Menuju konten utama

Apa yang Terjadi jika AS Serang Iran? Ini Berbagai Skenarionya

Perang Iran vs Amerika Serikat sangat mungkin terjadi saat ini dan bisa menimbulkan berbagai keadaan setelah itu. Berikut perkiraan skenarionya.

Apa yang Terjadi jika AS Serang Iran? Ini Berbagai Skenarionya
Foto yang dirilis oleh situs web resmi Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), Sepanews, pada 17 Februari 2026 ini menunjukkan sebuah roket yang ditembakkan selama latihan militer oleh anggota IRGC dan angkatan laut di Selat Hormuz.AFP/ SEPAH NEWS
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Risiko meletusnya perang Iran vs Amerika Serikat (AS) dinilai masih tinggi. Kendati kedua negara tengah berunding, namun gestur keduanya tampak terus menjadikan serangan militer sebagai opsi. Jika konfrontasi militer betulan terjadi, apa saja skenario yang mungkin terjadi?

Sebelumnya, pertemuan kedua AS dan Iran di Jenewa pada Selasa (17/2/2026) masih belum mencapai kesepakatan substantif. Meskipun banyak pihak mengapresiasinya sebagai langkah awal tercapainya kesepakatan ke depan.

Sementara itu, pemimpin kedua negara masih terus saling melancarkan isyarat serangan. Presiden AS Donald Trump belakangan mengisyaratkan penggunaan pesawat pengebom B-2 Spirit dan pangkalan Diego Garcia di Samudera Hindia untuk menyerang Iran jika diperlukan.

Di sisi lain pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei mengisyaratkan bahwa pihaknya tak gentar dengan kekuatan militer AS. Khamenei bahwan menyebut bahwa Iran punya kekuatan untuk menenggelamkan senjata macam kapal induk.

Seturut analisis BBC, jika serangan betul terjadi, maka ada sejumlah skenario yang mungkin terjadi di Iran dan kawasan Teluk. Berikut ulasannya:

1. Serangan Terarah dan Transisi Demokrasi di Iran

Dilihat dari kacamata Barat, serangan AS di Iran bisa saja dilakukan secara terarah dengan target Khamenei, Korps Garda Revolusi (IRGC), fasilitas rudal balistik, dan program nuklir. Jika skenario ini terjadi, demokratisasi ala Barat mungkin berlangsung di Iran.

Walaupun, dalam sejarahnya, intervensi militer Barat di Timur Tengah tak pernah menjadikan kawasan itu stabil. Intervensi militer di Irak dan Libya, misalnya, membawa pertumpahan darah bertahun-tahun.

2. Rezim Republik Islam Iran Bertahan, tetapi Kebijakan Dimoderasi

AS mungkin saja sejak awal menargetkan Khamenei dalam operasi intervensinya di Iran. Hal ini dilakukan dengan harapan Iran dapat melemah setelah pemimpinnya ditangkap/dibunuh.

AS bisa jadi menjadikan Iran jadi serupa dengan Venezuela pasca penculikan Maduro. Publik akan tetap melihat kekuasaan bekerja, namun kali ini bersikap kompromistis terhadap keinginan AS.

3. Dimulainya Junta Militer IRGC

Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) hingga kini menjadi salah satu elemen kunci bagi Khamenei untuk melemahkan gejolak protes. Sistem komandonya yang unik membuatnya tak hanya jadi alat pertahanan negara tetapi juga alat politik.

Jika serangan AS ke Iran dilancarkan dan Khamenei dieliminasi, maka ada potensi IRGC yang selama ini tak pernah diperlemah justru naik ke tampuk kekuasaan. Jika demikian, junta militer Iran akan dimulai.

4. Instabilitas Kawasan Teluk dan Iran Targetkan Sekutu AS

Sejak Trump secara terbuka mengancam Teheran atas perlakuan mereka terhadap para demonstran, Khamenei telah mengungkapkan bahwa akan membalas setiap intervensi militer AS. Kala itu, Khamenei menyebut "jarinya berada di pelatuk" dan siap memberikan "tamparan di wajah" AS jika diserang.

Para pengamat menilai bahwa serangan balasan Iran mungkin tak akan secara langsung menargetkan AS di daratan Amerika. Namun, Iran berpotensi menyerang pangkalan militer AS di kawasan Teluk.

Selain Iran, mayoritas negara Arab di kawasan Teluk adalah sekutu AS secara militer. Negara seperti Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Qatar merupakan tempat berdirinya pangkalan militer AS.

Namun, risiko ini tak hanya terjadi di kawasan Teluk. Negara lain seperti Yordania dan Israel yang telah lama jadi musuh Iran dan sekutu AS, juga berpotensi diserang.

5. Menutup Selat Hormuz

Serangan AS ke Iran juga berpotensi membuat Selat Hormuz akan ditutup atau setidaknya disabotase. Seperti ketika Iran memasang ranjau laut di selat itu pada medio 1980-an, langkah serupa juga bisa saja dilakukan.

Selat Hormuz merupakan jalur distribusi penting bagi Gas Alam Cair (LNG) dunia. Sekitar 20 persen LNG diekspor melaluinya. Sebanyak 20-25 persen minyak dan produk sampingan lainnya juga melewati selat ini setiap tahun.

6. Serangan Balasan, Kapal AS Ditenggelamkan

Meskipun di atas kertas armada Angkatan Laut AS unggul jauh dari militer Iran. Namun, tetap saja ada kemungkinan tenggelamnya kapal AS di tengah konfrontasi tersebut.

Hingga kini, pasukan IRGC secara terbuka percaya dengan kemampuan mereka untuk mempertahankan diri. Belakangan, petinggi IRCG juga menyebut bahwa ada kemungkinan mereka menggunakan pulau-pulau kecil di Selat Hormuz sebagai fasilitas militer.

Dalam perang asimetris, lumpuhnya kekuatan militer negara adidaya dapat mengubah jalannya konflik yang berlangsung.

7. Rezim Runtuh, tetapi Diganti Kekacauan

Keruntuhan rezim akibat intervensi militer Barat kerap kali jadi pelecut kekacauan, perpecahan, dan pemberontakan. Dunia pernah melihatnya di Suriah, Yaman, dan Libya.

Sebagai salah satu negara Timur Tengah dengan penduduk terbesar, konflik bersenjata antarsuku di Iran juga berpotensi tinggi terjadi ketika rezim runtuh secara tiba-tiba.

Jika kemudian berdampak pada perang saudara, konflik bersenjata, konflik sektarian, dan kekacauan di wilayah Iran, hal ini akan memicu krisis kemanusiaan dan pengungsi dalam skala yang besar.

Baca juga artikel terkait ANCAMAN INVASI TRUMP atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar