Audie Murphy, Sendirian Melawan Ratusan Serdadu NAZI

Infografik audie leon murphy
Audie Leon Murphy memerankan dirinya sendiri dalam film "To Hell and Back" produksi studio Universal-International; 1955. FOTO/audiemurphy.com
Oleh: Petrik Matanasi - 25 Januari 2018
Dibaca Normal 3 menit
Kegarangan John Rambo di medan tempur hanya rekaan David Morrell dalam novel First Blood (1972), tapi aksi Audie Murphy adalah kenyataan.
tirto.id - Audie Murphy harus rehat sementara dari pertempuran. Ia tergolek tak berdaya di rumah sakit. Kakinya kena pecahan mortir kiriman serdadu-serdadu Jerman. Kawan-kawannya terkejut dengan kondisi Audie.

Audie sebenarnya cukup beruntung. Dua serdadu berpangkat letnan dua, yang satu pasukan dengannya, terbunuh. Audie baru bisa bergabung kembali dengan pasukannya pada 14 Januari 1945, di tahun-tahun terakhir front Eropa dalam Perang Dunia II. Saat itu, serdadu-serdadu NAZI Jerman masih memberikan perlawanan sengit meski posisinya semakin lemah.

Pada Januari 1945, di sekitar Holtzwihr dan Reidwihr, bagian timur Perancis, satuan dari Resimen ke-30 Divisi ke-3 infanteri Amerika terus digebuk militer Jerman. Tentara NAZI punya 10 tank dan ratusan serdadu infanteri. Mulanya, Resimen ke-30 tak punya tank. Barulah kemudian datang bantuan di akhir Januari.

“Pagi 25 Januari 1945 resimen diperkuat dengan satuan kendaraan lapis baja dan bergerak maju ke hutan,” tulis David A. Smith dalam The Price of Valor: The Life of Audie Murphy, America's Most Decorated Hero of World War II (2015).


Pagi 26 Januari 1945, Audie dipanggil ke markas resimen. Dia diberi komando memimpin Kompi B karena letnan satu di pasukan itu terluka parah. “Murphy memimpin kompi untuk beraksi pagi itu, bergerak keluar hutan menuju desa kecil Holtzwihr,” tulis David Smith. Dua tank M-10 milik Amerika melindungi pasukan itu. Menurut buku rilisan Time-Life, World War II: 1945: The Final Victories (2015), pasukan Audie terdiri dari 19 orang saja.

Dalam aksi tersebut, Murphy menyandang senapan M-1 Carbine dan membawa peta serta teropong binokular. Telepon yang menghubungkannya dengan markas batalyon juga tak jauh darinya. Belum sampai desa, pasukannya sudah diatur untuk menghadapi musuh.

Jelang siang, datang perintah dari batalyon agar Murphy ambil posisi dan menanti kedatangan pasukan yang lebih besar dari Resimen ke-30. Namun, Murphy melihat pasukan musuh yang jumlahnya sekitar 250 serdadu dan enam tank Jerman. Kekuatan yang sama sekali tidak sebanding dengan kekuatan pasukan yang dibawanya. “Kompi B itu menghadapi lawan yang lebih berat,” tulis Time-Life.

Audie lalu memerintahkan pasukannya mundur ke tempat yang lebih aman. Lalu tinggallah dirinya sendiri menghadapi Jerman. Pelurunya tak cukup untuk menembaki serdadu-serdadu Jerman.


Bertempur Bak John Rambo

Ketika kehabisan amunisi, Murphy memanjat ke atas tank yang sudah terbakar dan merebut senapan mesin untuk membabati serdadu-serdadu Jerman. Telepon lapangan yang dibawanya digunakan melaporkan titik-titik koordinat posisi lawan. Sehingga meriam-meriam artileri bisa mengirimi tembakan ke titik-titik koordinat yang diberikan Audie.

Audie Murphy, seperti ditulis David T. Zabecki dalam World War II in Europe: An Encyclopedia (2015), “terlibat dalam pertarungan jarak dekat dengan 250 tentara infanteri dan enam tank. Dia membunuh setidaknya lima puluh dan memaksa mundur musuh.”

