Bagaimana Acara Kesenian Bertahan Hidup di Masa Pandemi?

Ilustrasi panggung teater. FOTO/iStockphoto
Oleh: Joan Aurelia - 28 Mei 2020
Dibaca Normal 4 menit
Kolaborasi jadi kunci pelaku seni untuk bertahan dalam masa pandemi.
In a strange way, aku merasa bisa menikmati dinamika baru ini. Ada gairah baru dari para pelaku seni. Serentak bergerak, saling bantu,” kata Farah Wardani, Direktur Eksekutif Jakarta Biennale (JB). Kami berbincang via sambungan video pada Sabtu (16/5/2020), beberapa minggu setelah Farah dan tim menunda penyelenggaraan JB.

Sampai hari ini ada ratusan pameran atau pertunjukan seni yang terpaksa tertunda. Menurut Koalisi Seni jumlah kegiatan seni yang batal dari Januari sampai awal April lalu setidaknya mencapai 135--14 produksi film, 69 konser, 14 pameran seni rupa, delapan pertunjukan tari, 29 pementasan teater, pantomim, wayang, boneka, dan dongeng yang dibatalkan dan ditunda.

Antara mencatat penundaan tersebut--dan pandemi secara keseluruhan--mengakibatkan setidaknya 38.000 pekerja seni semakin mengalami ketidakpastian penghasilan. Jumlah tersebut bisa jadi terus bertambah karena pemerintah melalui direktorat jenderal kebudayaan--yang bekerjasama dengan kementerian PMK dan Kementerian Sosial--masih terus mendata para pekerja seni yang terdampak pandemi.


Pekerja seni yang benar-benar terkendala dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari akan diberi bantuan langsung oleh pemerintah. Dalam sesi wawancara bersama aktor Reza Rahadian, Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid menyatakan bahwa selain menyalurkan bantuan langsung, timnya juga merancang skema lain bagi pekerja seni, misalnya pengadaan insentif modal.

Kini salah satu program kemendikbud yang sedang berjalan adalah Pameran Daring Solidaritas Perupa Indonesia Lawan Corona. Ini merupakan proyek pameran seni dengan sistem open call. Para seniman diharapkan mengumpulkan karya dua atau tiga dimensi bertema cara bertahan hidup dalam masa pandemi COVID-19. Penyelenggara pameran akan mengalokasikan dana Rp4 juta untuk setiap seniman yang lolos proses seleksi. Karya-karya tersebut akan dipamerkan secara daring pada 10 Juli 2020.

Sejumlah pemerintah daerah juga sudah mengadakan program-program bantuan. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyediakan salah satu area di rumahnya guna difungsikan sebagai panggung seni untuk acara-acara yang disiarkan secara virtual. Para seniman pertunjukan lokal diperkenankan pentas di sana dan Ganjar membuka kesempatan bagi publik yang hendak berdonasi.

CNN Indonesia (12/5/2020) melaporkan pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta menyalurkan dana bantuan sebesar Rp600 ribu untuk setiap pekerja seni yang kesulitan keuangan akibat pandemi.

Di Jawa Timur, sebagaimana dilansir VOA (21/4/2020), pemerintah daerah menyiapkan dana bantuan langsung untuk 750 seniman--termasuk seniman ludruk--yang masuk daftar prioritas penerima bantuan. “Kami baru bisa memfasilitasi 750 seniman. Nanti yang lain mungkin melalui kegiatan yang sifatnya daring. Kami jadikan mereka narasumber atau melalui skema kartu pra-kerja,” kata Sinarto, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, kepada VOA.

Saat ini tercatat ada 6.900 pekerja seni di Jawa Timur. Pemerintah setempat juga menyalurkan bantuan langsung non-tunai kepada para pekerja seni selama masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Inisiatif Pelaku Seni

Pada bulan kedua PSBB, para penggerak ekosistem seni--non pemerintah--mulai menelurkan berbagai program yang diharapkan bisa membantu menghidupi para seniman dan juga ranah seni rupa di Indonesia.

