Menuju konten utama

Antusiasme Warga Denpasar Sambut Nyepi Lewat Pawai Ogoh-Ogoh

Rangkaian pawai (peed aya) ogoh-ogoh di Kota Denpasar tersebut diberi nama Kasanga Festival. Simak selengkapnya.

Antusiasme Warga Denpasar Sambut Nyepi Lewat Pawai Ogoh-Ogoh
Ogoh-ogoh “Jala Sidhi Shuvita” milik Banjar Ceramcam Kesiman yang ditampilkan dalam Kasanga Festival 2026 di Catur Muka, Kota Denpasar, Jumat (06/03/2026). tirto.id/Sandra Gisela
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kawasan di sekitar Patung Catur Muka, Kota Denpasar, dipadati oleh masyarakat yang berlalu-lalang, sejak siang hari, Jumat (6/3/2026). Mereka antusias berdiri di trotoar sepanjang jalan menuju patung tersebut untuk melihat pawai ogoh-ogoh yang sebentar lagi akan melewati tempat itu.

Tidak lama, terdengar bunyi gamelan dan iring-iringan yang berpadu dengan sorak-sorai masyarakat. Rombongan anak muda mempertunjukkan ogoh-ogoh yang mereka telah rancang sejak tahun lalu, sambil memutari Patung Catur Muka. Bendera berbagai warna dan tari-tarian tradisional turut ditampilkan mengiringi ogoh-ogoh tersebut.

Rangkaian pawai (peed aya) ogoh-ogoh di Kota Denpasar tersebut diberi nama Kasanga Festival. Nama tersebut identik dengan Sasih Kesanga atau bulan kesembilan dalam Kalender Saka. Pada Tilem (bulan mati) Sasih Kesanga, umat Hindu di Bali kerap melaksanakan upacara Tawur Agung Kesanga, yakni penyucian Bhuwana Agung (alam semesta) dan Bhuwana Alit (manusia) dari pengaruh negatif Bhuta Kala (roh).

Pada Tilem Kesanga itu pula, tradisi pawai ogoh-ogoh kerap dilaksanakan. Pawai tersebut biasanya diadakan untuk menetralisir energi negatif dan menyucikan lingkungan dengan cara mengarak ogoh-ogoh mengelilingi desa. Biasanya, pawai tersebut dilaksanakan pada malam Pangrupukan atau satu hari sebelum Nyepi.

Pawai Ogoh-Ogoh

Pawai ogoh-ogoh saat Kasanga Festival 2026 di Catur Muka, Kota Denpasar, Jumat (06/03/2026). tirto.id/Sandra Gisela

Namun, Kota Denpasar punya caranya tersendiri untuk memperlihatkan kebudayaan Bali sekaligus ajang kreativitas masyarakatnya. Pawai tersebut diadakan beberapa hari sebelum Nyepi di Catur Muka atau patung yang wajahnya menghadap ke arah empat penjuru mata angin. Tujuannya adalah sebagai wadah kreativitas yowana (generasi muda) Kota Denpasar, sekaligus kompetisi yang dinilai bergengsi oleh pemuda di sana.

Dikatakan bergengsi karena ogoh-ogoh yang ditampilkan dalam parade tersebut hanya berjumlah 16 ogoh-ogoh dari 223 Sekaa Teruna-Teruni (kelompok pemuda) di Kota Denpasar. Ogoh-ogoh tersebut telah diseleksi secara ketat oleh dewan juri hingga menghasilkan 16 nominasi terbaik dari empat kecamatan di Kota Denpasar.

Wayan Sutanaya dari Sekaa Teruna Swadharmita, Banjar Ceramcam Kesiman, mengakui persaingan menuju 16 besar tersebut memang sangat ketat. Banjar Ceramcam memulai pembuatan ogoh-ogoh sejak awal Desember 2025 hingga Februari 2026 dengan melibatkan kreativitas pemuda Sekaa Teruna.

“Pemudanya sangat mendukung dan berpartisipasi, dari awal kami sudah merencanakan untuk ikut dalam Kasanga Festival. Sekarang sudah tarung bebas, tidak dibagi lagi antara empat kecamatan. Ini memang ajang yang bergengsi bagi kami setiap tahunnya,” kata Sutanaya kepada Tirto di lokasi Kasanga Festival, Jumat (6/03/2026).

Pemuda-pemuda di Sekaa Teruna Swadharmita merancang ogoh-ogoh tersebut dengan mempertimbangkan aspek-aspek yang harus ditonjolkan, serta tema besar “Jala Sidhi Shuvita” atau memuliakan air. Setelahnya, mereka mulai merancang ogoh-ogoh dengan bahan dasar kertas, plester, dan tisu.

Sutanaya menjelaskan, ogoh-ogoh karya mereka diberi nama “Jala Sidhi Sweta” yang diambil dari prosesi Manusa Yadnya “Ngogo Tuwun Tanah”. Prosesi tersebut merupakan momen ketika bayi pertama kali menapakkan kakinya di Bumi. Dalam Lontar Manusa Yadnya, prosesi tersebut merupakan awal dari perjalanan hidup manusia di alam sekala.

