Benarkah Risiko Kecelakaan Penerbangan Murah Lebih Besar?

Oleh: Faisal Irfani - 30 Oktober 2018
Dibaca Normal 4 menit
Kesalahan manusia, teknis, hingga kondisi alam adalah beberapa faktor penyebab kecelakaan pesawat. Kesalahan manusia menempati urutan teratas.
tirto.id - Layanan penerbangan berbiaya murah atau (low cost carrier/LCC) punya stereotip miring bagi sebagian orang. Persoalan keterlambatan hingga risiko keselamatan terbang jadi momok. Benarkah penerbangan murah punya korelasi dengan mutu keselamatan penerbangan?

Mari kita mulai dari fakta kasus pesawat jatuh beberapa tahun terakhir di Indonesia yang melibatkan maskapai penerbangan LCC, seperti Adam Air pada 2007, AirAsia pada akhir 2014, hingga kasus terbaru yakni jatuhnya Lion Air JT610.

Ditjen Perhubungan Udara menyebutkan, pesawat dengan nomor registrasi PK-LQP dilaporkan terakhir tertangkap radar pada koordinat 05 46.15 S - 107 07.16 E. Pesawat ini berangkat pada pukul 06.10 WIB dan dijadwalkan tiba di Pangkalpinang pada pukul 07.10 WIB. Pesawat sempat meminta return to base ("kembali ke pangkalan udara") sebelum akhirnya hilang dari radar.

Dari siaran pers yang diterbitkan oleh Bagian Kerja Sama dan Humas Direktorat Jendral Perhubungan Udara, diketahui pesawat Lion Air membawa 181 penumpang (179 dewasa, 1 anak-anak, dan 2 bayi) dan 7 awak pesawat (2 pilot dan 5 FA).


Murah Meriah

Isu keselamatan penumpang kerap dibicarakan terkait kemunculan penerbangan murah LCC. Lion Air selama ini dikenal sebagai maskapai yang getol menjual tiket murah.

Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) menyebutkan, keberadaan maskapai-maskapai yang menyediakan jasa penerbangan murah telah berperan penting mendongkrak pertumbuhan penumpang yang luar biasa pesat.

Pada 2015, jaringan penerbangan murah mengangkut 984 juta penumpang—setara dengan 28 persen—dari jumlah total penumpang yang diangkut waktu itu sebanyak 3,5 miliar. Jumlah ini meningkat 10 persen dibanding tahun sebelumnya. Salah satu maskapai melejit lewat LCC ialah Southwest Airlines Co. yang berpusat di Dallas, Texas.

Masih menurut ICAO, ada tiga resep yang membikin LCC populer. Pertama, pertumbuhan LCC sejalan dengan liberalisasi pasar. Kedua, LCC mampu menangkap kebutuhan penumpang dan menawarkan produk yang sesuai (harga murah, layanan prima). Ketiga, saat industri kedirgantaraan diributkan dengan lonjakan avtur hingga serangan teroris, LCC tetap memegang teguh prinsip kerjanya: memotong biaya bagi konsumen dan memaksimalkan efisiensi penerbangan.


Dilansir dari artikel Deutsche Welle berjudul “Penerbangan Murah di Indonesia” (2007), maraknya penerbangan bertarif murah di Indonesia dimulai sejak dibukanya deregulasi penerbangan niaga oleh pemerintah pada 2001. Kebijakan tersebut memungkinkan maskapai-maskapai untuk menjalankan bisnis penerbangan kendati hanya punya satu pesawat dan modalnya pas-pasan. Situasi ini makin menguntungkan maskapai tatkala aturan mengenai batas tarif bawah dinihilkan.

Walhasil, harga tiket semakin murah dan nama-nama baru di jagat industri penerbangan pun muncul, misalnya Lion Air, Adam Air, AirAsia, Citilink, Jatayu, Kartika Airlines, Sriwijaya, Indonesia Airlines, Star Air, dan Batavia Air.