Gerakan-gerakan itu berawal dari individu sesama pekerja seni. Misalnya seniman Bagus Pandega yang mendesain perisai wajah (face shield) untuk disumbangkan ke pekerja medis dan Syagini Ratna Wulan yang menjahit masker untuk didonasikan kepada mereka yang membutuhkan.

Inisiatif dari institusi seperti galeri muncul setelahnya. Galeri-galeri seni di Jakarta tutup sementara mulai 14 Maret 2020 sehingga seluruh pameran yang sudah diagendakan pun tertunda. Beberapa minggu setelahnya, galeri-galeri besar seperti Galeri Nasional dan Salihara mulai mengisi linimasa media sosial Instagram dan Youtube dengan arsip yang mereka miliki. Mereka menampilkan koleksi tetap museum, menyiarkan ulang berbagai pertunjukan dan diskusi yang pernah diselenggarakan di galeri, sampai membuat aktivitas-aktivitas menghibur seperti kuis.

Agenda kolaboratif dengan tujuan membantu sesama digagas kemudian oleh bermacam-macam institusi dan kolektif seni.

Farah bersama tim merancang program hibah seni kepada para seniman muda atau seniman baru dalam rangka Road to Jakarta Biennale 2021. Ia bekerjasama dengan tim Jogja Biennale dan Makassar Biennale dengan harapan para kurator atau aktivis seni di kedua kota mampu menyebarkan informasi ini ke komunitas seni setempat yang mungkin lebih membutuhkan bantuan.

Museum MACAN merancang program arisan karya. Sistemnya: tim kurator museum mengumpulkan karya dari 300 seniman dalam negeri yang ditunjuk dan yang masuk melalui sistem open call. Para kolektor atau penikmat seni bisa membeli tiket seharga Rp1 juta. Mereka akan mengetahui karya seni yang didapat tepat pada hari terselenggaranya “arisan”.

Sebanyak 70% dari dana penjualan akan dialokasikan untuk seniman atau disumbangkan ke lembaga yang telah mereka tunjuk. Sisanya akan digunakan untuk memfasilitasi perupa dalam membuat program edukasi online. Menurut kurator museum MACAN Asep Topan program edukasi oleh perupa bisa berbentuk tips berkarya dalam masa pandemi, lokakarya, atau diskusi.


Fransiskus Asisi, Direktur Galeri Lorong, Jogjakarta, merancang program lokakarya penulisan bagi kaum muda. Selain itu mereka juga menyediakan ruang yang disebut stock room--seniman bisa berkarya dengan peralatan yang tersedia di sana dan pihak galeri nantinya akan membantu publikasi setelah seniman selesai menggarap proyek.

Galeri Lorong adalah salah satu galeri seni yang sempat menyelenggarakan pameran daring pada awal April lalu. Awalnya pameran didesain secara offline. Ketika pandemi tiba, konsepnya beralih ke online lantaran para seniman peserta sudah usai membuat karya tiga dimensi dengan ukuran yang cukup besar. Fransiskus dan tim memanfaatkan tiap platform di media sosial, “Ternyata publik cukup responsif. Di luar ekspektasi kami,” katanya kepada Tirto via telepon.

Bagi Fransiskus, penyesuaian itu tidak selalu mudah. Membiasakan diri menggunakan berbagai aplikasi awalnya adalah tantangan tersendiri.

Tom Tandio, Direktur art fair Fair Director Art Jakarta, menyatakan bahwa saat ini timnya masih menggodok ide program yang bisa dilakukan selama masa pandemi. Seperti Farah, ia baru menunda perhelatan pasar seni yang harusnya diselenggarakan pada Agustus. “Esensi art fair adalah networking. Ini adalah tempat berkumpulnya galeri dari sejumlah negara di Asia. Tempat para seniman berinteraksi dengan kolektor dan insan seni lain untuk melahirkan proyek-proyek baru,” katanya. Tak semata-mata untuk jualan", ujar Tom.

Ke depannya Tom ingin bekerjasama dengan pemerintah untuk membuat program solidaritas selama menghadapi pandemi.

