Bunda, Titip Anak di Day Care Bukan Kesalahan, Lho!

Penulis: Aditya Widya Putri, tirto.id - 31 Okt 2023 16:45 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Merasa bersalah kala menitipkan anakmu di day care? Padahal, day care mendukung tumbuh kembang anakmu sekaligus membantumu buat me time.
tirto.id - Di masyarakat, seorang ibu kerap digambarkan sebagai makhluk sempurna: mampu mengurus anak dan suami, kerja domestik (plus cari uang), tak pernah—atau lebih cocok tak boleh—sakit, dan semua beres.

Para ibu digelayuti beragam beban tersebut sambil melakukan pengasuhan anak. Maka tak heran banyak yang kemudian merasa bersalah karena tak bisa maksimal.

Hasil survei oleh NUK—sebuah produk perawatan bayi asal Jerman, misalnya, mendapati 87 persen ibu yang menjadi respondennya terkadang masih merasa bersalah atas proses pengasuhannya. Sementara itu, sebanyak 21 persen sisanya merasa bersalah setiap waktu.

“Ada yang berpikir kurang waktu untuk anak-anaknya, merasa kurang sabar dan sering marah,” tulis survei tersebut seperti dikutip oleh laman The Telegraph.

Para ibu ini tetap merasa bersalah dan merasa tak pantas merilis rasa lelahnya, meski sudah bekerja keras memberikan yang terbaik bagi anak. Bahkan untuk sekadar istirahat tidur siang.

Bagi para ibu pekerja, situasinya tambah sulit karena konstruksi mayoritas membuat posisi mereka selayaknya peran antagonis: tega meninggalkan anak.

Padahal, semua ibu—yang bekerja di luar ataupun ibu rumah tangga—memikul beban yang sama-sama berat. Tekanan sosial sebagai “ibu super” malah membuat mereka memaksakan diri harus sempurna dalam pekerjaan, relasi romantis, pengasuhan, dan kerja domestik.


Header Diajeng Bunda Titip Anak di Daycare
Header Diajeng Bunda Titip Anak di Daycare. foto/IStockphto


“Untuk mewujudkan gambaran itu, perempuan pekerja menambahkan 80 jam per minggu untuk menyelesaikan urusan rumah tangga, di samping bekerja,” tulis sebuah studi yang digagas Care.com (2014).

Studi tersebut menyebut 1 dari 4 ibu pekerja menangis sekali dalam seminggu karena stres atas beban-beban “keibuan” mereka.

Yang lebih membikin miris, 29 persen ibu merasa mampu menyewa bantuan atau memasukkan anak mereka ke daycare, tapi memilih tidak melakukannya karena dihinggapi rasa bersalah. Apalagi ditambah stigma bahwa anak lebih baik diasuh oleh ibu ketimbang orang lain.

Perkara memilih tempat penitipan anak guna mengurai beban pengasuhan akhirnya jadi pelik. Ada rasa bersalah yang terus menghantui, tapi anak-anak juga butuh ibu yang waras dan bahagia, bukan ibu yang sempurna berdasar standar orang lain.

Buang Jauh-jauh Rasa Bersalahmu

Afifah, 31 tahun, mulai kebingungan ketika kantornya mulai menerapkan kerja penuh di kantor pada Desember tahun lalu. Dia merupakan ibu dengan satu anak berusia dua tahun. Masa kehamilan dan dua tahun pengasuhan anak dia jalani saat pandemi.

Kala itu, Afifah menjalani peran sebagai perempuan karier sekaligus ibu rumah tangga.

“Meski repot, sebisa mungkin dilakukan sendiri. Waktu itu, mikirnya anak harus diasuh orangtua,” katanya.

Rasa bersalah karena menitipkan anak cenderung jadi bagian tak terpisahkan dari ibu pekerja. Jika digambarkan, situasi Afifah saat itu semacam: sungguh tak berperasaan meninggalkan anak yang sangat berharga bersama dengan orang asing.

