2 Oktober 2009

Batik: Warisan Budaya Takbenda yang Kerap Dijadikan Politik Budaya

Oleh: Tyson Tirta - 2 Oktober 2021
Dibaca Normal 3 menit
Batik telah hadir di Indonesia sejak zaman prakolonial. Kiwari batik kerap dijadikan sebagai politik budaya.
tirto.id - Pada 2 Oktober 2009, tepat hari ini 12 tahun lalu, UNESCO secara resmi mencatat batik sebagai Intangible Cultural Heritage (ICH) atau Warisan Budaya Takbenda pada sidang ke-4 Komite Antar Pemerintah di Abu Dhabi. Dalam situs resminya, badan PBB yang membidangi pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan itu menyebutkan bahwa batik adalah teknik, simbol, dan budaya pada pakaian berbahan katun dan sutra yang diwarnai dengan tangan.

Lebih jauh disebutkan bahwa batik digunakan oleh orang-orang Indonesia dari lahir sampai mati: bayi digendong dengan kain batik, jenazah dibungkus dengan kain batik. Di antara kelahiran dan kematian itu, batik juga digunakan di berbagai kesempatan dalam keseharian.

Keragaman motif batik juga mencerminkan berbagai pengaruh budaya dalam sejarah. Sejak zaman kerajaan Hindu-Buddha, masyarakat Jawa sudah akrab dengan penggunaan kain batik. Islam yang datang belakangan juga memberikan pengaruh pada batik. Kemudian ada kaligrafi Arab, motif bunga-bunga Eropa, burung yang indah dari Cina, bunga sakura dari jepang, hingga burung merak India atau Persia.

Hal ini lahir dari aktivitas perdagangan yang telah begitu aktif di zaman pra-kolonial. Salah satu tonggak penting perkembangan batik era itu adalah masuknya Islam ke Pulau Jawa. Meski komunitas perdagangan Muslim telah ada di kepulauan Nusantara sejak abad ke-12, namun konversi orang-orang Jawa ke agama Islam lebih banyak didorong oleh para pedagang Muslim dari Malaka dan Sumatra. Dua wilayah ini merupakan tempat pertemuan dagang antara para perantau Cina dari timur dan Arab-India dari sebelah barat.

Pada masa itu, secara komersial para pedagang Muslim merupakan kelompok pedagang sukses dengan jaringan yang luas dari Asia, Eropa, hingga Afrika. Jika orang-orang Jawa hendak mengambil keuntungan ekonomi, maka mereka perlu membuka diri pada kebudayaan Islam yang baru datang. Di sisi lain, status sederajat bagi tiap penganut yang ditawarkan Islam menjadi solusi yang membebaskan masyarakat dari sistem kasta yang telah lebih dulu berlaku di masa Hindu.

Para pemimpin Muslim pun mulai menggunakan batik sebagai media ekspresi sosial budaya. Selain perluasan pasar dan jaringan distribusi, larangan menggunakan motif bergambar manusia menjadi penentu penting dalam perkembangan motif batik di pulau Jawa. Di masa inilah kaligrafi Arab mulai masuk menjadi dasar motif batik.

Selain para pedagang Muslim, para saudagar Cina yang datang ke Jawa juga ikut memberikan pengaruh besar dalam perkembangan sejarah batik. Pengaruh ini tak lepas dari komoditas sutra beraneka warna dan porselen yang dibawa oleh para pedagang Cina. Dari sini mulailah bermunculan motif singa atau bunga-bunga khas Asia Timur.


Raffles "Menemukan" Batik

Batik telah lama menjadi kain resmi keraton. Belakangan tradisi dalam keraton itu menarik perhatian pemerintah kolonial. Perkembangan batik di luar keraton tidak dapat dipisahkan dari perkembangan masyarakat Jawa pada abad ke-19. Ketika Inggris menguasai Jawa, Stamford Raffles menemukan berbagai kekayaan alam dan budaya. Karya monumental Raffles, History of Java, adalah salah satu karya pertama yang mendeskripsikan batik dengan cukup lengkap. Kemungkinan besar, karya itu juga menjadi studi sistematis pertama tentang batik.