“Konsepnya adalah anak kecil yang baru lahir diupacarai dengan media air untuk menyucikan,” jelasnya.

Ogoh-ogoh Raksasa Kala Nila Tirta

Ogoh-ogoh “Raksasa Kala Nila Tirta” milik Banjar Saih yang ditampilkan dalam Kasanga Festival 2026 di Catur Muka, Kota Denpasar, Jumat (06/03/2026). tirto.id/Sandra Gisela

Anak kecil tersebut dikelilingi oleh Catur Sanak (empat saudara spiritual) yang meliputi Anggapati atau unsur api, Mrajapati atau unsur tanah, Banaspati atau unsur angin, dan Banaspati Raja atau unsur air. Catur Sanak tersebut ditampilkan dengan bentuk yang besar untuk menyimbolkan kekuatan alam yang belum selaras.

“Setelah dipajang di Kasanga Festival selama tiga hari, kami akan membawanya kembali ke Kesiman untuk dipersiapkan menyambut Nyepi,” ucap Sutanaya.

Sementara itu, Putu Aditya Pratama dari Sekaa Teruna Semadhi Dharma Putra, Banjar Pohgading, Denpasar Utara melihat pemuda-pemuda banjar tersebut sangat antusias karena pembuatan ogoh-ogoh merupakan momen satu tahun sekali. Sebanyak 123 pemuda Sekaa Teruna, baik yang masih bersekolah maupun sudah bekerja, ikut serta dalam proses pembuatannya.

“Mereka mau ikut antusias dalam proses pembuatan, pelaksanaan, dan latihan. Itu antusiasmenya cukup besar dan saya merasa bangga. Saya juga minta rekan-rekan untuk meningkatkan lagi kreativitas dan loyalitasnya,” kata Aditya.

Aditya mengungkap Kasanga Festival merupakan momen yang ditunggu oleh setiap Sekaa Teruna di Kota Denpasar. Khusus di Banjar Pohgading, mereka sudah memulai pembuatan ogoh-ogoh sejak 16 Desember 2025 dengan menggunakan kerangka besi, rotan, dan koran-koran bekas.

“Belum tentu setiap tahun bisa masuk. Untuk sekarang, kebetulan ini tarung bebas yang dari setiap kecamatan digabung, dicari 16 terbaik. Gengsinya lumayan tinggi,” tambahnya.

Ogoh-ogoh yang dirancang dinamakan “Tirta Mumbul” atau sumber air yang memancar dari alam. Sumber air tersebut berasal dari tunggul pohon atau batang kayu, serta dipercaya sebagai sarana penglukatan atau penyucian diri dengan air. Dalam prosesi penglukatan, terdapat pemangku yang akan menuntun jalan manusia untuk meminta air suci.

“Raksasa digambarkan sebagai roh jahat yang ada di dalam diri manusia. Untuk wujud dewa, kami mengambil Dewa Wisnu yang merupakan perwujudan air. Setelah dilukat, Dewa Wisnu akan turun untuk membawa kesejahteraan bagi manusia, serta melebur semua roh-roh jahat pada rumah,” jelas Aditya.

Pawai Ogoh-Ogoh

Pawai ogoh-ogoh saat Kasanga Festival 2026 di Catur Muka, Kota Denpasar, Jumat (06/03/2026). tirto.id/Sandra Gisela

Filosofi dari karya tersebut terletak pada elemen tunggul kayu kering yang memunculkan air. Menurut Aditya, air tersebut mampu memberikan kehidupan, meskipun berada di tempat yang tampak mati. Oleh sebab itu, air menjadi simbol kesucian dan kekuatan alam yang patut dimuliakan.

“Tidak semua yang terlihat mati itu tidak ada kehidupan. Pohonnya kami gambarkan memang seperti pohon mati, tetapi masih ada sumber kehidupan atau air suci ini,” imbuhnya.

Euforia pembuatan ogoh-ogoh juga dirasakan pemuda dari Sekaa Teruna Eka Dharma, Banjar Saih, Denpasar Utara. Mereka merancang ogoh-ogoh “Raksasa Kala Nila Tirta” dengan bahan-bahan ramah lingkungan, seperti kardus, bambu, daun pisang kering, serta kulit jagung kering. Persiapan tersebut sudah dilaksanakan sejak November 2025.

“Kami baru pertama kali mengikuti Kasanga Festival dan syukurnya kami mendapatkan kesempatan untuk hadir di sini. Antusiasme pemuda yang ada sangat tinggi dan terdapat sinergi yang bagus,” ucap Mardiana, salah satu anggota Sekaa Teruna Eka Dharma.

Mardiana mengatakan, mereka menggunakan ogoh-ogoh untuk mengingatkan isu yang ada di Bali, yakni pencemaran yang ada di aliran air. Bhuta Kala yang digambarkan dalam karya tersebut merupakan hakim alam semesta yang menimbang kesucian niat manusia terhadap air.

