tirto.id - Amerika Serikat (AS) mengaku heran dengan Iran yang belum mau menyerah tentang kesepakatan terkait nuklir. Menurut AS, tindakan Iran yang tetap ingin berunding meskipun sudah dikepung secara militer adalah langkah yang mengherankan.
Pernyataan itu disampaikan oleh Steve Witkoff, utusan khusus Presiden AS Donald Trump. Dalam wawancaranya untuk program Fox News, ia menyatakan bahwa Trump heran dengan sikap tak mau menyerah Iran.
"Dia [Trump] mengerti bahwa dia punya banyak alternatif, tetapi dia penasaran mengapa mereka [Iran] belum menyerah," kata Witkoff pada Minggu (22/2/2026).
"Mengapa, di bawah tekanan ini — dengan jumlah kekuatan laut dan angkatan laut di sana — mengapa mereka belum datang kepada kami dan berkata, 'Kami menyatakan bahwa kami tidak menginginkan senjata?'" tambah Witkoff dalam acara yang dipandu menantu Trump itu.
Seturut Al Jazeera, AS kini telah mengerahkan kekuatan udara terbesar di kawasan Teluk sejak invasi Irak pada 2003 silam. Kini, dilaporkan lebih dari 120 pesawat tempur telah ditempatkan di Timur Tengah, bersama kapal induk USS Gerald R Ford dan USS Abraham Lincoln.
Usai Witkoff menyatakan keheranan Trump itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menanggapi hal tersebut melalui akun X miliknya.
"Ingin tahu mengapa kami tidak menyerah? Karena kami adalah orang Iran," tulis Araghchi.
Dalam wawancara terpisah di CBS, Araghchi sebelumnya menyatakan bahwa program nuklir Iran merupakan masalah "martabat dan kebanggaan" nasional.
Menurutnya, Iran sudah menghabiskan banyak sumber daya untuk menciptakan teknologi nuklir dan siap bekerja sama dengan badan pengawas nuklir PBB untuk memastikan teknologi itu digunakan untuk kepentingan pemenuhan energi sipil komersial.
“Kami tidak akan menyerahkannya. Tidak ada alasan hukum untuk melakukan itu selama semuanya damai dan terlindungi,” katanya.
Iran-AS Siap Negosiasi Soal Nuklir di Putaran Ketiga
Meskipun Witkoff menyebut perundingan dengan Iran sebagai negosiasi yang alot, namun tidak begitu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Presiden Iran itu mengatakan bahwa perundingan berjalan dengan "sinyal yang menggembirakan".
Pezeshkian menyebut pihaknya menyambut baik jalannya perundingan, walaupun tetap memperingatkan bahwa Teheran siap menghadapi segala skenario menjelang negosiasi ketiga.
"Iran berkomitmen pada perdamaian dan stabilitas di kawasan ini," tulis Pezeshkian di X pada Minggu.
Pernyataan Pezeshkian itu dikeluarkan setelah Menteri Luar Negeri Oman Badr al-Busaidi mengonfirmasi jadwal pertemuan tak langsung AS-Iran pada Kamis (26/2) mendatang. Perundingan ini dijadwalkan berlangsung di Jenewa, Swiss.
“Dengan senang hati saya konfirmasikan bahwa negosiasi AS-Iran kini dijadwalkan di Jenewa pada hari Kamis ini, dengan dorongan positif untuk melangkah lebih jauh menuju penyelesaian kesepakatan,” kata al-Busaidi.
Dalam kaitannya dengan perundingan AS-Iran, al-Busaidi bertindak sebagai mediator yang menjembatani Washington dan Teheran. Sebelumnya pada 17 Februari lalu, Oman juga jadi mediator pertemuan tak langsung tersebut.
Perundingan putaran kedua pada 17 Februari itu tak menghasilkan kesepakatan substantif, meski Iran menyambut baik hasil kesepakatan berupa kesepahaman nilai-nilai yang jadi panduan dalam negosiasi lebih lanjut.
Menurut Abbas Araghchi, delegasi Iran kini berfokus pada masalah nuklir selama perundingan dengan AS. Sebelumnya, Iran terus mengklaim bahwa Israel mencoba untuk memasukkan kepentingannya dalam negosiasi AS dan Iran.
Kepentingan Israel itu termasuk pelemahan kekuatan militer Iran secara lebih luas, seperti pembatasan rudal balistik. Araghchi lalu menyebut pihaknya akan menolak upaya Washington untuk memperluas cakupan negosiasi ke persoalan lain, termasuk rudal balistik dan dukungan ke kelompok bersenjata di kawasan.
Araghchi menyebut bahwa Iran telah mempersiapkan rancangan proposal untuk "mengakomodasi kekhawatiran kedua belah pihak". Ia optimis proposal ini akan jadi jalan keluar bagi program nuklir Iran.
"Ada beberapa elemen yang mungkin jauh lebih baik dari kesepakatan sebelumnya," kata Araghchi merujuk perjanjian nuklir Iran-AS yang ditengahi Barack Obama pada 2015 lalu.
"Saat ini, tidak perlu terlalu banyak rincian. Tapi kita bisa menyepakati program nuklir kita untuk tetap damai selamanya, dan pada saat yang sama, sanksi-sanksi yang lebih besar akan dicabut," harap Araghchi.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id





























