Menuju konten utama

AS-Iran Berunding Soal Nuklir di Oman, Apa Saja yang Dibahas?

Iran-AS akan melakukan pembicaraan mengenai kebijakan nuklir di Oman, Jumat ini. Simak materi yang kemungkinan dibahas dalam pertemuan.

AS-Iran Berunding Soal Nuklir di Oman, Apa Saja yang Dibahas?
Para demonstran berjalan menuju kedutaan Iran selama unjuk rasa mendukung protes nasional di Iran, di London, Inggris, 11 Januari 2026. REUTERS/Isabel Infantes
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Amerika Serikat (AS) dan Iran dijadwalkan berunding terkait nuklir pada Jumat (6/2/2026) mendatang. Perundingan ini dilaporkan akan terjadi di Muscat, Oman. Lantas, apa saja yang akan dibahas?

Melansir Al Jazeera, jadwal perundingan ini telah dikonfirmasi oleh Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Rabu (4/2/2026) lalu. Pertemuan di Muscat pada Jumat pukul 10.00 waktu setempat (13.00 WIB) itu disepakati setelah sebelum penentuan waktu dan tempat perundingan dilaporkan berjalan alot.

"Saya berterima kasih kepada saudara-saudara Oman kami karena telah membuat semua pengaturan yang diperlukan," kata Araghchi.

Seorang pejabat Gedung Putih yang tak disebutkan namanya juga mengonfirmasi jadwal pertemuan itu kepada AP. Menurutnya perundingan itu semula akan bertempat di Turki, namun berubah menjadi Oman.

Apa Saja yang Dibahas dalam Perundingan Nuklir AS-Iran?

Seturut dua sumber anonim Al Jazeera, inti pembahasan dalam perundingan AS-Iran terkait nuklir diungkap para mediator dari Qatar, Turki, dan Mesir. Salah satu di antaranya adalah tentang pembatasan signifikan bagi Iran untuk memperkaya uranium.

Selain kesepakatan terkait ambang batas uranium yang boleh dimiliki Iran, perundingan itu juga disebut akan membahas pembatasan rudal balistik dan persenjataan Iran dan sekutunya di kawasan Teluk.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut bahwa Washington berharap dapat membahas sejumlah masalah di luar program nuklir Iran. Hal itu termasuk diskusi terkait rudal balistik, dukungan jaringan proksi, dan "perlakuan terhadap rakyat mereka sendiri".

"Kepemimpinan Iran di tingkat ulama tidak mencerminkan rakyat Iran. Saya tidak tahu negara lain mana pun yang memiliki perbedaan lebih besar antara orang-orang yang memimpin dengan orang-orang yang tinggal di sana," kata Rubio.

Perundingan terkait nuklir antara Iran dan AS sebenarnya telah berlangsung pada Juni 2025 lalu. Namun, kala itu perundingan dihentikan karena Israel melancarkan serangan terhadap Iran.

AS sempat bergabung dalam Perang 12 Hari Israel vs Iran itu, membom beberapa situs nuklir Iran.

Ekonomi Iran terus merosot tajam setelah perang tersebut berakhir. Puncaknya, gelombang protes masyarakat sipil meluas secara nasional sejak Desember 2025 setelah nilai mata uang Iran hancur lebur.

Otoritas Iran kemudian merespons gelombang protes itu dengan kekerasan eksesif, membuat ribuan warga Iran terbunuh. Situasi itu dikomentari Washington secara terbuka, Presiden AS Donald Trump menyerukan para pengunjuk rasa untuk "mengambil alih" pemerintahan.

Kini, armada perang AS yang dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln bersiaga di suatu tempat di Laut Arab. Hal ini meningkatkan kekhawatiran akan konflik bersenjata Iran-AS yang diperkirakan bakal mengguncang kawasan Teluk.

Baca juga artikel terkait ANCAMAN INVASI TRUMP atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar