tirto.id - Kepala Badan Pengelola BUMN (BP BUMN) sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, mengungkapkan bahwa dirinya sempat kebingungan terkait dengan jumlah anak cucu BUMN.
Pasalnya, dalam proses restrukturisasi perusahaan pelat merah itu pihaknya perlu melakukan pendataan dan konsolidasi terpadu terhadap seluruh entitas.
"Waktu pertama dihitung, saya tanya berapa sih jumlah BUMN kita, dicek semua-semua, datanglah angkanya ke saya, ini cerita sejujurnya, angkanya 888. Saya pikir ini kok ajaib sekali ya, angkanya kok 8 semua. Saya pikir ada yang menjilat ini," ujar Dony dalam keterangannya, Kamis (11/6/2026).
"Tapi dua hari kemudian berubah jadi 900, empat hari kemudian menjadi 970 habis itu menjadi 1.000, terakhir menjadi 1.077. Kemudian ada yang bilang 1.073. Akhirnya sekarang kami sudah punya angka yang benar,” imbuhnya.
Setelah data portofolio yang valid akhirnya berhasil diperoleh, Dony mengungkapkan bahwa agenda selanjutnya tidak boleh sekadar mengurus utang.
Menurutnya, perbaikan tata kelola perusahaan pelat merah harus mencakup perubahan menyeluruh pada akar operasional dan model bisnis. Restrukturisasi BUMN, katanya, bukan hanya tentang financial restructuring, tetapi harus beriringan dengan business restructuring.
“Biasanya kita melakukan financial restructuring. Saya bilang saya tidak mau hanya financial restructuring, saya mau business restructuring. Kita ubah, kita pastikan bahwa bisnisnya benar dulu, baru kita kasih inject equity jika mereka memerlukan,” ujar Dony.
Contoh nyata dari pendekatan tersebut adalah PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. Perusahaan baja pelat merah itu tidak hanya menjalani penataan ulang utang, tetapi juga merombak total model bisnisnya. Hasilnya, Krakatau Steel yang semula merugi kini mampu membukukan laba sekitar Rp 5 triliun.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id







































