tirto.id - Lonjakan arus balik Lebaran di Stasiun Pasar Senen tidak hanya menghadirkan kepadatan penumpang, tetapi juga membawa berkah ekonomi bagi para pekerja informal. Salah satunya adalah porter stasiun yang mengalami peningkatan pendapatan signifikan seiring membludaknya jumlah pemilir.
Tercatat sebanyak 18.239 penumpang tiba di Stasiun Pasar Senen pada H+4 Lebaran, Rabu (25/3/2026). Tingginya volume penumpang yang membawa barang dalam jumlah besar, mulai dari kardus oleh-oleh hingga koper berat, membuat jasa porter menjadi sangat dibutuhkan.
Edi Pendi (45), salah satu porter di kawasan stasiun, mengaku pendapatannya meningkat drastis selama periode arus balik dibandingkan hari biasa.
“Kalau hari biasa paling dapat Rp100 ribu sampai Rp150 ribu sehari. Tapi pas Lebaran begini bisa sampai Rp400 ribu sehari,” ujarnya.
Menurut Edi, tingginya permintaan jasa angkut juga dipengaruhi kondisi operasional stasiun. Area parkir yang padat membuat kendaraan hanya bisa melakukan sistem antar-jemput cepat, sehingga penumpang membutuhkan bantuan untuk memindahkan barang dalam waktu singkat.
Kondisi tersebut menjadikan porter sebagai solusi praktis bagi penumpang yang harus segera menuju titik penjemputan tanpa terkendala barang bawaan.
Di sisi lain, layanan porter kini turut terdigitalisasi. PT Kereta Api Indonesia menyediakan pemesanan jasa angkut melalui aplikasi resminya, sehingga penumpang dapat melakukan pemesanan dan pembayaran secara nontunai.
Edi menilai sistem ini membantu pekerja seperti dirinya karena alur kerja menjadi lebih teratur dan transparan.
“Sekarang sudah bisa lewat online, penumpang jadi gampang. Selain itu, kita juga bisa kok transaksi langsung secara tunai, kalau mereka belum tahu bisa pesan lewat aplikasi” katanya.
Lonjakan arus balik yang diprediksi masih berlangsung hingga awal April ini diperkirakan akan terus menjadi momentum peningkatan pendapatan bagi para porter, sekaligus menjaga perputaran ekonomi informal di kawasan Stasiun Pasar Senen tetap hidup.
===========
Hanang Septioyudho berkintribusi dalam tulisan ini.
Penulis: Intern tirto
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id





































