Barisan Jenderal di Balik Induk Olahraga

Ketua Umum PB Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (FORKI) Gatot Nurmantyo (depan) berfoto bersama Karateka Indonesia peraih medali emas Rifki Ardiansyah Arrosyiid (tengah), pada final karate putra 60kg Asian Games 2018 di JCC-Plenary Hall Senayan, Jakarta, Sabtu (25/8/2018). ANTARA FOTO/INASGOC/Syaiful Arif
Oleh: Petrik Matanasi - 4 September 2018
Dibaca Normal 2 menit
Jenderal-jenderal yang menjadi ketua umum persatuan olahraga sudah jadi hal biasa di Indonesia.
tirto.id - Sambudjo Hurip (1914-1942), penerbang pesawat B-10 yang gugur di Malaya, adalah mantan juara tenis. Ia main tenis sebelum direkrut dinas penerbangan KNIL, tentara Hindia Belanda. “Sambudjo 5 tahun berturut-turut menguasai dunia tennis Indonesia,” tulis A.A. Katili dalam Dunia tennis dan bintang-bintangnja (1955: 90).

Di zaman Indonesia merdeka, E.W.A. Pangalila adalah atlet lari gawang 400 meter di PON 1953, sebelum akhirnya dia masuk KKO. Militer memang dekat dengan olahraga.

Olahraga adalah jalan kebugaran, sudah pasti tentara ingin selalu bugar. Banyak tentara, bahkan yang masih berpangkat jenderal, suka olahraga.

Sedari muda Jenderal Abdul Haris Nasution suka main tenis. Di situ pula dia bertemu jodohnya. Kawan Nasution sesama perwira, Alex Kawilarang, adalah atlet anggar dan pernah juara di Jawa Barat. Anggar kebetulan menjadi olahraga perwira militer zaman kolonial, di mana Kawilarang dan Nasution pernah berdinas.

Sebelum Presiden Sukarno lengser, penikmat sepakbola Indonesia mengenal Maulwi Saelan. Bekas gerilyawan Sulawesi Selatan yang berdinas di Corps Polisi Militer (CPM) ini adalah kiper merangkap kapten dalam tim nasional Indonesia. Timnya pernah menahan imbang Uni Soviet 0-0 di Olimpiade Melbourne 1956. Setelah jadi ajudan Sukarno dalam Resimen Pengawal Cakrabirawa, Maulwi Saelan menjadi Ketua Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), dari 1964 hingga 1967.

Jauh sebelum Nurdin Halid masuk penjara, Maulwi Saelan adalah Ketua Umum PSSI yang masuk penjara. Bedanya jelas sekali: Nurdin karena kasus korupsi, Maulwi karena masalah politis dan bukan kriminal. Maulwi Saelan hanya orang yang kena sial di masa G30S 1965.

Setelah Maulwi, banyak jenderal yang kemudian menduduki posisi Ketua Umum PSSI. Setidaknya, Ketua Umum PSSI saat ini adalah Letnan Jenderal Edy Rahmayadi, mantan Panglima Kostrad.


Karena Dianggap Lebih Disiplin

Jenderal dan olahraga akhirnya jadi terkait. Para jenderal tentu dianggap punya pengaruh dan kedisiplinan. Banyak orang Indonesia yang percaya, kaum militer punya kedisiplinan lebih baik ketimbang sipil. Tak heran, dalam organisasi cabang olahraga biasanya ada jenderal yang bercokol di jajaran pengurus. Lazimnya para jenderal itu sudah pensiun ketika menjadi ketua persatuan olahraga. Tapi di PSSI, jenderal-jenderal aktif kadang juga ikut mencalonkan diri sebagai ketua umum.

Di organ nasional karate, Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (FORKI), juga ada jenderal. Kebetulan karate juga salah satu olahraga yang dipelajari tentara. Saat ini, Ketua Forki adalah Jenderal Gatot Nurmantyo, mantan Panglima TNI. Sebelum Gatot, ada Mayor Jenderal Hendardji Soepandji, mantan Komandan Pusat Polisi Militer. Sebelumnya lagi ada Jenderal Luhut Binsar Pandjaitan, Jenderal Wiranto, dan Jenderal Rudini.

Di arena taekwondo Indonesia, ada mantan Kepala BIN, Letnan Jenderal Marciano Norman, selaku Ketua Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI). Selain Norman, Mayor Jenderal Soeharto, bekas Komandan Jenderal Korps Marinir TNI-AL, juga pernah jadi Ketua PBTI.

Nama Wiranto saat ini hanya dikenal sebagai politisi Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) dan Menkopolhukam. Namun, posisinya sebagai Ketua Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) serta prestasi Indonesia dalam kejuaraan bulu tangkis tentu membuatnya sering disebut-sebut media. Begitu juga Prabowo Subianto yang menjadi Ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI). Orang tentu akan berpikir jika kemenangan-kemenangan itu adalah berkat jasa mereka.




Di cabang olahraga air, Laksamana Soedomo pernah jadi Ketua Persatuan Olahraga Perairan Indonesia (Peropi). Seorang jenderal angkatan laut memang cocok memimpin olahraga air. Tapi tak semua organisasi olahraga air selalu dipimpin jenderal angkatan laut. Brigadir Jenderal Soepartono Brotosoehendro dari Angkatan Darat juga pernah menjadi ketua Persatuan Olahraga Layar Seluruh Indonesia (Porlasi). Letnan Jenderal Josef Muskita, juga dari Angkatan Darat, pernah menjadi pelatih bahkan atlet layar olimpiade.

Di olahraga menembak saat ini, memang bukan jenderal yang jadi ketua umumnya. Menurut situs resmi Persatuan Menembak dan Berburu Indonesia (Perbakin), ketua umumnya adalah Bambang Trihatmodjo dan wakilnya Japto Soerjosoemarno. Keduanya bukan tentara, melainkan anak jenderal. Di antara jajaran Badan Penasihat terdapat nama Jenderal Ryamizard Ryacudu, menteri pertahanan saat ini, dan Komisaris Jenderal Polisi Jusuf Manggabarani. Pelindung organisasi di antaranya Menteri Pertahanan, Panglima ABRI, dan Kepala Kepolisian Republik Indonesia.

Dalam olahraga berkuda, Marciano Norman juga aktif bergiat di organisasi induknya, Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi), meski bukan sebagai ketua umum. Ini tentu terkait dengan ranch berkuda yang dimilikinya dan masa lalunya sebagai perwira kavaleri Angkatan Darat, satuan militer yang memberdayakan kuda.

Tak hanya ketua persatuan olahraga, organisasi induk dari cabang-cabang olahraga di Indonesia, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), nyaris selalu dipimpin jenderal. Jenderal yang pernah menjadi Ketua Umum KONI antara lain Wismoyo Arismunandar, Agum Gumelar, dan saat ini ada Tono Suratman.

Baca juga artikel terkait SEJARAH MILITER atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight