudukan sosial yang tinggi, serta punya kekuasaan dan kekayaan, yang boleh berperan sebagai emali, atau setidaknya meninggalkan pesan terakhir sebelum wafat seperti yang pernah dilakukan oleh Awuwukha dulu.

“Adalah seorang raja, bangsawan, kepala suku, atau tetua adat yang akan meninggal, ia akan berpesan kepada anak dan keturunannya,” jelas Hezatulö Nduru, seorang kurator di Museum Pusaka Nias, seperti dikutip dari Liputan6.

“Apabila meninggal nanti,” lanjut Nduru, “Ia ingin dikuburkan bersama 5 kepala, 8 kepala, atau 10 kepala. Jumlahnya tergantung pada yang diminta. Dan ini wajib dipenuhi oleh anak dan keturunannya.”

Pada perkembangannya, sejak Awuwukha meninggal dunia, praktek mangai binu meluas untuk berbagai kepentingan lain. Salah satunya dalam pembangunan rumah bangsawan Nias atau omo sebua. Sebagai wujud rasa syukur, kepala para tukang yang membangun rumah itu justru dipenggal untuk persembahan.

Orang yang diperkerjakan sebagai tukang biasanya adalah kaum budak atau sawuyu. Dalam adat masyarakat Nias tempo dulu, upacara-upacara pemujaan sering disertai dengan penyembelihan sawuyu (Victor Zebua, Ho: Jendela Nias Kuno, Sebuah Kajian Kritis Mitologis, 2006). Sawuyu seolah menjadi tumbal kemegahan sebuah tradisi.

Selain kepala tukang atau sawuyu, bangsawan si empunya rumah tidak jarang menugaskan kepada emali untuk berburu beberapa kepala lagi ke kampung lain jika persembahan dirasa masih kurang (Yupiter Bago dalam Victor Zebua, Kisah Awuwukha Pemburu Kepala, 2008).

“Setelah mendapat mandat, para emali ini pun akan bergerilya ke kampung-kampung untuk mencari mangsa. Siapa saja yang ditemuinya, akan dipenggal kepalanya, sekalipun orang itu tidak memiliki dosa,” beber Hezatulo Nduru.

mangai binu juga dilakukan oleh kaum lelaki yang hendak memperistri gadis pilihannya. Keluarga si calon mempelai perempuan biasanya meminta kepada lelaki itu untuk mempersembahkan kepala musuh. Semakin banyak jumlah kepala yang berhasil dipenggal dan ditunjukkan, semakin tinggi pula nilai si calon menantu itu.

Tradisi berburu kepala mulai memudar seiring masuknya misionaris Kristen ke wilayah Pulau Nias pada awal abad ke-20, kebanyakan berasal dari Jerman, ada juga orang Belanda. Para zending ini bisa diterima oleh orang Nias karena tidak menunjukkan kesan kekerasan serta mengenalkan hal-hal baru yang membuat warga lokal tertarik.

Baca juga:
Tradisi lompat batu di Nias juga menjadi taktik kaum zending untuk menghapus mangai binu (Zebua, 2008). Jika sebelumnya tingkat kehebatan ditentukan oleh jumlah kepala yang berhasil dipenggal, kini berganti dengan kemampuan melompati batu. Semakin tinggi batu yang bisa dilampaui, semakin dinilai hebat pula orang itu, tanpa harus memburu kepala sesamanya.

Kaum misionaris ini cukup cerdik dalam upaya menghilangkan tradisi yang mereka pikir sudah tidak relevan. Semisal adalah diperkenalkannya fananö buno atau “menanam bunga” untuk menggantikan ritual famaoso dalo atau “menanam/menguburkan kepala” (Bambowo Laiya, Solidaritas Kekeluargaan dalam Salah Satu Masyarakat Desa di Nias, 1980).

====

Terjadi sejumlah kesalahan penulisan kata-kata dalam bahasa Nias. Atas masukan pembaca, redaksi telah melakukan pembaharuan pada 19 Oktober 2017, pukul 15.10 WIB.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Iswara N Raditya
Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Zen RS