Menuju konten utama

BCA Sebut Dampak Tarif AS ke Kredit Manufaktur Masih Kecil

Kendati dampaknya masih minim, pihaknya masih akan melihat dan menunggu (wait and see) dampak apa yang sekiranya akan ditumbulkan kebijakan tarif AS.

BCA Sebut Dampak Tarif AS ke Kredit Manufaktur Masih Kecil
Pekerja membersihkan menara BCA di Jakarta, Selasa (12/3/2019). Bank Indonesia menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2019 akan berada di kisaran 5-5,4 persen. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/foc.

tirto.id - Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, menyebut tarif resiprokal yang ditetapkan Amerika Serikat (AS) ke negara-negara mitra dagangnya, termasuk Indonesia, masih berdampak kecil. Khususnya bagi nasabah-nasabah BCA yang beroperientasi ekspor ke AS.

"Mengenai tarif resiprokal dari Amerika, so far dampaknya ke kredit manufacturing, kita lihat minimal, ya," jelas Hendra, dalam konferensi pers secara daring, Rabu (30/7/2025).

Kendati dampaknya masih minim, pihaknya masih akan melihat dan menunggu (wait and see) dampak apa yang sekiranya akan ditumbulkan kebijakan tarif AS ini kepada penyaluran kredit di sektor manufaktur Indonesia.

"Tapi kita lihat, kita tunggu. Bulan Agustus ini sangat kritikal. Kebanyakan negosiasi final di bulan Agustus, kecuali Cina, ya. Jadi bukan diundurin. Nanti kita lihat lagi. Tapi, so far impact-nya cukup minimal," jelas Hendra.

Dia pun optimis, ke depan dampak dari kebijakan tarif Trump ini tetap akan kecil, mengingat banyak pesaing Indonesia di sektor manufaktur yang dipukul dengan tarif resiprokal lebih tinggi.

Hendra juga tidak memungkiri kebijakan tarif Trump juga menjadi salah satu tantangan dari global yang akan diantisipasi BCA di paruh kedua 2025.

"Tentu kita lihat tahun ini mengenai global issue itu banyak sekali. Terutama dari US, kita juga semua lagi menunggu bagaimana mengenai tarif US dengan negara-negara lain, maupun dengan spesifik dengan Indonesia," sambung Hendra.

Karena itu, bank dengan kode saham BBCA itu akan melihat apa saja hal yang bisa dilakukan sehingga dapat membantu nasabah Perseroan dalam menghadapi tantangan dari tarif resiprokal ini. Dus, khususnya untuk nasabah yang berorientasi ekspor bisa tetap menjalankan bisnisnya tanpa hambatan.

"Nah, belakangan ini saya sering ketemu banyak nasabah-nasabah BCA yang juga melakukan impor dan ekspor. Nah, ini memang kita akan mengamati perkembangan ini dengan seksama dan kita akan lihat apa yang kita bisa bantu untuk membantu nasabah-nasabah kita terus mengembangkan bisnisnya di dalam era global dengan US yang mengenakan tarif," papar dia.

Sementara itu, di tengah gejolak ekonomi dunia yang salah satunya disulut oleh kebijakan tarif AS, BCA berhasil mencatat pertumbuhan penyaluran kredit sebesar 12,9 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp959 triliun sampai akhir Juni 2025. Pertumbuhan tersebut didukung penyaluran kredit di berbagai segmen, khususnya kredit korporasi yang pada semester I 2025 tumbuh 16,1 persen (yoy) mencapai Rp451,8 triliun.

“Pertumbuhan kredit BCA positif di berbagai segmen, mulai dari korporasi, UMKM, serta konsumer,” ujar Hendra.

Selanjutnya, kredit Perseroan yang paling banyak disalurkan adalah kredit komersial yang mengalami kenaikan 12,6 persen (yoy) menjadi Rp143,6 triliun dan kredit UKM meningkat 11,1 persen (yoy) menjadi Rp127 triliun. Di sisi lain, Kredit Pemilikan Rumah (KPR) tumbuh hingga 8,4 persen (yoy) menjadi Rp137,6 triliun, dan kredit kendaraan bermotor (KKB) naik 5,2 persen (yoy) mencapai Rp65,4 triliun.

“Total pertumbuhan kredit konsumer mencapai 7,6 persen (yoy) hingga Rp226,4 triliun,” lanjut Hendra.

Sementara itu, outstanding pinjaman konsumer lainnya yang sebagian besar berasal dari transaksi kartu kredit tumbuh 9,4 persen (yoy) mencapai Rp23,4 triliun. Pada saat yang sama, penyaluran kredit ke sektor-sektor berkelanjutan naik 21,1 persen (yoy) menyentuh Rp239,7 triliun per Juni 2025, setara 24,9 persen dari total portofolio pembiayaan.

Baca juga artikel terkait BCA atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dwi Aditya Putra