Benar-benar mirip John Rambo yang diperankan Sylvester Stallone dalam seri film Rambo bikinan Hollywood. Bedanya, Rambo bertempur di masa Perang Dingin.


Ketika menahan laju serdadu Jerman di daerah yang dikenal Cormal Pocket itu, usianya belum genap 20. Banyak sumber mencatat, Audie Murphy lahir pada 20 Juni 1925. Jadi, pada 26 Januari 1945, dia masih 19 tahun 7 bulan 6 hari. Dia memalsukan umur saat mendaftar ke Angkatan Darat Amerika, agar diterima. Sebelum mendaftar dengan tanggal lahir palsu, Angkatan Darat pernah menolaknya, begitu juga Korps Marinir.

Menurut Don Graham dalam No Name on the Bullet (1989), Murphy mendaftar dan diterima pada 30 Juni 1942. Setelah latihan dasar di Camp Wolters, dia mengikuti latihan infanteri di Fort Meade. Dia jadi Prajurit Satu pada 7 Mei 1943, lalu Kopral pada 15 Juni 1943.

Kenaikan pangkatnya terjadi dengan cepat. Di awal 1945, dia sudah jadi Letnan Dua. Dia terlalu muda dengan pangkat itu. Namun, perang membuat itu jadi keharusan.

Dalam hal ini, Murphy seperti Slamet Riyadi dalam Revolusi Indonesia, yang di usia 19 mulai memimpin ratusan prajurit dalam sebuah batalyon. Selain Riyadi, ada juga Daan Mogot yang sudah berpangkat mayor pada 1946, meski belum genap 20 tahun. Namun, aksi tempur mereka tak segemilang Audie Murphy. Hanya sama-sama belia saja di ketentaraan.

Aksi Audie Murphy yang bertempur melawan banyak serdadu Jerman itu mirip dengan aksi Alvin Cullum York (1887-1964) di masa Perang Dunia I. Dalam pertempuran 8 Oktober 1918 di sekitar Chatel-Chéhéry, Perancis, York dan kawan-kawan berhasil menawan 132 serdadu Jerman dan menewaskan 6 orang Jerman sebelum sekompi tentara itu menyerah.

Baca juga:


Dapat Medali, tapi Sisa Hidupnya Tak Tenang

Berkat aksinya di medan pertempuran, Audie Murphy diganjar medali. Salah satunya Congressional Medal of Honor. Aksi dan pengalaman perangnya itu kemudian ditulisnya dalam buku To Hell and Back (1949). Selain buku, kisah itu juga diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama pada 1955. Hingga selesainya Perang Dunia II, Audie Murphy sudah berpangkat letnan satu. Dia jadi pahlawan perang seperti Alvin York dalam Perang Dunia sebelumnya.

Selepas perang, Audie Murphy menjadi aktor, termasuk dalam film-film tentang
cowboy. Audie Murphy meninggal pada 28 Mei 1971 dalam kecelakaan pesawat di Virginia, setelah menjalani hidup sebagai penderita post traumatic stress disorder. Di mana dia tidur dengan pistol terisi dan kecanduan obat tidur.


Audie Murphy ternyata punya pengaruh juga bagi pemuda Indonesia. Terutama pemuda-pemuda yang terlibat dalam Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta) di Sulawesi Utara. Para pemuda itu belajar dari film To Hell and Back.

“Berminggu-minggu film itu diputar di Manado,” aku Jopie Lasut dalam autobiografinya, Lari: Sebuah Catatan Perjuangan, Pelarian, dan Keimanan Dari Permesta-Orde Baru Soeharto (2011: 26).

Seperti diakui Jopie, film itu cukup merasuk di kepala dan semangat mereka. Hingga mereka mampu merebut Pulau Morotai yang ada lapangan terbangnya. Padahal Lapangan Terbang Morotai dijaga pasukan elit bernama Pasukan Gerak Tjepat (PGT) AURI—yang belakangan jadi Paskhas TNI AU. Mereka juga menahan laju pasukan TNI yang berusaha merebut Lapangan Terbang Mapangat. Seperti Audie Murphy menahan maju pasukan Jerman di Colmar Pocket pada 26 Januari 1945 itu.

Baca juga artikel terkait PERANG DUNIA II atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight