Menuju konten utama

Bantargebang Penyumbang Emisi Metana Terbesar Kedua di Dunia

TPST Bantargebang jadi penyumbang metana terbesar kedua di dunia. TPST tercatat memiliki tingkat kebocoran metana dalam kategori ekstrem.

Bantargebang Penyumbang Emisi Metana Terbesar Kedua di Dunia
Foto udara sejumlah operator menggunakan alat berat melakukan pencarian korban longsor gunungan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, Senin (9/3/2026). Berdasarkan data sementara dari Basarnas DKI Jakarta pada Senin (9/3) pagi, sebanyak 13 orang menjadi korban dalam peristiwa tersebut empat orang meninggal dunia, empat orang selamat, dan lima masih dalam proses pencarian. ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/tom.

tirto.id - Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang di Bekasi, Jawa Barat, menjadi sorotan global setelah dinobatkan sebagai penyumbang emisi gas metana terbesar kedua di dunia dari sektor pengelolaan limbah.

Temuan ini mempertegas persoalan kronis tata kelola sampah di wilayah metropolitan Jakarta yang selama ini bergantung pada satu lokasi pembuangan akhir.

Predikat tersebut muncul dalam laporan “Spotlight on the Top 25 Methane Plumes in 2025: Landfills” yang dirilis UCLA School of Law pada 20 April 2026.

Laporan ini merangkum 25 lokasi tempat pembuangan sampah dengan tingkat emisi metana tertinggi di dunia sepanjang periode 1 Januari hingga 31 Desember 2025.

Berdasarkan riset yang memanfaatkan data satelit, TPST Bantargebang tercatat memiliki tingkat kebocoran metana dalam kategori ekstrem, bahkan disebut sebagai yang terburuk di kawasan Asia.

Metana sendiri merupakan gas rumah kaca yang memiliki dampak pemanasan global jauh lebih kuat dibanding karbon dioksida (CO2) dalam jangka pendek.

Dalam laporan tersebut, secara spesifik mencantumkan bahwa area yang dilayani oleh TPST Bantargebang adalah Jakarta, dengan Pemerintah Jakarta sebagai pihak yang bertanggung jawab.

Data ini diperoleh melalui platform Carbon Mapper yang menggabungkan observasi satelit Tanager-1 milik Planet Labs serta instrumen EMIT milik NASA. Laju emisi di TPST Bantargebang tercatat mencapai rata-rata 6.300 kilogram atau setara 6,3 ton metana per jam.

Kemudian, tingkat persistensi mencapai 100 persen yang berarti emisi selalu terdeteksi setiap kali satelit melintas di lokasi tersebut. Selain itu, teridentifikasi sebanyak 35 gumpalan gas metana berskala besar dengan keseluruhan data diperoleh dari hasil pengamatan selama 13 hari.

Catatan historis juga menunjukkan lonjakan emisi pada pertengahan 2025 yang sempat menembus lebih dari 12 ton per jam. Angka ini memperlihatkan bahwa emisi tidak hanya tinggi, tetapi juga fluktuatif dengan potensi lonjakan ekstrem.

Peneliti UCLA mengilustrasikan bahwa emisi 5 ton metana per jam setara dengan emisi dari satu juta mobil SUV atau satu pembangkit listrik tenaga batu bara berkapasitas 500 megawatt.

Temuan global ini beriringan dengan meningkatnya tekanan dari pemerintah pusat terhadap pengelolaan sampah di daerah. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menegaskan bahwa proyek Pengolah Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) tidak boleh lagi berjalan lambat.

Ia menyebut percepatan proyek tersebut merupakan perintah langsung Presiden, dan memberikan tenggat waktu yang ketat bagi pemerintah daerah.

“Nah, karena itu rapat tadi di sini, saya juga mengatakan, Pak Gubernur boleh saja berimprovisasi. Ya, cari mitra segala macam, tapi jangan melambat. Karena ini perintah Bapak Presiden langsung. Kalau dalam 7 minggu enggak selesai juga, ya terpaksa kita ambil alih,” ujar Zulkifli Hasan di Jakarta, Selasa (21/4/2026).

Ia juga menyinggung risiko besar dari tumpukan sampah yang tidak tertangani dengan baik, termasuk potensi bencana seperti yang pernah terjadi di Bantargebang.

Masuknya TPST Bantargebang dalam daftar global ini menjadi alarm keras bagi pengelolaan sampah di Indonesia, khususnya di kawasan urban padat seperti Jakarta dan sekitarnya. Ketergantungan pada sistem landfill tanpa pengelolaan emisi yang memadai terbukti berkontribusi signifikan terhadap krisis iklim global.

======

Kontributor: Hanang Septioyudho

Penulis: Hanang Septioyudho

Baca juga artikel terkait PENCEMARAN LINGKUNGAN atau tulisan lainnya dari Intern tirto

tirto.id - Flash News
Reporter: Intern tirto
Penulis: Intern tirto
Editor: Dipna Videlia Putsanra