Menuju konten utama

Cerita Jemaah Sumenep Mantap Berhaji Mandiri, Tanpa Ikut KBIHU

Suwaris mengaku lebih nyaman menjalani ibadah secara mandiri karena tidak terlalu terikat aturan tambahan serta lebih ringan secara biaya.

Cerita Jemaah Sumenep Mantap Berhaji Mandiri, Tanpa Ikut KBIHU
Jemaah haji mandiri dari kloter SUB 77, Suwaris Bahir, saat ditemui di hotel nomor 410, di Sektor 4 wilayah Raudhah, Makkah, 14 Mei 2026. Kredit foto: Tim Media Center Haji (MCH) 2026.

tirto.id - Waktu menunjukkan pukul 20.10 WAS saat saya turun dari mobil hiace di depan hotel nomor 410 di kawasan Raudhah. Suasana hotel cukup ramai, banyak jemaah haji yang sedang duduk santai sembari menunggu azan isya.

Malam itu kami hanya mengantar kawan yang ketinggalan tas selempangnya saat liputan di hotel jemaah haji tersebut pada pagi harinya. Namun, karena keramahan jemaah yang sedang "cangkrukan," kami cukup lama di hotel tersebut.

"Dari mana?" sapa seorang jemaah dengan logat kental Madura. "Madure ka' emma? [Madura mana?]" saya balik bertanya yang membuat jemaah tersebut heran kenapa saya bisa tahu kalau dia berasal dari Pulau Garam.

Obrolan pun mengalir, apalagi jemaah tersebut mengetahui saya juga dari Sumenep, satu kabupaten dengan mereka. Banyak informasi terkait pelayanan haji yang diceritakan, termasuk pelayanan bagi jemaah haji mandiri yang tidak tergabung dengan Kekompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU). Namun karena ada panggilan tugas, obrolan terpaksa berakhir, tanpa saya tahu namanya. Saya hanya tahu laki-laki yang ramah senyum itu berasal dari Parenduan, Sumenep.

***

Sebelum memberikan hak tubuh istirahat setelah seharian bekerja, saya buka grup WA Media Center Haji (MCH) Daker Makkah. Saya cukup lama memandangi chat yang dibubuhi judul "proyeksi liputan besok." Saya baca berulang-ulang pesan yang isinya "wawancara jemaah haji mandiri di hotel 410."

"Wah, ternyata obrolan tadi jadi bahan utama liputan besok," saya membatin.

Singkat cerita, salah satu narasumber yang tim MCH temui adalah Suwaris Bahir. Pria asal Parenduan ini adalah orang yang ngobrol ngalor-ngidul semalam, tanpa saya tahu nama sebelumnya.

Kepada tim MCH, Suwaris nengatakan merasa mantap memilih jalur mandiri sejak awal mendaftar haji. Lelaki yang sehari-hari bekerja di bidang perikanan itu mengaku tidak pernah benar-benar khawatir menjalani haji tanpa KBIHU.

Baginya, manasik yang diberikan pemerintah sudah cukup detail untuk menjadi bekal ibadah. “Mulai dari naik pesawat, fasilitas hotel, sampai jalur masuk Masjidil Haram dijelaskan,” kata dia saat ditemui di hotelnya, Kamis (14/5/2026).

Suwaris mengikuti manasik berkali-kali, baik di tingkat kecamatan maupun kabupaten. Dari situ, ia merasa jemaah awam seperti dirinya benar-benar diarahkan secara bertahap. Bahkan, menurut dia, petugas kloter juga aktif mendampingi jemaah selama berada di Tanah Suci.

“Setiap perjalanan ibadah itu selalu ada yang mendampingi,” kata dia.

Ia mengaku lebih nyaman menjalani ibadah secara mandiri karena tidak terlalu terikat aturan tambahan. Selain lebih fleksibel, jalur mandiri juga dianggapnya lebih ringan secara biaya.

“Kalau saya pribadi, pelayanannya lebih daripada cukup,” kata dia.

Cerita yang hampir sama dituturkan Moh Kamil. Di usianya yang belum genap 30 tahun, ia memikul tanggung jawab besar sebagai ketua rombongan bagi 43 jemaah haji mandiri asal Sumenep, Jawa Timur, yang tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) SUB 77.

“Awalnya saya juga berpikir mungkin lebih aman kalau ada pendamping dari KBIHU. Tapi setelah bertemu petugas-petugas kloter, kami merasa cukup didampingi,” kata Kamil.