Namun situasi pandemi yang membaik kemudian memaksanya menitipkan anaknya di tempat penitipan anak. Afifah menjalani minggu-minggu pertama dengan rasa sesal luar biasa. Bekerja pun rasanya sulit fokus lantaran selalu teringat anaknya yang menangis saat ditinggal.

Afifah kemudian mengobati rasa bersalahnya dengan memantau kegiatan anak melalui akses kamera pengawas yang diberikan oleh pengelola tempat penitipan anak. Ternyata kegiatan di tempat tersebut diisi dengan berbagai kelas bermain dan belajar sehingga kemampuan sosialisasi sang anak justru berkembang pesat.

“Sekarang justru bersyukur, jadi lebih bisa mengontrol emosi ke anak. Pengasuhnya juga sabar. Saya tidak bisa begitu (sabar) kalau harus mengasuh, bekerja, dan urus domestik,” ujar Afifah.

Memang, orangtua yang kelelahan cenderung melampiaskan emosi kepada anak-anak mereka. “Capek bikin gampang lepas kendali.”

Header Diajeng Bunda Titip Anak di Daycare
Header Diajeng Bunda Titip Anak di Daycare. foto/IStockphto


Namun ketika menitipkan anak di tempat penitipan anak, telinga perlu ditebalkan. Seperti cerita Afifah, akan selalu ada pihak-pihak yang berkomentar negatif, menuduh si ibu lebih pilih bekerja ketimbang melihat perkembangan si anak atau sibuk berkomentar, “Kasihan anaknya.”

Padahal kenyataannya tidaklah demikian. Studi pada 2006 oleh badan milik pemerintah Amerika Serikat, National Institute of Child Health and Human Development, justru membuktikan bahwa anak-anak di tempat penitipan anak memiliki perkembangan kognitif dan bahasa yang lebih baik.

Studi lain di Prancis yang diterbitkan di Journal of Epidemiology and Community Health (2017) juga menyebut anak-anak dengan tempat penitipan anak berkualitas punya perilaku baik dan keterampilan kognitif lebih baik daripada teman sebayanya.

Jadi, kekhawatiran perkara perkembangan anak sudah ada jawaban empirisnya.

Lantas, bagaimana dengan tangki cinta anak yang dianggap akan kosong ketika tak diasuh ibunya?

Lagi-lagi, tak ada alasan untuk merasa bersalah menjadi ibu pekerja yang memiliki anak.

Menurut studi yang diliput oleh Harvard Business Review pada 2018, anak-anak dari ibu pekerja tumbuh sama bahagianya dengan anak-anak yang diasuh ibu rumah tangga.

Studi oleh tim peneliti dari Harvard Bussiness School, Kingston University, dan Worcester Polytechnic Institute yang melibatkan 100 ribu orang di 29 negara tersebut menemukan bahwa anak perempuan dari ibu pekerja cenderung tumbuh menjadi karyawan berkinerja tinggi di tempat kerja. Mereka juga tak serta merta melupakan atau jauh dari orangtuanya.

Ringkasan penelitian juga menyebut bahwa anak laki-laki dari ibu pekerja menghabiskan lebih banyak waktu merawat anggota keluarga mereka.

Jadi, para ibu, buanglah jauh-jauh rasa bersalah dan mulailah kembali melihat ke dalam dirimu.

Nikmati waktu yang tersisih dari menitipkan anak di tempat penitipan anak. Lalu, cobalah kembali hobimu, pergilah berbelanja, bertemu kawan, atau sekadar minum teh dan membaca beberapa buku.

Sebab anak-anak butuh ibu yang bahagia, bukan sempurna.


*Artikel ini pernah tayang di tirto.id dan kini telah diubah sesuai dengan kebutuhan redaksional diajeng.

Baca juga artikel terkait IBU PEKERJA atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Fadrik Aziz Firdausi & Yemima Lintang

DarkLight