Menuju konten utama

Car Free Day Jakarta Siap Dibuka, Waspada Penyebaran Corona

Car Free Day (CFD) akan kembali dibuka di Jakarta mulai Minggu, 21 Juni 2020. Kegiatan yang bisa menimbulkan kerumunan ini dinilai memicu klaster baru Corona (COVID-19).

Car Free Day Jakarta Siap Dibuka, Waspada Penyebaran Corona
Sejumlah kendaraan melintas di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Jumat (10/4/2020). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan.

tirto.id - Pemerintah provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan mengizinkan kembali hari bebas kendaraan bermotor (HBKB) atau car free day (CFD) di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman dan MH Thamrin akhir pekan ini, Minggu 21 Juni 2020. CFD ditiadakan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sejak 15 Maret 2020 lalu untuk mencegah penyebaran COVID-19 semakin meluas.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Syafrin Liputo mengatakan CFD kembali digelar tepat pada pekan ketiga masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi. PSBB transisi adalah masa terakhir sebelum penerapan the new normal alias kelaziman baru. Dalam periode ini berbagai pembatasan mulai dilonggarkan.

CFD hanya boleh diikuti warga yang ingin berolahraga, bukan misalnya berjualan atau menggelar lapak. Ia juga menegaskan masyarakat harus tetap menerapkan protokol kesehatan seperti menggunakan masker, menjaga jarak, dan membawa hand sanitizer. Selain itu, hanya warga yang sehat yang boleh berkegiatan.

"Kami mengimbau kepada warga tidak sehat, merasa demam, merasa flu, untuk tidak keluar dan melaksanakan aktivitas olahraga di HBKB, sehingga semuanya bisa terus menjaga, tidak terjadi penyebaran COVID-19," ucapnya.

Pemprov DKI akan melakukan evaluasi berkala terhadap CFD.

Diperketat karena Rawan

DKI Jakarta adalah provinsi dengan penderita COVID-19 terbanyak. Dengan kata lain: episentrum penyebaran pandemi. Mengutip laman resmi, per Kamis (19/6/2020) ada 9.349 kasus positif COVID-19 tercatat di kota ini--setara 22,6 persen dari total kasus. Di bawah Jakarta ada Jawa Timur dan Sulawesi Selatan yang masing-masing menyumbang angka pasien 20,6 persen dan 7,7 persen.

Segala pelonggaran ini bahkan dilakukan saat kurva penyebaran belum melandai. Ini berbeda dengan banyak negara lain yang melakukan pelonggaran saat pandemi memang benar-benar dirasa telah terkontrol. Dalam beberapa kasus, pelonggaran ini justru memicu pandemi merebak lagi atau biasa disebut gelombang kedua. Di Indonesia, bahkan gelombang pertama pun belum usai.

Peningkatan inilah yang dikhawatirkan pakar epidemiologi dari Universitas Airlangga (Unair) Laura Navila. Ia khawatir CFD jadi klaster baru penularan, apalagi jika masyarakat "tidak menerapkan protokol kesehatan," katanya kepada reporter Tirto, Kamis (18/6/2020).

Menurutnya jika Pemprov DKI gagal mengantisipasi ini, ia akan jadi contoh yang buruk bagi daerah lain yang juga mulai melakukan pelonggaran serupa. Oleh karenanya ia meminta pemprov serius "melakukan evaluasi" CFD.

Pakar epidemiologi dari Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono menjelaskan protokol apa saja yang harus diterapkan dan dipatuhi warga. Beberapa yang ia jelaskan telah disampaikan Syafrin Liputo, lainnya belum.

Protokol kesehatan yang harus dilakukan pertama-tama yaitu menginformasikan kepada warga yang ingin mengikuti CFD bahwa mereka wajib mengenakan masker, membawa hand sanitizer, dan peralatan olahraga yang aman. Kemudian, Pemprov DKI juga perlu membuat semacam jalur masuk. Di sini masyarakat harus mengikuti prosedur standar seperti mengecek suhu tubuh. Jika diketahui ada yang melebihi 37 derajat celcius, maka petugas wajib melarang ia berolahraga.

Pemprov juga harus menyediakan fasilitas cuci tangan di sekitar area CFD. Ini penting untuk mengantisipasi masyarakat yang lupa membawanya.

Dosen yang mengajar di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UI itu juga meminta kepada Pemprov agar tidak hanya melarang orang dagang, tapi kegiatan apa pun yang dapat memicu konsentrasi massa seperti konser.

Hal yang paling penting dari itu semua, menurutnya, adalah ada petugas yang dapat mengawasi para pengunjung agar tetap menerapkan physical distancing.

"Petugas bisa menegur yang tidak menerapkan protokol kesehatan itu. Kalau enggak bisa diatur, pengunjung tidak bisa melanjutkan kegiatan olahraganya," kata dia kepada reporter Tirto.

Anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta Jhonny Simanjuntak mengatakan CFD penting karena ia dapat jadi lokasi sosialisasi "kepada masyarakat bahwa kita harus hidup berdampingan dengan Corona." Demikian katanya kepada reporter Tirto.

"Tapi tetap menerapkan protokol kesehatan," tambahnya. Agar tak ada yang melanggar, ia berharap betul petugas lapangan tegas. Kalau perlu langsung menyuruh pengunjung yang kedapatan melanggar untuk pulang.

Ia juga berharap pemprov sering mengingatkan warga agar tak membawa serta bayi atau lansia karena dua kelompok usia itu lebih rentan tertular.

Terakhir, durasi CFD tidak boleh terlalu lama. Jika biasanya CFD berlaku pukul enam pagi hingga 11 siang, maka kali ini cukup dua sampai tiga jam saja.

Baca juga artikel terkait CFD JAKARTA atau tulisan lainnya dari Riyan Setiawan

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Riyan Setiawan
Penulis: Riyan Setiawan
Editor: Maya Saputri