Awak Tangki Mobil Mitra Pertamina Desak Pesangon

Oleh: Andrian Pratama Taher - 20 Oktober 2017
Dibaca Normal 2 menit
Pekerja awak mobil tangki (AMT) yang diberhentikan mendesak pesangon.
tirto.id - “Keinginan saya sih kita minta uang itu saja. Uang pesangon, uang jasa lembur.”

Mata Paino (62 tahun) berkaca-kaca saat menyampaikan harapan di Kantor LBH Jakarta, Jumat (20/10). Paino merupakan satu dari seribuan sopir awak mobil tangki (AMT) yang menjadi korban PHK pihak rekanan PT Pertamina Patra Niaga, selaku anak perusahaan PT Pertamina.

Paino mengaku belum percaya diberhentikan oleh perusahaan tempatnya bekerja selama 15 tahun. Pria yang kini bertempat tinggal sementara, di Plumpang Jakarta Utara menerima surat pemberhentian usai mengikuti tes yang menurutnya tidak jelas.

“Kami enggak ada kesalahan tetapi cuma testing itu bilangnya nggak lulus terus keluar aja, dikeluarin," ujar Paino.

Usai mendapat pemberhentian sepihak, Paino tidak mendapat kompensasi apa pun dari perusahaan mitra Pertamina. Selain itu, Paino yang selama bekerja hanya menerima gaji sebesar upah minimum regional (UMR) dan tidak pernah mendapatkan uang lembur. Padahal dalam enam hari bisa bekerja lebih dari delapan jam. Ia menghitung, jumlah uang lembur yang belum dibayarkan Pertamina mencapai Rp200 juta.

Nasib nahas tidak hanya menimpa Paino. Rekan kerjanya yang berstatus sebagai pekerja alih daya dari luar kota juga ramai-ramai ke Jakarta untuk menuntut hak. Mereka datang dengan berdandan ala "zombie" karena merasa tidak diperlakukan adil oleh PT Pertamina Patra Niaga dan PT Elnusa Petrofin, anak perusahaan Pertamina. Mereka mengenakan pakaian ala "zombie" untuk menyimbolkan kesengsaraan akibat PHK yang dilakukan dua perusahaan tersebut. Total ada 1.095 buruh dari 10 depot di berbagai provinsi yang di-PHK.

Baca Juga:
Sedianya Paino akan bergabung dalam aksi itu, tapi karena alasan kesehatan urung ikut bergabung. Ketua Buruh Awak Mobil Tangki Nuratmo mengatakan, ada sekitar 1.095 awak mobil tangki diberhentikan sepihak oleh sejumlah rekanan Pertamina.

“Sistem pengupahan akan diubah. Pensiun akan dibayarkan, tapi setelah melewati April 2017 itu di Mei kita di-PHK. bukan dijalankan malah di PHK,” kata Nuratmo saat ditemui di LBH Jakarta, Menteng, Jakarta, Jumat (20/10/2017).

Nuratmo menjelaskan, 1.095 pekerja yang diberhentikan berasal dari 10 depot di Indonesia, yakni Depot Pertamina Jakarta, Depot Pertamina Lampung, Depot Pertamina Makassar, Depot Pertamina Merak, Depot Pertamina Banyuwangi, Surabaya, Tasikmalaya, Ujung Berung, dan Padalarang.

Dari 1.095, Depot Jakarta menjadi depot dengan korban PHK terbanyak sekitar 650 pegawai lebih. Situasi itu membuat mereka melawan. Berbagai upaya akhirnya dilakukan para AMT. Mereka coba mengadu ke Kementerian Tenaga Kerja, DPR, Kementerian BUMN, dan Kementerian ESDM, tetapi tidak mendapat solusi.

"Banyuwangi kuotanya ada sekitar 160 yang di-PHK 120 AMT. Jakarta ada 1.300, yang di-PHK kurang lebih 650 orang," kata Nuratmo.

Senada dengan pengakuan Paino, Nuratmo mengaku kawan-kawan AMT bekerja lembur setiap hari. Bahkan, ada yang bekerja hingga 24 jam. Namun tanpa sepengetahuan mereka, ternyata ada uang lembur yang harus diterima.

Setelah melakukan long march dari Bandung ke Istana Negara, mereka menuntut sejumlah hak. Pertama, mereka meminta pencabutan keputusan PHK sebanyak 1.095 AMT.

Mereka juga menuntut agar AMT yang di-PHK untuk menjadi pegawai tetap sebagaimana nota kesepakatan. Kemudian, mereka meminta uang lembur yang selama ini belum dibayarkan oleh mitra Pertamina.

"Terus berikutnya terkait uang pensiun kepada teman-teman kami yang secara usia memang sudah memasuki masa pensiun tapi ini diberhentikan juga tanpa uang pensiun dan segala macam dan teman-teman yang di PHK, 1.095 orang pun nggak dapat apa-apa," kata Nuratmo.

Di saat yang sama, mereka berharap, aksi long march ini bisa mendapat perhatian dari pemerintah. Mereka pun berharap long march ke Istana Negara bisa membuat mereka bertemu dengan Presiden Jokowi. "Mudah-mudahan dengan long march ini dapat mendapat dukungan kemudian pemerintah khususnya pak Jokowi bisa menyelesaikan persoalan awak mobil tangki Pertamina," kata Nuratmo.

Sekretaris Perusahaan PT Pertamina Patra Niaga, Rudy Permana mengatakan bahwa pihaknya tidak pernah mem-PHK awak mobil tangki. Ia telah melakukan bantahan terkait kabar PHK ini. PT Pertamina Patra Niaga mengatakan bahwa mereka tidak pernah mem-PHK AMT karena para awak ini berasal dari Perusahaan Pemborong Pekerjaan Pengangkutan yakni PT Garda Utama Nasional, PT Ceria Utama Abadi, PT Absolute Service, PT Prima Perkasa Mandiri, PT Ardina Prima, dan PT Cahaya Andika Tamara.

"Karena mereka bukan karyawan Pertamina Patra Niaga, bagaimana kami bisa mem-PHK mereka? Itu jelas dulu, karena hubungan kami tidak ada hubungan tenaga kerja di situ. Mereka ini sebetulnya adalah pekerja dari perusahaan pemborongan tadi," kata Rudy, Senin (19/6) lalu.

Baca juga artikel terkait PERTAMINA atau tulisan menarik lainnya Andrian Pratama Taher
(tirto.id - Hukum)

Reporter: Andrian Pratama Taher
Penulis: Andrian Pratama Taher
Editor: Jay Akbar
DarkLight