Relevankah Seni di Tengah Pandemi?

Dalam konferensi pers Arisan Karya yang digagas pada 15 Mei lalu Direktur Museum Macan Aaron Seeto menyatakan bahwa hal yang bisa dilakukan oleh orang-orang yang jadi bagian dalam ranah seni hari ini adalah bertahan dengan aksi kolaborasi untuk membantu sesama.

“Saya bahkan tidak berpikir apakah wacana sustainability dalam membuat ekosistem seni tetap utuh sempurna jadi hal yang relevan diperbincangkan sekarang. Kita sama sama ada di situasi yang sulit dan serba tidak pasti untuk membicarakan rencana-rencana besar,” katanya dalam sesi konferensi video.

Pada media seni The Art Newspaper (24/4/2020) kerugian besar yang dialami berbagai museum seni di AS dan Eropa beberapa hari pasca karantina. Rijksmuseum Amsterdam mengalami kerugian ratusan ribu euro setiap minggu. Uffizi Galleries di Firenze, Italia, kehilangan 10 juta Euro pekan paskah lalu. Royal Academy of Art, London, kehilangan 1 juta Poundsterling dalam waktu satu bulan. Metropolitan Museum of Art, AS, rugi 100 juta dolar dalam kurun waktu enam hari setelah karantina.

Kerugian ini berdampak pada pengurangan karyawan. Ini terjadi pula pada museum seni kontemporer di Los Angeles, Boston, dan beberapa tempat lain.



Situasi di Eropa mungkin sedikit lebih baik karena pekerja di museum-museum seni menjadi tanggungan pemerintah.

Menurut laporan Art Newspaper, medium online akan tetap jadi andalan pada masa-masa awal seusai pandemi nanti.

Sampai saat ini belum ada pemberitaan terkait rencana-rencana jangka panjang yang hendak diselenggarakan museum seni, galeri besar, maupun organisasi seni seperti art fair di negara-negara barat.

Seniman-seniman yang ada di sana juga juga melakukan aksi serupa seperti di dalam negeri yakni berkolaborasi untuk saling membantu bertahan hidup.

Direktur Mori Art Museum Tokyo Mami Kataoka berkata kepada The Art Newspaper bahwa kesulitan-kesulitan yang terjadi seperti bencana, resesi ekonomi, dan wabah sesungguhnya menimbulkan pertanyaan: apa dasar keberadaan museum seni, komunitas seni, dan seni itu sendiri.

Pada masa pandemi, seni mungkin bukan jadi prioritas bagi orang-orang yang tidak bekerja di ranah seni. Tapi mereka yang berkecimpung di ranah tersebut punya pendapatnya sendiri. “Seni itu stimulus bagi kehidupan masyarakat. Memperkaya kita dalam menjaga kewarasan,” kata Farah.

Seniman Arahmaiani yang kini sedang berpameran virtual dengan tajuk How Can We Think of Art in a Time Like This menyatakan bahwa praktik berkesenian bisa membantu mengatasi permasalahan yang saat ini tengah dihadapi. “Seni adalah medium kreatif yang sangat fleksibel dan mampu merespons berbagai permasalahan dan situasi. Bisa menginspirasi dan menciptakan alternatif yang kreatif dalam mencari solusi permasalahan,” tulis Arahmaiani dalam pengantar pamerannya.

“Saya selalu merasa bahwa salah satu bagian dari seni adalah mendukung kehidupan. Galeri memang sedang menderita. Tapi saya rasa seniman akan selalu berdiri. Begitu pula selalu ada kolektor yang datang untuk membeli karya atau mendukung seniman-seniman ini,” ujar Tom yang senantiasa menyimak aktivitas-aktivitas sejumlah kolektif seni dan galeri seni di dalam negeri.

“Yang jelas, sekarang bukan saatnya kita tiarap. Yang penting, terus bergerak,” tutup Fransiskus.

Baca juga artikel terkait VIRUS CORONA atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Joan Aurelia
Editor: Windu Jusuf
DarkLight