Menuju konten utama

BPS Umumkan Inflasi Juni 2026 Tembus 3,34% YoY

BPS mencatat inflasi Juni 2026 mencapai 3,34 persen secara tahunan, didorong kenaikan harga pangan, emas perhiasan, dan transportasi.

BPS Umumkan Inflasi Juni 2026 Tembus 3,34% YoY
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, dalam Jumpa Pers Rilis Berita Resmi Statistik, Senin (2/3/2026). Foto/ Doc. BPS
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi tahunan (year-on-year/yoy) pada Juni 2026 mencapai 3,34 persen, meningkat dibandingkan inflasi tahunan Mei 2026 yang sebesar 3,08 persen. Kenaikan tersebut didorong terutama oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau, disusul perawatan pribadi serta jasa lainnya, dan transportasi.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan inflasi tahunan Juni 2026 tercermin dari kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) menjadi 111,89 dari 108,27 pada Juni 2025.

"Inflasi year-on-year pada bulan Juni tahun 2026 terjadi inflasi sebesar 3,34 persen atau terjadi kenaikan indeks harga konsumen IHK dari 108,27 pada kondisi Juni tahun 2025 menjadi 111,89 pada kondisi Juni tahun 2026," kata Ateng dalam konferensi pers, Rabu (1/7/2026).

Ateng menjelaskan, penyumbang terbesar inflasi tahunan berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi 4,67 persen dengan andil 1,36 persen terhadap inflasi umum.

Menurutnya, tekanan harga pada kelompok tersebut terutama berasal dari kenaikan harga ikan segar, beras, minyak goreng, cabai merah, daging ayam ras, cabai rawit, sigaret kretek mesin (SKM), dan bawang merah.

"Kalau kita cermati berdasarkan kelompok pengeluarannya, inflasi tahunan atau year-on-year utamanya didorong oleh tiga kelompok. Yang pertama, kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 4,67 persen. Kelompok ini memberikan andil terhadap inflasi sebesar 1,36 persen," ujar Ateng.

Penyumbang terbesar kedua adalah kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mengalami inflasi 10,10 persen dengan kontribusi 0,69 persen terhadap inflasi tahunan. Kenaikan harga pada kelompok ini terutama dipicu oleh meningkatnya harga emas perhiasan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, kelompok transportasi mencatat inflasi tahunan 4,57 persen dengan andil 0,55 persen. Tekanan inflasi pada kelompok ini berasal dari kenaikan harga bensin, tarif angkutan udara, mobil, sepeda motor, serta pelumas atau oli mesin.

Berdasarkan komponen pembentuk inflasi, inflasi inti tercatat sebesar 2,76 persen dengan andil terbesar mencapai 1,77 persen. Komoditas yang dominan mendorong inflasi inti antara lain emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, telepon seluler, dan biaya akademi atau perguruan tinggi.

Sementara itu, komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) mengalami inflasi 3,42 persen dengan andil 0,66 persen. Inflasi pada komponen ini terutama dipicu oleh kenaikan harga bensin, tarif angkutan udara, sigaret kretek mesin (SKM), dan bahan bakar rumah tangga.

Adapun komponen harga bergejolak (volatile food) mencatat inflasi tahunan sebesar 5,58 persen dengan kontribusi 0,91 persen. Komoditas yang dominan menyumbang inflasi berasal dari beras, cabai merah, daging ayam ras, cabai rawit, dan bawang merah.

Secara wilayah, BPS mencatat Papua Pegunungan menjadi provinsi dengan inflasi tahunan tertinggi sebesar 7,84 persen, sedangkan Sulawesi Barat mencatat inflasi tahunan terendah sebesar 2,29 persen.

Inflasi Bulanan

Sementara itu, secara bulanan (month-to-month/mtm), BPS mencatat inflasi sebesar 0,44 persen, dengan IHK naik dari 111,40 pada Mei 2026 menjadi 111,89 pada Juni 2026. Sementara secara tahun kalender (year-to-date/ytd), inflasi mencapai 1,79 persen.

Untuk inflasi bulanan, Ateng menyebut kelompok transportasi menjadi penyumbang utama dengan inflasi 2,29 persen dan andil 0,28 persen terhadap inflasi Juni 2026.

"Kelompok transportasi ini memberikan andil terhadap inflasi sebesar 0,28 persen. Tiga komoditas yang dominan mendorong inflasi kelompok transportasi yang pertama bensin dengan andilnya 0,21 persen, yang kedua tarif angkutan udara dengan andil inflasi sebesar 0,05 persen, dan yang ketiga pelumas atau oli mesin dengan andil inflasi sebesar 0,01 persen," katanya.

Selain transportasi, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga memberikan andil inflasi bulanan sebesar 0,06 persen, dengan inflasi kelompok sebesar 0,20 persen.

Menurut Ateng, komoditas yang paling besar mendorong inflasi pada kelompok tersebut adalah bawang merah, bawang putih serta beras. "Andilnya bawang merah 0,04 persen.Bawang putih itu memberikan andil inflasisebesar 0,03 persen dan juga beras memberikan andil inflasi sebesar 0,02 persen," tandasnya.

Baca juga artikel terkait LATEST NEWS atau tulisan lainnya dari Hendra Friana

tirto.id - Flash News
Reporter: Putri Az Zahra
Penulis: Hendra Friana
Editor: Hendra Friana