Apple Rambah Bisnis Streaming & Kartu Kredit: Jualan iPhone Lesu?

Infografik Imbas sengketa dagang AS Cina Pada Apple
Peter Stern, VP Service untuk Apple, berbicara pada acara khusus Apple di Steve Jobs Theater di Cupertino, California, Amerika Serikat, Senin (25/3/2019). ANTARA FOTO/REUTERS/Stephen Lam/djo
Oleh: Faisal Irfani - 28 Maret 2019
Dibaca Normal 3 menit
Ada streaming, majalah, gim, hingga kartu kredit. Inilah layanan terbaru yang dikeluarkan Apple untuk mengantisipasi turunnya pendapatan.
tirto.id - Panggung Steve Jobs Theatre di Cupertino, California, adalah tempat di mana produk-produk dari Apple diperkenalkan di publik. Di panggung inilah Steve Jobs meluncurkan iPhone dan iPad.

Namun, Senin (25/3) kemarin, Apple melakukan hal yang berbeda di panggung yang sama. Tak ada gawai termutakhir yang dipromosikan CEO Apple Tim Cook selama dua jam acara berlangsung. Cook justru mengumumkan layanan baru berupa platform streaming hingga kartu kredit.

Beberapa pihak terkejut dengan keputusan Apple. Terlepas dari pendapat yang berseliweran, satu hal yang pasti: layanan baru Apple dinilai berpotensi mengancam eksistensi sesama raksasa teknologi, Hollywood, dan bank.

Paket Lengkap dalam Satu Kantong

The Economist mengabarkan salah satu tujuan layanan baru Apple adalah ekspansi pengguna. Gerak Apple tak ubahnya mirip Amazon Prime yang mewajibkan konsumen membayar biaya langganan bulanan untuk multi-layanan, dari berita, permainan, penyimpanan daring, musik, dan video.

Layanan pertama adalah Apple TV+ yang menawarkan konten seperti acara TV, film, dan dokumenter eksklusif. Apple menggandeng beberapa nama besar mulai dari Oprah Winfrey, Steven Spielberg, Jennifer Aniston, Reese Witherspoon, Octavia Spencer, J.J. Abrams, Jason Momoa, sampai M. Night Shyamalan, sebagai pencipta konten.

“Kami merasa terhormat barisan storyteller terbaik di dunia, baik yang bekerja di depan maupun di belakang kamera, akan hadir di Apple TV+. Kami sangat senang menghadirkan mereka ke hadapan pemirsa dan tak sabar memulainya pada musim gugur ini,” kata Eddy Cue, Wakil Presiden Senior Apple untuk Perangkat Lunak dan Layanan Internet, seperti dikutip dari laman resmi Apple, Selasa (26/3).

Kehadiran Apple TV+ kian menambah sesak layanan streaming yang sudah ada. Apple TV+ akan bersaing ketat dengan layanan lain seperti Netflix, Amazon, HBO Now, serta CBS All Access. Pesaing utama Apple TV+ tetaplah Netflix yang lebih dulu populer dengan 139 juta pengguna di 190 negara, dan Amazon yang punya lebih dari 100 juta pelanggan.


Apple dihadapkan pada potensi persaingan yang ketat. Namun, para analis berpendapat bahwa Apple bakal mungkin terbantu dengan sekitar 1,4 miliar perangkat iOS aktif di seluruh dunia. Selain itu, Apple juga mencoba menghadirkan unsur kebaruan dengan fitur privasi dan konten ramah keluarga.

Kehadiran Apple TV+ sendiri ditanggapi biasa saja oleh Netflix. Reed Hastings, CEO Netflix, mengonfirmasi perusahaannya tidak akan ambil bagian dalam layanan video streaming Apple. Ia menyatakan meski Apple merupakan perusahaan yang hebat, Netflix tetap ingin mengendalikan "pengalaman" dalam aplikasinya sendiri.

Berikutnya Apple News+, sebuah layanan majalah berbayar yang mencakup lebih dari 300 publikasi. Apple News+ menawarkan konten dengan cakupan yang lebih luas daripada layanan sebelumnya, Apple News. Apple juga mengklaim bahwa Apple News+ disokong sumber publikasi yang lebih kredibel.

Lauren Kern, Kepala Editor Apple News, menegaskan layanan ini sesuai dengan komitmen perusahaan untuk mendukung jurnalisme berkualitas. Dengan Apple News+, Kern bilang, pengguna akan menemukan konten yang belum pernah mereka jumpai sebelumnya.

“Bersama Apple News+, kami ingin merayakan pekerjaan besar yang dilakukan oleh majalah dan outlet berita,” ujar Kern seperti dikutip dari siaran resmi Apple, Selasa (26/3).

Beberapa publikasi yang masuk daftar Apple News+ antara lain National Geographic, New York Magazine, The New Yorker, Rolling Stone, Sports Illustrated, TIME, Vanity Fair, Vogue, WIRED, The Atlantic, ELLE, sampai Esquire. Untuk bisa mengakses Apple News+, pengguna harus mengeluarkan uang sebesar 9,99 (di AS) hingga 12,99 dolar (di Kanada).


