Menuju konten utama

Konflik Iran vs AS: Kenapa Teheran Mungkin Memilih Konfrontasi?

Perang Iran vs Amerika Serikat bisa meletus kapan pun. Meski Iran mau diajak berunding soal nuklirnya, bukan berarti negera tersebut "menyerah" pada AS.

Konflik Iran vs AS: Kenapa Teheran Mungkin Memilih Konfrontasi?
Ayatollah Ali Khamenei menghadiri pertemuan dengan para pejabat di Teheran, Iran, Rabu, 3 April 2024. (Kantor Pemimpin Tertinggi Iran melalui AP)

tirto.id - Perundingan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) terus berlangsung. Namun, ketegangan dan risiko konflik antara kedua negara tak kunjung menurun. Ada potensi Teheran lebih memilih konfrontasi ketimbang diplomasi.

Negosiasi tak langsung antara Iran dan AS putaran kedua pada Selasa (17/2/2026) di Jenewa tidak menyurutkan eskalasi pengerahan kekuatan militer AS di kawasan Teluk. Pengerahan USS Gerald R Ford, kapal induk terbesar di dunia, tampak lebih mirip persiapan alih-alih sekadar tekanan.

Iran juga bukan tanpa perlawanan. Militer Iran melakukan latihan bersama dengan Rusia dan Cina pada pekan ini, di tengah pengerahan militer AS yang besar di Teluk.

Sementara itu, pemimpin kedua negara masih terus saling serang. Trump mulai menyebut penggunaan pangkalan Diego Garcia di Samudera Hindia dan pesawat pengebom B-2 Spirit jika opsi serangan dilancarkan.

Di sisi lain, pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, berulang kali menyatakan tak gentar dengan AS. Secara terbuka, Khamenei menyiratkan kemampuan Iran untuk menenggelamkan fasilitas militer macam kapal induk.

Khamenei juga terus memprotes jalannya perundingan dengan menuduh Israel telah ikut campur untuk memaksakan kepentingannya dalam perundingan Iran dan AS. Jalannya perundingan juga mungkin jadi alasan lebih lanjut, mengapa Iran lebih memilih konfrontasi.

Alasan Iran Tidak Menyerah dan Akan Pilih Konfrontasi

Perundingan Selasa lalu yang dilangsungkan di kedutaan Oman untuk Jenewa, berakhir tanpa kesepakatan substantif. Oleh Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, pertemuan itu menghasilkan kesepahaman atas "prinsip-prinsip panduan" yang akan digunakan sebagai dasar untuk mulai menyusun teks perjanjian formal lebih lanjut.

Sementara itu, Gedung Putih menyebut perundingan itu sebagai kemajuan. Namun, sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt menyebut bahwa Washington dan Teheran masih punya pandangan yang "jauh berbeda" dalam beberapa isu kunci.

Seturut analisis jurnalis BBC Persia, Amir Azimi, perbedaan pandangan dalam perundingan itu agaknya jadi soal mengapa Iran tak kunjung melunak dan justru condong memilih konfrontasi dalam pernyataan publiknya.

Washington dilaporkan menginginkan beberapa hal dalam kesepakatan dengan Iran yakni larangan pengayaan uranium, pembatasan jangkauan rudal balistik, penghentian dukungan terhadap kelompok bersenjata di kawasan, serta mengubah perlakuan Iran terhadap warganya sendiri.

Bagi para pemimpin Iran, permintaan AS itu agaknya sulit direalisasikan. Dalam sudut pandang Teheran, syarat-syarat AS itu dipandang lebih berbahaya daripada konfrontasi.

Permintaan tentang pembatasan jangkauan rudal balistik, misalnya. Fasilitas ini telah lama jadi andalan militer Iran di tengah angkatan udara mereka yang menua. Membatasi jangkauan fasilitas militer yang paling dibanggakan agaknya sulit dilakukan bagi Teheran.

Dukungan Iran terhadap kelompok bersenjata di kawasan Teluk selama ini, dianggap banyak pihak menjadi strategi pertahanan dan pencegahan Iran di Teluk. Dengan sekutu yang kuat di kawasan itu, Iran telah bertahan selama puluhan tahun dengan membangun jaringan bersama kelompok bersenjata dan menjadikan mereka sebagai "Poros Perlawanan".

Poros itu berguna bagi Iran untuk menjauhkan konfrontasi dari perbatasan dan mengalihkan tekanan lebih dekat ke Israel.

Sementara itu, program nuklir juga merupakan elemen strategis dalam pertahanan Iran. Sejauh ini Iran terus bersikeras bahwa program pengayaan uranium mereka selama ini merupakan bagian dari infrastruktur energi sipil komersial.

Akan tetapi, banyak pihak memandang hal itu sebagai langkah strategis pertahanan. Hal ini dikarenakan, begitu uranium Iran mencapai "ambang batas kemampuan", hanya perlu satu keputusan politik untuk mengubah fasilitas nuklir sipil komersial menjadi militer.

Oleh karenanya, menyepakati permintaan AS dapat berarti Iran telah sepenuhnya tunduk dan "menyerah". Kekuatannya di kawasan Teluk akan dilucuti. Dengan demikian, konfrontasi militer tetap menjadi kemungkinan menjadi opsi untuk melawan AS.

Terlebih konfrontasi militer akan menyeret Teluk dalam ketidakstabilan politik. Hal ini akan turut menghantam AS dan sekutunya di Timur Tengah.

Baca juga artikel terkait ANCAMAN INVASI TRUMP atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar