tirto.id - Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai dampak program Makan Bergizi Gratis (MBG) terhadap perekonomian masih relatif terbatas dan bersifat transisional. Karena itu, pemerintah disarankan mempersempit jumlah penerima MBG agar efektivitas fiskal dan dampak produktivitasnya lebih optimal.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurahman, mengatakan perbaikan target cakupan penerima MBG akan menghasilkan dampak produktivitas yang lebih tinggi dan return fiskal yang lebih baik.
“Mengingat manfaat agregat yang relatif terbatas dan distribusional yang tidak sepenuhnya progresif, MBG perlu diprioritaskan pada kelompok usia dan wilayah dengan risiko gizi dan learning loss tertinggi, agar setiap rupiah belanja menghasilkan dampak produktivitas yang lebih tinggi,” tulis Rizal dalam paparan yang ia sampaikan pada Diskusi Publik " Realokasi Anggaran untuk Pembangunan Strategis via Danantara & MBG", Kamis (8/1/2026).
Dari sisi fiskal, INDEF juga mengingatkan pemerintah agar menjaga desain pembiayaan MBG. Rizal menegaskan keberlanjutan fiskal dalam simulasi INDEF hanya terjaga jika MBG didanai melalui realokasi anggaran, bukan ekspansi berbasis utang.
“Karena simulasi menunjukkan keberlanjutan fiskal terjaga hanya di bawah asumsi realokasi, ekspansi MBG berbasis defisit berpotensi melemahkan stabilitas fiskal tanpa imbal hasil makro yang sepadan dalam jangka menengah,” lanjut Rizal.
Simulasi dimaksud dilakukan menggunakan perhitungan model Overlapping Generation Indonesia (OG-IDN). Salah satu hasilnya, realokasi anggaran untuk MBG hanya menyebabkan penurunan kecil terhadap suplai tenaga.
“Kalau tadi saya kira laporan di pemerintahan menyerap cukup besar. Kemudian bagaimana dengan model ini? Memang cenderung menurun kalau di sini,” kata Rizal.
Penurunan suplai tenaga kerja tersebut terjadi di seluruh kelompok pendapatan dan dinilai sebagai cerminan income effect, yakni peningkatan kesejahteraan pekerja melalui pengurangan jam kerja tanpa menurunkan utilitas pekerja. Meski begitu, INDEF menilai realokasi anggaran MBG tidak menunjukkan adanya disinsentif kerja yang bersifat struktural.
“Itu terbukti tadi menyerap jumlah tenaga kerja, tetapi meningkatkan efisiensi melalui perbaikan kualitas modal manusia,” tutur Rizal.
Namun, manfaat MBG belum tercermin dalam kenaikan upah riil. Rizal menyebut dampak program tersebut lebih terlihat pada peningkatan kesejahteraan aktualisasi dan konsumsi pekerja.
“Manfaat MBG tidak terefleksi melalui kenaikan upah riil, melainkan melalui peningkatan kesejahteraan aktualisasi dan konsumsi, sehingga efisiensi produktivitas tenaga kerjanya juga naik,” ucap dia.
Kebijakan Jangka Panjang
INDEF juga menyarankan agar MBG diposisikan sebagai kebijakan struktural jangka panjang, bukan sekadar instrumen pertumbuhan cepat. Sebab, evaluasi kebijakan yang dilakukan saat ini tidak tepat jika hanya menggunakan indikator jangka pendek seperti pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) dan kenaikan upah.
Karena itu, INDEF turut menekankan pentingnya evaluasi kebijakan berbasis outcome dan kohort penerima, bukan sekadar serapan anggaran. Dampak MBG, menurut INDEF, baru akan terlihat ketika penerima manfaat memasuki usia produktif.
“Dampak MBG baru muncul ketika kohort penerima memasuki usia produktif, sehingga evaluasi kebijakan harus bergeser dari indikator input dan output jangka pendek menuju indikator outcome jangka panjang seperti capaian pendidikan, kesehatan, dan produktivitas tenaga kerja,” tambahnya.
Selain itu, integrasi MBG dengan kebijakan pendidikan dan pasar kerja juga perlu untuk lebih didorong. Tanpa kebijakan lanjutan, peningkatan produktivitas akibat perbaikan gizi dikhawatirkan tidak akan tertranslasi menjadi kenaikan upah dan output yang bersifat permanen.
“Tanpa kebijakan lanjutan, peningkatan produktivitas akibat MBG berisiko tidak tertranslasi menjadi kenaikan upah dan output permanen. Diperlukan integrasi dengan peningkatan kualitas pendidikan menengah-vokasi dan kebijakan peningkatan keterampilan agar efek modal manusia terealisasi penuh,” lanjutnya.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id






































