Bagaimana COVID-19 Memutar Roda Revolusi Industri Film Porno?

Ilustrasi nonton film porno. foto/istockphoto
Oleh: Herdanang Ahmad Fauzan - 29 Juli 2020
Dibaca Normal 5 menit
Akibat pandemi, industri pornografi AS berubah. Makin menjauh dari kanal-kanal besar.
Di berbagai tempat dan pada berbagai kesempatan, bintang porno atau bintang bokep seperti tak pernah kehabisan kisah belakang layar tentang pahitnya industri tempat mereka cari duit.

Honey Gold (27), misalnya, pernah bercerita bagaimana rumah produksi bokep acapkali merendahkan latar belakang etnisnya. Berasal dari ras campuran, ia dianggap terlalu putih untuk ukuran orang Asia dan kelewat hitam untuk selera orang Barat. Pelan tapi pasti Gold terpinggirkan. Itu semua membuatnya depresi dan melakukan beberapa percobaan bunuh diri.

Laporan jurnalis data asal Inggris Jon Millward pada 2013 menyimpulkan bahwa rata-rata bintang bokep perempuan cuma bisa eksis di industri tersebut selama 3 tahun, sementara bintang bokep laki-laki rata-rata bertahan 4 tahun. Angka tersebut merosot bila dibandingkan statistik pada era 1970-an, ketika rata-rata bintang bokep perempuan bisa bertahan di industri selama 9 tahun sedangkan yang laki-laki 12 tahun.

Data Millward lantas menyebutkan 47 persen dari para bintang bokep perempuan mengakhiri karier setelah tampil dalam 3 judul atau kurang. Sekitar 30 persen di antaranya menyerah setelah judul pertama.

“Sebagian perempuan yang masuk ke industri bokep hanya melakukan satu video dan menyerah. Bagi sebagian pengalaman yang mereka rasakan sangat menyakitkan, menakutkan, memalukan dan membuat mereka tak ingin melakukannya lagi,” tutur kolumnis pornografi Luke Ford.

Dalam sebuah wawancara dengan The Ringer, Sofia Rose, seorang bintang bokep yang berhasil bertahan di industri film biru selama hampir 15 tahun, berujar bahwa pemicu depresi di kalangan rekan seprofesinya tak bisa dihitung dengan jari. Ada banyak faktor; mulai dari tuntutan peran yang tak manusiawi, upah rendah, sampai pelecehan dan kekerasan di lokasi syuting.

Dalam kasus pribadi Rose, studio mengharuskannya melakoni perjalanan jauh ke berbagai lokasi syuting demi kepentingan rating. Malangnya, perjalanan itu otomatis memangkas waktu libur yang harusnya ia dapat sesuai perjanjian kontrak. “Aku terus berkeliling ketika seharusnya menikmati waktu libur 5-10 hari [dalam sebulan]. Hal seperti itu akhirnya menjadi kewajaran.”

Kedatangan pandemi COVID-19, yang hingga kini telah merenggut lebih dari 618.000 nyawa, memaksa rumah-rumah produksi menghentikan aktivitas sejak Maret 2020. Pemerintah di berbagai belahan dunia menerapkan lockdown dan pembatasan sosial. Rose, yang tertahan karena tak bisa bekerja, lantas menjajal platform penjajaan karya bernama OnlyFans.


Apa yang kemudian terjadi dalam hidup Rose serupa adegan testimoni di iklan klinik Tong Fang. “Aku mungkin akan melalui pandemi ini tanpa perlu repot-repot berkeliling ke mana-mana,” kata Rose. “Kebiasaan ini membuat kondisi finansialku lebih baik tanpa perlu keluar rumah.”

Honey Gold merasakan hal serupa. Sempat ingin banting setir dari industri bokep, Gold kini merasa aman dan nyaman berada di profesi tersebut. Sudah beberapa bulan terakhir ia berhenti syuting di studio dan aktif menjadi kreator konten lewat OnlyFans.

Gold mengklaim telah berhasil menarik ratusan ribu pengikutnya dari Instagram untuk berlangganan. Ia punya 389.000 lebih pengikut Instagram, dan kini telah mendulang lebih dari 161.000 like di OnlyFans. Gold mematok tarif 12,99 dolar AS per bulan untuk para pelanggannya. Dalam sebulan, ia bisa meraup puluhan bahkan ratusan ribu dolar AS.

“Tak perlu diragukan lagi industri pornografi [rumah produksi bokep] akan tetap berkembang setelah pandemi berakhir. Tapi, aku bisa menyaksikan bahwa diriku, dan mungkin banyak yang lain, akan bekerja dengan cara yang lebih independen seperti sekarang,” tulis Gold dalam sebuah kolom di Huffington Post.