Produk selanjutnya adalah Apple Card, kartu kredit untuk pengguna iPhone. Layanan ini bekerjasama dengan Mastercard dan Goldman Sachs. Apple Card menawarkan kemudahan bertransaksi seperti Apple Pay dan didukung kemampuan untuk mengelola kartu kredit yang terintegrasi dengan aplikasi Apple Wallet di iPhone.

Apple Card menawarkan beberapa kemudahan, di antaranya penyederhanaan proses pemakaian, menghilangkan biaya, menawarkan suku bunga rendah, dan memberikan tingkat privasi serta keamanan yang baru.

Untuk menikmati layanan Apple Card, pengguna cukup mendaftar melalui aplikasi Wallet di iPhone. Proses registrasi akan selesai dalam hitungan menit dan pengguna dapat segera bertransaksi di retail offline, toko aplikasi, maupun toko online di seluruh dunia.

Hal yang menarik dari Apple Card adalah tampilan informasi transaksi secara spesifik, seperti label transaksi dengan nama serta lokasi merchant yang memanfaatkan teknologi machine learning dan Apple Maps. Transaksi akan dikelola sesuai kategori, dari makanan, belanja, hingga hiburan. Apple Card juga menampilkan ringkasan pengeluaran mingguan dan bulanan.

Tak hanya itu, Apple Card juga menawarkan promo cashback berupa Daily Cash untuk setiap transaksi. Sebagai contoh, setiap pelanggan yang bertransaksi di Apple Store dan menggunakan Apple Card akan menerima bonus Daily Cash sebesar tiga persen dari nilai belanja.

Daya tarik lain Apple Card adalah tidak adanya biaya tahunan, denda keterlambatan, atau limit batas penggunaan. Apple mengklaim bahwa suku bunga Apple Card adalah salah satu yang terendah dalam industri ini.

Pada saat bersamaan, Apple Card menawarkan tingkat keamanan tinggi lantaran didukung chip keamanan khusus yang digunakan oleh Apple Pay. Setiap transaksi dengan Apple Card dilindungi oleh Touch ID atau Face ID serta kode dinamis untuk proses verifikasi. Rencananya, Apple Card akan tersedia di AS mulai musim panas ini.

Imbas dari Anjloknya Pendapatan

Apple boleh saja mengklaim produk-produk layanan baru ini sebagai upaya ekspansi bisnis. Tapi, layanan baru tersebut sebetulnya merupakan cara Apple untuk memperbaiki tingkat pendapatan yang menurun dalam beberapa waktu terakhir.

Seperti dilaporkan BBC, pendapatan Apple dari produk andalannya, iPhone, turun sebesar 15 persen pada kuartal Januari silam. Secara keseluruhan, pendapatan perusahaan turun 5 persen dari tahun lalu menjadi sekitar 84,3 miliar dolar.



Penurunan tersebut tak bisa dilepaskan dari performa buruk Apple di Cina. Pertumbuhan ekonomi yang melambat di Negeri Tirai Bambu itu tak bisa dipungkiri memberikan tekanan cukup signifikan kepada Apple. Pendapatan Apple di Cina, mengutip The Guardian, berada di kisaran 13,17 miliar dolar, turun hampir 5 miliar dolar dari tahun lalu.


Kontraksi pendapatan Apple juga disebabkan oleh fluktuasi dolar. Tim Cook menyebut bahwa nilai tukar dolar yang kuat membuat produk Apple relatif lebih mahal. Dampaknya: merusak penjualan Apple di pasar negara berkembang. Gambarannya seperti ini. Menurut situs resmi Apple, produk iPhone XS dengan ukuran 5,8 inci punya harga lebih mahal di Cina (£989) dibanding AS maupun Inggris (sama-sama £763).

Sepasang faktor tersebut mau tak mau membuat Apple memangkas perkiraan penjualan mereka senilai 55 miliar dolar, menyebabkan saham mereka ditangguhkan untuk sementara waktu dan guncangan di antara para investor mereka di seluruh dunia.

Belum ada perkiraan yang pasti apakah layanan baru ini akan menyelamatkan pendapatan Apple yang sempat merosot. Namun, Rubin Lauren dan Peter Rubin dalam “The Real Choice You Make When You Subscribe to Apple Services” yang dipublikasikan Wired menyatakan layanan baru Apple dirancang untuk mengunci lebih banyak pengguna ke dalam universe Apple.

Apple nampaknya berharap ketika pengguna mencoba satu layanan, maka potensi mereka untuk mencoba layanan lain, yang terintegrasi atau tidak, terbuka luas. Kendati banyak keraguan, Apple (berupaya) menawarkan banyak kemudahan, hal-hal menarik, dan akses tak terbatas kepada pengguna jika mereka bersedia tunduk pada aturan main. Jika itu sudah terjadi, maka tinggal tunggu waktu saja bagi Apple untuk mengeruk pendapatan yang lebih banyak.

Baca juga artikel terkait APPLE atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Marketing)

Penulis: Faisal Irfani
Editor: Windu Jusuf
DarkLight