tirto.id - Pemerintah menargetkan percepatan elektrifikasi di wilayah-wilayah yang belum terjangkau layanan listrik. Hingga saat ini, diketahui terdapat 5.700 desa dan 4.400 dusun yang kini masih gelap gulita atau belum teraliri listrik.
"Jadi kita akan selesaikan sampai 2029-2030, itu harus selesai," jelas Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, usai rapat terbatas di Istana, Jakarta, Senin (25/5/2025).
Meski belum merinci besaran dana keseluruhan yang dibutuhkan, Bahlil memastikan bahwa anggaran untuk program elektrifikasi ini sudah mulai dimasukkan dalam perubahan anggaran 2025 dan APBN 2026.
"Lagi dihitung ya (anggarannya). Tapi di 2025 di perubahan anggaran dan 2026 sudah dimasukkan anggarannya.
Bahlil menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari kewajiban negara untuk memberikan pelayanan dasar kepada seluruh rakyat, terutama masyarakat di daerah terpencil dan tertinggal.
“Kami lapor Presiden, 'Pak Presiden, ini urusan rakyat kecil tak bisa kita hitung secara ekonomi karena butuh kehadiran negara.’ Presiden perintahkan, dan langsung dianggarkan,” tambahnya.
Sebelumnya, Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jisman Hutajulu, mencatat masih ada sekitar 780 ribu rumah tangga di Indonesia belum mendapatkan akses listrik. Padahal, Indonesia sudah merdeka sejak 80 tahun yang lalu.
“Masih ada sekitar 780 ribu saudara kita, rumah tangga, yang belum mendapatkan akses listrik. Ini sangat penting ya,” katanya dalam acara Diseminasi RUKN dan RUPTL 2025-2024 di Kantor Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan, Jakarta, Senin (2/6/2026).
Menurut Jisman, pemerintah membutuhkan dana yang besar untuk dapat menyediakan akses listrik untuk kebutuhan masyarakat tersebut ke depannya. Dia pun berharap agar PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN dapat membangun peta jalan atau road map untuk program listrik desa untuk penyaluran listrik kepada 5.700 desa yang belum tergapai.
“Kami sudah menyiapkan roadmap-nya sekitar Rp50 triliun, dan ada 5.700 desa yang belum dilayani oleh PLN. Jadi kita mendorong desa tersebut dilayani oleh PLN, supaya lebih sustain,” jelas Jisman.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id






