Bokep Gaya Baru

OnlyFans sebenarnya bukan platform khusus bokep. Menyerupai Patreon, laman yang sudah eksis sejak 2016 itu merupakan tempat seniman dari berbagai latar belakang bisa mengeruk pundi-pundi uang dari karya mereka. Stempel ‘platform porno’ OnlyFans lebih disebabkan sifat yang ditonjolkan layanan besutan Tim Stokely tersebut.

OnlyFans tak mengenal istilah blokir ataupun sensor setitik pun, termasuk dalam konteks pornografi. Hal ini memungkinkan bintang bokep menjual berbagai karyanya secara bebas dan tanpa campur tangan pihak ketiga. Entah dalam wujud foto dan video telanjang, video masturbasi atau adegan seks amatir, sampai live streaming untuk menyapa fans mereka. Platform ini bahkan menyediakan fitur snapchat, yang memungkinkan bintang bokep mengucapkan selamat ulang tahun atau sekadar bertegur sapa dengan pelanggan setianya.

“Di situlah faktor yang memicu tingginya permintaan, dan itu akan terus naik karena orang semakin butuh interaksi personal, apalagi ketika interaksi fisik tak mungkin dilakukan [karena COVID-19],” tutur Rose.

Munculnya platform daring sebagai lahan basah bintang porno bukan sesuatu yang mengagetkan. Sebelumnya layanan lain seperti ManyVids, IsMyGirl, FanCentro, hingga yang bisa diakses cuma-cuma macam Pornhub sudah eksis dan mengudara hingga kini. Hanya saja, platform-platform tersebut tak jadi prioritas para bintang bokep lantaran tak menggaransi keuntungan finansial besar ke kantong mereka.

Pihak OnlyFans hanya memotong 20 persen dari total pembayaran pelanggan yang mengikuti masing-masing bintang bokep. Sisa 80 persen yang lain langsung masuk ke kantong si artis atau aktor. Bandingkan, misalnya, dengan nominal relatif lebih kecil yang bisa diraup bintang bokep dari produksi di studio. Lazimnya, duit yang mereka dapat dari satu kali syuting bisa menyusut sampai 25 persen dari laba bersih, setelah dipangkas ongkos agensi, pajak, dan ongkos tes STD untuk menjamin keamanan mereka dari virus HIV/AIDS.

Formula menggiurkan itu terus jadi daya tarik. Bintang-bintang bokep yang sudah punya nama beken seperti Riley Reid atau Lisa Ann bahkan telah masuk ke OnlyFans dan semakin konsisten mengunggah karya mereka.

Reid yang punya 3,1 juta pengikut Instagram dan rutin mempromosikan diri kini telah mendulang 625.000 like lebih di laman OnlyFans miliknya. Sementara Ann, yang tergolong veteran di industri bokep, telah berhasil menarik puluhan ribu dari 3,6 juta pengikut Instagramnya untuk jadi pelanggan OnlyFans.


CEO OnlyFans Tim Stokely pada Mei 2020 lalu mengklaim per harinya ada 7.000-8.000 kreator baru bergabung dengan layanan mereka. Sejauh ini sudah ada 450.000 kreator, dan pembayaran royalti telah melampaui 725 juta dolar AS.

Dari sisi konsumen, pertumbuhan OnlyFans tak kalah menjanjikan. Sejak penerapan lockdown akibat COVID-19 di berbagai negara, OnlyFans meraup 200.000 pelanggan baru setiap 24 jam.

Ketertarikan dari sisi pelanggan baru tersebut dipicu dua hal. Pertama, tingginya kebutuhan akan konten pornografi di tengah wabah COVID-19. Menurut catatan Economist menyebut bahwa sejak kebijakan lockdown di AS, jumlah transaksi keuangan untuk produk berbau pornografi meningkat dua kali lipat.

Kedua, model berlangganan yang diterapkan OnlyFans. Mereka mematok layanan berupa langganan per kreator per bulan, yang berarti pelanggan punya pilihan leluasa untuk menyesuaikan anggaran mereka. Tarif yang dipatok para kreator pun variatif. Ada membanderol konten-kontennya seharga 4,99 dolar AS per bulan, hingga 25 dolar AS per bulan. Semakin banyak dan semakin populer jumlah kreator yang diikuti, maka semakin besar biaya langganan yang harus mereka setor.


Nasib Rumah Produksi

Cerahnya jaminan pendapatan para bintang bokep di tengah pandemi berbanding terbalik dengan cobaan bertubi-tubi yang dialami rumah-rumah produksi porno.

Di AS, sejak awal Juni 2020 pemerintah memang sudah memberi izin industri film—termasuk film porno—untuk melakukan produksi. Namun, keluarnya izin ini tidak lantas bikin rumah-rumah produksi sepenuhnya bernapas lega.