Pilihan berhaji mandiri itu tidak datang tiba-tiba. Sebelum berangkat, ia memperkuat bekal manasik dengan kembali belajar pada guru-gurunya di pesantren. Meski tidak mondok penuh, ia sejak kecil tetap mengikuti pengajian dan madrasah diniyah di kampungnya.

Bekal itulah yang kini ia gunakan untuk membantu jemaah lain memahami alur ibadah haji. Tantangan terbesar justru muncul dari perbedaan kemampuan para jemaah dalam menerima informasi, terutama para lansia yang belum terbiasa menggunakan teknologi.

Jemaah haji mandiri

Jemaah haji mandiri, sekaligus ketua rombongan, dari kloter SUB 77, Moh Kamil, saat ditemui di Makkah, 14 Mei 2026. Kredit foto: Media Center Haji (MCH) 2026.

“Kalau dijelaskan lewat tulisan panjang, banyak yang kesulitan memahami. Akhirnya kami buat video-video sederhana,” kata dia.

Video itu dibuat dengan bahasa campuran Indonesia dan Madura. Isinya praktis: cara memakai lift hotel, mempersiapkan koper, mengenali jalur menuju Masjidil Haram, serta penggunaan fasilitas selama di Arab Saudi.

Cara sederhana tersebut terbukti membantu para lansia lebih cepat memahami situasi. Kamil mengatakan, sebagian jemaah bahkan masih kesulitan menggunakan aplikasi pesan singkat atau melakukan panggilan video.

“Makanya harus dicari cara yang paling mudah dipahami,” kata dia.

Cerita lain datang dari E.A.A. Nurhayati Haddjad. Dosen asal Sumenep itu berangkat haji menggantikan almarhum ayahnya. Porsi haji keluarga yang awalnya bukan untuk dirinya dilimpahkan setelah sang ayah wafat.

Di tengah kesibukan mengajar dan merawat ibunya yang sakit stroke, Nurhayati tetap menyiapkan diri secara perlahan. Ia rutin berjalan kaki di sekitar desa dan taman kota untuk melatih stamina sebelum berangkat.

“Kadang jalan sambil lihat sawah atau ladang saja,” kata dia sambil tertawa kecil.

Selain menjaga fisik, ia juga aktif belajar lewat media sosial dan grup jemaah. Menurutnya, informasi digital justru sangat membantu jemaah mandiri memahami situasi terbaru di Arab Saudi.

Namun, yang paling ia ingat justru suasana kebersamaan di antara sesama jemaah. Pada malam hari, ia sering membantu anggota rombongan lain mengisi identitas atau membaca dokumen perjalanan.

“Dari situ malah jadi dekat satu sama lain,” kata dia.

Jemaah haji mandiri

Jemaah haji mandiri dari kloter SUB 77, E A A Nurhayati Haddjad, saat ditemui di Sektor 4 wilayah Raudhah, Makkah, 14 Mei 2026. Foto: Media Center Haji (MCH) 2026.

Kekompakan para jemaah mandiri SUB 77 memang tidak muncul begitu saja. Ketua Kloter SUB 77, Asnawi, mengatakan bahwa pihaknya sejak awal sadar bahwa mendampingi jemaah tanpa KBIHU membutuhkan pola pendekatan berbeda.

Apalagi, lebih dari separuh jemaah dalam kloter tersebut merupakan lansia. “Ini tantangan besar karena mereka menggantungkan diri pada petugas kloter,” kata Asnawi.

Oleh karena itu, sebelum keberangkatan, petugas kloter lebih dulu membangun kekompakan internal. Setelah itu, mereka mengumpulkan para ketua regu dan ketua rombongan untuk menyamakan persepsi.

Asnawi lalu menanamkan satu gagasan sederhana: setiap ketua rombongan adalah “kiai” bagi kelompoknya masing-masing.

"Ketika merasa punya tanggung jawab moral, mereka jadi lebih serius belajar dan mendampingi jemaah,” kata dia.

Pendekatan itu diperkuat dengan kunjungan rutin ke desa-desa dan wilayah kepulauan di Sumenep selama dua hingga tiga bulan sebelum keberangkatan. Petugas datang langsung memberi penjelasan tambahan, membantu simulasi manasik, serta membangun kedekatan emosional dengan jemaah.

Hasilnya mulai terlihat setibanya mereka di Makkah. Para jemaah bergerak lebih tertib dan saling menjaga satu sama lain.

Baca juga artikel terkait HAJI 2026 atau tulisan lainnya dari Abdul Aziz

tirto.id - Flash News
Reporter: Abdul Aziz
Penulis: Abdul Aziz
Editor: Andrian Pratama Taher