Berbagai strategi ditempuh untuk memenuhi target. Masih mengutip laporan Deutsche Welle, Adam Air, misalnya, mematok harga rendah untuk trayek penerbangan yang kurang diminati penumpang dan menjual tiket lebih mahal untuk rute yang ramai. Kebijakan ini dilakukan dalam rangka subsidi silang agar harga tiket bisa ditekan. Selain itu, Adam Air juga mengoperasikan pesawat keluaran baru untuk menghemat bahan bakar.

Hal yang sama dilakukan oleh Lion Air. Demi menggaet banyak penumpang, Lion Air menggunting biaya operasional pegawai serta layanan jasa penumpang dan menerapkan sistem penjualan tiket secara daring.

Hasilnya, penerbangan murah mulai diminati banyak orang. Data menunjukkan terdapat lonjakan jumlah penumpang yang cukup drastis dalam lima tahun sejak deregulasi berlaku. Pada 2002, pertumbuhan penumpang berada di kisaran angka 12,3 juta. Dua tahun berikutnya, jumlah penumpang meningkat dua kali lipat hingga 24 juta. Tren itu, terang Deutsche Welle, “terus bertambah di tahun-tahun terakhir.”

Faktor Manusia?

Namun, lonjakan penumpang penerbangan murah dibarengi dengan anggapan bahwa tingkat keamanan penerbangan murah sangat rendah dan kerap mengalami kecelakaan.

Pada 2007, pesawat Adam Air jurusan Jakarta-Surabaya-Manado jatuh di perairan Majene, Sulawesi Barat. Sebagaimana diwartakan Kompas (25/03/2018), Adam Air diduga jatuh karena rusaknya alat navigasi pesawat (Internal Reference System/IRS).

Kerusakan IRS membuat fokus pilot terpecah dan luput memperhatikan instrumen yang lain sehingga membikin posisi pesawat miring sebelum akhirnya menabrak laut. Seluruh penumpang dan awak yang berjumlah 102 orang hilang.

Pada 2014, publik Indonesia kembali digegerkan oleh kabar kecelakaan pesawat. Kali ini, yang jatuh adalah pesawat AirAsia dengan rute Surabaya-Singapura. Setelah kehilangan kontak sekitar 40 menit usai lepas landas, Pesawat Airbus A320-200 yang membawa 162 penumpang ini dinyatakan hilang dan jatuh di Laut Jawa.

Rentetan kecelakaan yang melibatkan pesawat LCC membuat Menteri Perhubungan Ignasius Jonan kala itu mengeluarkan kebijakan sarat kontroversi: tidak akan ada lagi tiket pesawat berharga miring. Jonan menyatakan, per Desember 2014, tiket pesawat dengan tarif di bawah Rp500 ribu ditiadakan. Atau dengan kata lain, batas bawah harga tiket pesawat kelas ekonomi naik menjadi minimal 40 persen dari yang sebelumnya 30 persen.


Alasan Jonan menaikkan batas tarif bawah yakni membantu meningkatkan margin keuntungan para maskapai penerbangan sehingga bisa lebih mengutamakan keselamatan. Bagi pemerintah, keselamatan tak akan terjamin apabila harga tiket pesawat masih murah.

“Kami ingin sektor penerbangan sehat, bukan murah. Jika murah, mungkin ada banyak hal yang tidak dilakukan,” terang Jonan, mengutip BBC Indonesia.

Keputusan sepihak pemerintah tentu ditentang pihak maskapai LCC. Senior Manager Corporate Communications Sriwijaya Air saat itu, Agus Soedjono, misalnya, bersikeras bahwa keselamatan dan harga murah tak berhubungan. Ia menegaskan bahwa maskapai “tak mungkin mengorbankan keselamatan karena harga murah.” Keselamatan penumpang, tegas Agus, "hal yang tidak bisa ditoleransi."