Lebih jauh, Raffles menulis bahwa ada ratusan pola batik yang bisa diidentifikasi. Selain menjelaskan dengan cukup detail tentang pembuatan batik, ilustrasi dalam buku itu juga menggambarkan berbagai cara mengenakannya. Dalam perkembangannya, ratusan motif batik semakin kaya terutama yang dihasilkan di daerah-daerah pesisir Pantai Utara dengan tradisi kosmopolitan yang tumbuh subur.

“Raffles bisa jadi menemukan ratusan jenis desain ataupun pola dan motif seperti catatannya, akan tetapi satu abad kemudian, G. P. Rouffaer, peneliti batik, menemukan bahwa motifnya telah ada ribuan,” kata Inger McCabe Elliott dalam Batik: Fabled Cloth of Java (2004:38).

Setelah Inggris menyerahkan kembali pendudukan atas Jawa kepada Belanda pada 1815, jumlah penduduk Jawa meningkat drastis. Hingga 1860 jumlah penduduk telah mencapai dua kali lipat. Pada 1900 terdapat peningkatan signifikan lagi. Di sisi lain, statistik jumlah orang Belanda yang datang ke Jawa juga semakin menanjak. Pada 1873, Van Rijekevorsel, orang Belanda yang sempat datang untuk berdagang, membawa pulang kain batik yang ia dapatkan di Jawa. Di negeri Belanda, potongan batik itu ia sumbangkan ke Museum Etnik di Rotterdam.

Peningkatan jumlah populasi besar-besaran ini sontak memperbanyak jumlah tenaga kerja di Jawa. Proyek-proyek besar seperti pembangunan jalan raya dan jalan kereta semakin cepat terselesaikan. Bagi perkembangan batik, imbasnya cukup positif; kapas dan kain mendapatkan jalur distribusi yang lebih luas.

Infografik Mozaik BATIK JADI WARISAN DUNIA
Infografik Mozaik batik jadi warisan dunia. tirto.id/Gery



Zaman Jepang dan Orde Baru

Pada tahun-tahun berikutnya, pemerintah pendudukan Jepang banyak menutup permanen pabrik Belanda di Jawa. Katun dan barang-barang tekstil dari Belanda juga berhenti datang. Namun, masa pendudukan Jepang memberi pengaruh yang unik pada batik dengan dikembangkannya Hokokai, cikal bakal jenis batik yang dikenal dengan nama Djawa Hokokai. Batik jenis ini dikenal dengan ciri khas motif yang sangat rumit dan warna yang sangat kaya. Ada motif bunga sakura dan kesan cerah yang sangat khas mewarnai motif ini. Konon, para pembatik zaman itu meluangkan waktu yang begitu lama untuk memproduksi satu kain.

Di era modern, salah satu faktor yang menarik perhatian dunia internasional pada kain batik adalah penampilan Presiden Soeharto pada sidang PBB. Kala itu, Soeharto tidak mengenakan setelan jas lengkap seperti para pemimpin negara lain, tetapi justru memadukan setelan batik dengan celana bahan hitam. Selain itu, Soeharto juga kerap menghadiahi para tamu negara dengan buah tangan berupa setelan batik. Salah satu tamu negara yang paling terkenal mengenakan setelan batik adalah Presiden AS Ronald Reagan dan Nancy, istrinya.


Acara lain yang menarik perhatian dunia pada batik adalah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) APEC II (Asia-Pacific Economic Cooperation) yang digelar di Bogor pada 1994. Kala itu, Presiden AS Bill Clinton dan para kepala negara lain memakai pakaian batik tulis yang khusus dibuat dengan corak yang melambangkan simbol negara masing-masing. Sejak gelaran KTT di Bogor itu, tiap kali KTT APEC digelar, para pemimpin negara-negara tamu mengenakan busana nasional negara tuan rumah.

Di dalam negeri, pencatatan batik sebagai warisan budaya oleh UNESCO disusul dengan diterbitkannya Keppres No 33 tahun 2009 yang menetapkan Hari Batik Nasional. Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap upaya perlindungan dan pengembangan batik Indonesia. Sepuluh tahun kemudian, Hadi Prabowo, Sekretaris Jenderal Menteri Dalam Negeri, menandatangani Surat Edaran Nomor 003.3/10132/SJ tentang Pemakaian Baju Batik dalam Rangka Hari Batik Nasional 2019.

Baca juga artikel terkait HARI BATIK NASIONAL 2021 atau tulisan menarik lainnya Tyson Tirta
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Tyson Tirta
Editor: Irfan Teguh
DarkLight