Menuju konten utama

BRIN Ajak Lokalisasi Sampah Menuju Hutan Mangrove Muara Angke

BRIN mengajak para pemangku kepentingan untuk melokalisasi sampah dari sungai maupun laut sebelum bermuara di Hutan Mangrove Muara Angke, Jakarta Utara.

BRIN Ajak Lokalisasi Sampah Menuju Hutan Mangrove Muara Angke
Tumpukan sampah di kawasan penanaman Mangrove pinggiran Muara Angke, Jakarta Utara, Jumat (19/1/2018). tirto.id/Arimacs Wilander

tirto.id - Peneliti pencemaran laut Pusat Riset Oseanografi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Reza Cordova mengajak para pemangku kepentingan (stakeholder) untuk bergerak bersama melokalisasi sampah dari sungai maupun laut sebelum bermuara di Hutan Mangrove Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara.

"Kenapa seperti itu? Memang dari hasil penelitian kami menyatakan wilayah Kota Administrasi Jakarta Utara sampah plastik kurang lebih satu ton per harinya yang masuk ke Teluk Jakarta," kata Reza dikutip dari Antara, Rabu (12/7/2023).

Reza mengatakan sampah-sampah itu mesti dicegat sebelum bermuara ke laut. Ia beralasan saat sampai ke laut, sampah itu akan terakumulasi ke pinggir daratan Jakarta yang memiliki banyak hutan bakau.

Pinggir daratan di Muara Angke adalah kawasan terakhir bagi hutan mangrove di Jakarta Utara. Perairan tersebut baik dalam mengikat akar tanaman bakau selama pertumbuhannya.

"Muara Angke ini wilayah mangrove yang memang bisa kita bilang kawasan terakhir mangrove yang ada di Jakarta Utara," kata Reza.

Selanjutnya berdasarkan hasil penelitian BRIN, Reza memperkirakan sampah yang terperangkap di Hutan Mangrove Muara Angke itu bersumber dari wilayah yang tidak jauh. Jaraknya sekitar 10 sampai 30 kilometer.

"Jadi kalau dalam hal ini (tempat sampah bermuara), ada di Kaliadem, kemudian sekitarnya ada Kali Pluit, kemudian sampai Kali Marunda," kata Reza.

Jika kondisi itu didiamkan begitu saja, sampah tidak hanya berbahaya bagi ekosistem mangrove saja, tapi berbahaya juga bagi habitat yang ada di sekitarnya.

"Kita mengetahui bahwa mangrove ini memiliki manfaat yang sangat besar, produktivitas pertaniannya sangat tinggi, tempat ikan memijah atau tempat ikan bermain atau tempat kawasan ikan mendapat nutrisi," kata dia.

Kawasan Hutan Mangrove yang terganggu, salah satunya akibat sampah plastik ini, akan menyebabkan terganggunya keseimbangan dari kawasan ekosistem mangrove.

"Adapun ujungnya nanti akan mengganggu produktivitas dari perikanan," ujarnya.

Reza menjelaskan sampah banyak yang terjebak di Hutan Mangrove Muara Angke karena lokasi itu memiliki karakteristik yang unik.

"Jadi dia memiliki flushing rate yang tinggi. Tapi di depan Muara Angke itu ada pulau buatan. Pulau buatan ini membuat terganggunya flushing rate tersebut," kata dia.

Menurut Reza, sampah yang masuk ke Hutan Mangrove Muara Angke akan terjerat di sana. Ia bilang kemungkinan sampah untuk keluar dari wilayah itu lebih kecil dibandingkan jika di depannya tidak ada pulau.

"Jadi pada kawasan ini memang menyebabkan pada saat pasang atau pada saat air besar dia terperangkap, pada saat ini kan memang musim ini agak sedikit unik ya," ujarnya.

Reza menjelaskan keunikan iklim wilayah Indonesia saat ini juga mendukung sampah untuk kembali ke daratan Jakarta. Walau masuk musim kemarau, tapi hujan hampir muncul setiap pekan di wilayah Jabodetabek.

Ketika hujan, material-material termasuk sampah akan ikut terbawa oleh aliran sungai. Hal ini mengakibatkan sampah terakumulasi di kawasan Muara Angke.

"Sebenarnya tidak hanya pada Muara Angke tapi di wilayah pesisir Jakarta pada umumnya," ujar Reza.

Baca juga artikel terkait HUTAN MANGROVE

tirto.id - Sosial budaya
Sumber: Antara
Editor: Gilang Ramadhan