Free Speach Coalition (FSC), asosiasi yang mewadahi produk-produk dewasa di Negeri Paman Sam, menerapkan berbagai regulasi tambahan sebagai bagian dari jaminan protokol kesehatan pemerintah. Di antaranya adalah mewajibkan kru dan pemain film mengenakan masker di luar adegan, memonitor interaksi media sosial dan mengharuskan bintang bokep melakukan tes COVID-19 minimal 24 jam sebelum syuting, mengisolasi para pemeran di hotel khusus pada rentang jeda sesudah tes hingga jam syuting, sampai melarang para bintang bokep menggunakan jasa transportasi umum seperti taksi dan Uber sejak 24 jam sebelum syuting.


Perkara biaya tes COVID-19, transportasi untuk bintang bokep, hingga penyediaan isolasi itu, semua wajib ditanggung biayanya oleh rumah produksi. Di sinilah letak permasalahannya. Tambahan protokol kesehatan itu membebani ongkos produksi, ketika di saat bersamaan pangsa permintaan mereka tergerus oleh kehadiran platform bokep amatir.

Dilema tidak berhenti di situ. Casey Calvert, direktur rumah produksi bokep Adult Time dan Lust Cinema, menyebut perusahaannya juga mendapat larangan memproduksi genre film yang rawan menjadi jalur penyebaran virus, terutama adegan seks berkelompok (lebih dari 2 orang).

“Saat ini mencari pemeran untuk adegan MILF juga lumayan susah,” imbuhnya dalam wawancara dengan Rolling Stone.

Perkara kesulitan mencari pemeran untuk kategori MILF itu, kata Casey, tidak lepas dari tingginya tingkat kesadaran akan bahaya virus Corona di kalangan bintang bokep senior. Mereka cenderung nyaman memanfaatkan platform seperti OnlyFans ketimbang mengambil risiko keluar rumah.

Jangankan perusahaan menengah seperti tempat Calvert bekerja, rumah produksi besar seperti Brazzers pun juga mengaku kesulitan.

“Tapi untuk saat ini kami akan mengikuti aturan dan hanya memproduksi kategori dengan pemeran dua orang,” tutur Direktur Produksi Brazzers Ryan Cash.

Cash masih percaya bahwa rumah produksi bokep tidak akan benar-benar bangkrut. Terutama mereka yang sudah punya reputasi mendunia dan pelanggan setia. Apalagi, dalam beberapa aspek rumah-rumah produksi bokep masih punya kelebihan yang akan tetap sukar disamai platform amatir.

Dari segi kualitas misal, konten yang diproduksi rumah produksi bokep cenderung punya mutu lebih tinggi. Terang saja demikian, lantaran di dalam produksinya mereka lebih banyak melibatkan peralatan dan pekerja profesional. Yang terlibat dalam proses produksi bukan cuma pemeran adegan, tapi juga penulis script, kru, kameramen, editor, hingga sutradara.

Rumah produksi juga punya jaminan keamanan karya lebih baik. Pembajakan barangkali memang tak akan mudah dihindari, tapi tingkat kerentanan mereka terhadap pembobolan lebih rendah ketimbang platform bokep amatir yang meletakkan berkas-berkas di penyimpanan daring.

Terbukti pada Februari 2020, laman OnlyFans sempat diduga menjadi sasaran peretasan. Kejadian itu membuat sekitar 1,6 TB konten premium berhasil dicuri dan disebarkan secara cuma-cuma di berbagai forum.

OnlyFans sempat membantah tudingan itu. Mereka bersikeras menyebut situsnya aman, dan pembajakan itu terjadi karena si pelaku mengunduh konten secara paksa.

“Kami telah menginvestigasi klaim peretasan di laman [OnlyFans] dan sama sekali tak menemukan pembobolan di sistem kami,” kata Direktur Bisnis dan Kerja Sama Steve Pym. “Konten yang bocor itu sepertinya berasal dari berbagai sumber [yang menyimpan tanpa izin] gambar dan video dan dihimpun lewat media sosial lain.”

Pym boleh membela diri dan pembelaannya memang masuk akal. Namun, fakta bahwa konten premium pengguna platformnya bisa beredar cuma-cuma di dunia maya tetap saja merupakan indikasi bahwa OnlyFans—dan tentunya platform-platform serupa lain—belum punya kebijakan proteksi konten yang kuat.

Old soldiers never die, they are just fade away,” kata pepatah kuno Inggris. Dalam konteks revolusi industri pornografi, pepatah itu barangkali relevan. Produk-produk bokep, sekuno apapun, mustahil untuk lenyap. Mereka mungkin menghilang perlahan, tapi tak akan pernah mati.

Baca juga artikel terkait PORNOGRAFI atau tulisan menarik lainnya Herdanang Ahmad Fauzan
(tirto.id - Bisnis)

Penulis: Herdanang Ahmad Fauzan
Editor: Windu Jusuf
DarkLight