“Kami ingin mengingatkan masyarakat agar menjaga aliran-aliran air, agar manusia mengingat tentang keseimbangan kembali. Kami lakukan ini sebagai pengingat karena kita bisa lihat di sekeliling kita, itu pencemaran yang terjadi di aliran air tersebut,” jelasnya.

Tarik Perhatian Turis Asing dan Lokal

Kepadatan di sepanjang titik nol kilometer Kota Denpasar menjadi bukti pawai ogoh-ogoh tersebut diminati oleh banyak orang. Tidak hanya warga lokal saja yang datang berkerumun, tetapi terlihat beberapa turis asing mengambil gambar dan menonton jalannya pawai dengan antusias.

Ricky yang berasal dari Amerika Serikat adalah salah satunya. Dia tampak mengangkat ponsel dan merekam pawai ogoh-ogoh tersebut, lalu sesekali menganggukkan kepala sambil tersenyum.

“Sangat bagus, sangat kreatif, dan sangat indah. Saya melihat masyarakat Bali menciptakan kecantikkan dari tradisi,” katanya ketika ditemui Tirto pada saat menonton Kasanga Festival 2026.

Kota Denpasar bukanlah tempat pertama kali Ricky melihat ogoh-ogoh, tetapi dia antusias karena setiap tempat di Bali memperlihatkan ogoh-ogoh dengan ciri khasnya masing-masing. Selain di Kota Denpasar, Ricky juga ingin melihat ogoh-ogoh di kabupaten lainnya, seperti di Kabupaten Badung.

“Mereka memiliki ogoh-ogoh yang berbeda di tempat ini. Saya sangat menyukai itu. Terlebih ada banyak anak-anak muda yang berpartisipasi di sini, saya sangat menikmatinya,” ucapnya.

Pawai Ogoh-Ogoh

Pawai ogoh-ogoh saat Kasanga Festival 2026 di Catur Muka, Kota Denpasar, Jumat (06/03/2026). tirto.id/Sandra Gisela

Sementara itu, Andika, pengunjung yang berasal dari Singaraja, Kabupaten Buleleng, baru pertama kali melihat pawai ogoh-ogoh Kota Denpasar. Dia datang berdasarkan informasi dari teman-temannya dan melihat euforia di Kota Denpasar lebih tinggi dibandingkan kampung halamannya.

“Saya pertama kali ke sini. Di sini penuh, banyak sekali orang-orang yang mau ke sini, tetapi saya tertarik dengan ogoh-ogoh yang ditampilkan,” ungkapnya.

Andika ingin merekam pawai ogoh-ogoh Kota Denpasar untuk diabadikan, terlebih karena letak kampung halamannya cukup jauh dan karena kreativitas anak muda di Kota Denpasar yang tinggi. Jauh di kampung halamannya, Andika mengaku belum pernah membuat ogoh-ogoh semeriah Kota Denpasar.

“Karya-karya di sini diapresiasi, sehingga makin banyak anak-anak muda yang ikut membuat ogoh-ogoh di Kota Denpasar,” tambahnya.

Ruang Produktif Kota Denpasar

Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, melihat pawai ogoh-ogoh tersebut sebagai dasar dan tolak ukur dalam pengembangan kreativitas dan usaha memperkuat budaya di ibu kota Bali. Dia melihat para pemuda Kota Denpasar berkompetisi secara produktif dengan konsep etika, logika, dan estetika.

“Mudah-mudahan dengan pelaksanaan pawai ini, bisa menjadi tuntunan membuat ketentraman sebagai sarana meningkatkan aktivitas dan kreativitas, sekaligus memperkuat identitas budaya Bali,” kata Jaya Negara.

Jaya Negara juga melihat antusiasme masyarakat dalam menonton pawai ogoh-ogoh yang sangat tinggi. Oleh sebab itu, dia berharap pawai ogoh-ogoh tersebut dapat menjadi ajang mempererat kebersamaan dan menjaga nilai-nilai budaya yang telah diwariskan secara turun temurun.

Sementara itu, Ketua Pasikian Yowana Kota Denpasar, Anak Agung Made Angga Harta Yana, menjelaskan Kasanga Festival pada tahun 2026 merupakan kali pertama mereka mengusung konsep pawai atau peed. Format tersebut diadakan agar penonton tidak hanya menumpuk di kawasan Catur Muka, tetapi di sepanjang rute pawai.

“Kasanga Festival ini diharapkan mempertemukan antara beragam kreativitas yang ada, tentunya berkaitan dengan Hari Suci Nyepi dengan tetap memegang teguh nilai-nilai kearifan lokal yang ada,” ucap Angga.

Baca juga artikel terkait NYEPI atau tulisan lainnya dari Sandra Gisela

tirto.id - News Plus
Kontributor: Sandra Gisela
Penulis: Sandra Gisela
Editor: Anggun P Situmorang