Menuju konten utama

BNPT: Mayoritas Teroris yang Disidangkan Terafiliasi dengan ISIS

Pelaku terorisme kini semakin luas memanfaatkan ruang digital dan media sosial untuk menjalankan aktivitasnya.

BNPT: Mayoritas Teroris yang Disidangkan Terafiliasi dengan ISIS
Pernyataan Pers Akhir Tahun & Perkembangan Tren Terorisme Indonesia 2025, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Jakarta Selasa (30/12/2025) tirto.id/Alfitra

tirto.id - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Pol (Purn) Eddy Hartono, mengungkapkan bahwa dalam tiga tahun terakhir aparat penegak hukum telah menangkap sebanyak 230 orang terkait aktivitas terorisme di Indonesia. Selain itu, sebanyak 362 orang telah menjalani proses persidangan pada periode yang sama, dengan mayoritas merupakan afiliasi atau simpatisan ISIS.

Hal tersebut disampaikan Eddy dalam acara Pernyataan Pers Akhir Tahun & Perkembangan Tren Terorisme Indonesia yang digelar BNPT di Hotel Pullman Jakarta, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (30/12/2025).

“Mayoritas merupakan afiliasi atau simpatisan ISIS dan semuanya laki-laki. Selain itu, terdapat 11 pelaku perempuan selama tiga tahun terakhir,” ujar Eddy.

Eddy juga membeberkan ragam aktivitas terorisme yang terendus, mulai dari penyebaran propaganda, penggalangan dana, hingga menjalin koordinasi dengan komunitas kelompok teroris. Bahkan, menurutnya, para pelaku kini semakin luas memanfaatkan ruang digital dan media sosial untuk menjalankan aktivitas terorisme.

Dia menambahkan, terdapat 137 pelaku aktif yang menyalahgunakan ruang digital untuk kegiatan terorisme. Selain itu, ada 32 pelaku yang terpapar secara online dan bergabung dengan jaringan, serta 17 pelaku yang melakukan aksi terorisme di ruang digital tanpa terlibat langsung dengan jaringan, yang dikenal dengan istilah self-radicalism.

“Nah, ini menunjukkan bahwa risiko penyalahgunaan ruang digital semakin berkembang, baik oleh jaringan terorisme maupun simpatisan terorisme,” ungkap Eddy.

Terkait pendanaan, BNPT mencatat 16 kasus pendanaan terorisme dengan akumulasi dana sebesar Rp5,09 miliar. Selain itu, sasaran radikalisasi saat ini tidak hanya menyasar kelompok muda, tetapi juga anak-anak.

BNPT menyebut sepanjang 2025, dinamika terorisme di Indonesia menunjukkan pergeseran pola, dari ancaman fisik menuju penyebaran ideologi melalui ruang digital. Fenomena ini terlihat dari temuan 21.199 konten bermuatan intoleransi, radikal, dan terorisme (IRT) yang didominasi oleh konten propaganda, pendanaan, dan perekrutan.

Sementara itu, Densus 88 AT Polri di sepanjang 2025 telah melakukan pemeriksaan terhadap 112 anak yang terpapar radikalisasi melalui ruang digital di 26 provinsi. Anak-anak ini teridentifikasi berinteraksi dengan konten radikal terorisme, menghadapi kerentanan psikologis remaja, fenomena “Lone Actor Anak”, hingga perekrutan melalui ruang digital tanpa pertemuan fisik.

Temuan ini diperkuat oleh Kajian Tren Terorisme Indonesia 2023–2025 yang disusun oleh I-KHub BNPT bersama mitra internasional, termasuk Hedayah. Laporan tersebut mencatat bahwa meskipun serangan fisik relatif terkendali, peperangan ideologi justru bergeser ke ruang privat anak-anak melalui platform digital.

Baca juga artikel terkait TERORISME atau tulisan lainnya dari Alfitra Akbar

tirto.id - Flash News
Reporter: Alfitra Akbar
Penulis: Alfitra Akbar
Editor: Fadrik Aziz Firdausi