Laporan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) berjudul “Data Investigasi Kecelakaan Penerbangan Tahun 2010-2016” (PDF) menjelaskan, faktor penyebab kecelakaan pesawat di Indonesia antara lain padatnya jalur penerbangan di Jawa (rute penerbangan Jakarta-Bali memiliki 170 lalu lintas per hari) sampai perawatan infrastruktur yang belum optimal (perawatan airstrip atau landasan pacu) sehingga memicu pesawat tergelincir saat melakukan pendaratan.

Berdasarkan investigasi KNKT, kecelakaan pesawat rupanya lebih banyak disebabkan oleh faktor manusia (human error). Kesimpulan ini didasarkan pada penelitian yang dilakukan sejak 2010 sampai 2016. Faktor manusia menempati posisi pertama (67,12 persen) penyebab kecelakaan. Berturut-turut setelahnya adalah faktor teknis (15,75 persen), lingkungan (12,33 persen), dan fasilitas atau infrastruktur (4,79 persen). Data KNKT ini tak mengagetkan, mengingat statistik secara global saat itu pun menunjukkan pola yang tak jauh berbeda.

Soal faktor manusia ini juga menjadi penyebab kecelakaan pesawat Lion bertipe Air Boeing 737-800 di Bali pada April 2013. Dilansir Detik, saat itu, pesawat Lion Air terpaksa mendarat di perairan Bali. Laporan KNKT menyebutkan pilot Lion Air gagal melihat secara akurat apa yang terjadi di depan mata sehingga pesawat terpaksa mendarat di perairan Bali. Beruntung, tak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.


Infografik Penerbangan murah



Menurut laporan yang sama, KNKT menjelaskan, selama 2016 terdapat 26 insiden serius dan 15 kecelakaan atau setara 20 persen peristiwa kecelakaan dan insiden selama tujuh tahun yang totalnya berjumlah 212 kejadian. Sepanjang 2010-2016, insiden serius lebih banyak terjadi dengan torehan 130 kejadian dan 82 kecelakaan. Namun, ada tren kenaikan kecelakaan penerbangan sejak 2014, dari 7 menjadi 11 kecelakaan pada 2015.

Rekor kecelakaan dan insiden penerbangan pada 2016 berbanding lurus dengan jumlah korban. Korban luka-luka kecelakaan dan insiden penerbangan waktu itu mencapai 57 orang atau yang tertinggi sejak 2010. Sedangkan rekor korban jiwa terbanyak terjadi pada 2014 mencapai 169 jiwa saat terjadi kecelakaan AirAsia di Laut Jawa. Pulau Jawa dan Papua masih menduduki peringkat teratas sebagai lokasi insiden dan kecelakaan. Sejak 2010, tercatat 20 kecelakaan dan 45 insiden serius di Pulau Jawa.

Data KNKT juga memperlihatkan peningkatan rate of accident atau jumlah kecelakaan yang dibagi jumlah produksi jam terbang. Pada 2015, rate-nya mencapai 0,90. Padahal, tiga tahun sebelumnya masih 0,69. Angka ini memang masih lebih baik dibanding 2011 yang sempat menyentuh 2,51. Kenaikan rate kecelakaan tersebut berbanding lurus dengan jumlah produksi jam terbang dan total penumpang yang naik setiap tahunnya.

Sejauh ini belum ada riset yang bisa membuktikan hubungan antara murahnya harga tiket dan tingkat keselamatan penerbangan. Namun, terlepas dari hal itu, adalah tugas pihak manajemen maskapai untuk memastikan kondisi pesawat, kualitas dan kesiapan kru, serta situasi alam demi meminimalisir kemungkinan kecelakaan. Lebih-lebih, maskapai penerbangan murah selalu mengklaim bahwa harga tak mengurangi kualitas keselamatan penerbangan.

Baca juga artikel terkait LION AIR JATUH atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Faisal Irfani
Editor: Windu Jusuf