tirto.id - Pendaki asal Brasil bernama Juliana Marins ditemukan meninggal dunia pada Selasa (24/6/2025) pada pukul 18.00 WITA setelah jatuh di Gunung Rinjani.
Pada misi penyelamatan Juliana, tim SAR gabungan sulit memakai helikopter karena dengan kondisi cuaca buruk di Rinjani. Lantas, apa alasan sulit pakai helikopter di Rinjani dan bagaimana laporan cuaca terkini?
Melansir laman Rinjani National Park, informasi jatuhnya Juliana Marins diterima oleh petugas Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) pada Sabtu pagi (21/6/2025) pukul 06.30 WITA.
Mendengar kabar tersebut, tim gabungan dari Balai TNGR, Basarnas Mataram, EMHC, Polsek Sembalun, dan Potensi SAR Lotim langsung bergerak menuju titik lokasi.
Kemudian, pada pukul 12.00 WITA, tim pendahulu yang membawa peralatan vertical rescue sudah mencapai Pos 4 untuk mendekat ke lokasi korban. Tim ini tiba dilokasi korban sekitar pukul 14.32 WITA.
Mengapa Sulit Pakai Helikopter di Rinjani?
Rinjani terletak di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Ini adalah salah satu gunung berapi aktif di Indonesia yang masuk ke dalam rangkaian ring of fire. Rinjani memiliki ketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut atau setara dengan 12.224 kaki.
Rinjani terkenal sebagai salah satu gunung yang menyuguhkan keindahan alam. Gunung ini menjadi salah satu wishlist pendaki dan pecinta alam. Tercatat, Rinjani terakhir meletus pada 2009.
Belakangan Rinjani menjadi perbincangan banyak kalang baik di Indonesia maupun dunia. Seorang pendaki bernama Juliana Marins terjatuh ke arah Danau Segara Anak di sekitar titik Cemara Nunggal, jalur menuju menuju puncak Rinjani pada hari Sabtu pagi (21/6/2025).
Setelah melewati beragam rintangan, pada Selasa (24/6/2025) pukul 18.00 WITA, petugas penyelamat bernama Khafid Hasyadi berhasil menjangkau korban pada kedalaman 600 meter di sekitar titik Cemara Nunggal.
Kemudian, pada Rabu tanggal 25 Juni 2025, tim gabungan berhasil melakukan evakuasi lanjutan. Mereka menggunakan metode lifting atau mengangkat korban ke atas permukaan.
Dalam upaya ini, sebanyak 48 personel khusus diterjunkan untuk melakukan vertical rescue agar mudah menjangkau korban yang terperosok di kedalaman 600 meter tebing curam.
Proses evakuasi Juliana Marins disorot oleh banyak pihak dan menjadi perbincangan internasional, termasuk warga Brasil. Salah satu isu yang muncul dalam perbincangan misi penyelamatan Juliana Marins ialah sulitnya menggunakan helikopter di Rinjani.
BASARNAS telah berupaya menggunakan helikopter AW139 dan AS365 untuk mengevakuasi Juliana. Namun, cuaca buruk menyebabkan helikopter tidak dapat mencapai titik kejadian.
Pengguna akun X bernama @GerryS memaparkan bahwa lokasi jatuhnya Juliana berada di ketinggian 10.000 kaki, dengan korban jatuh terperosok ke ketinggian sekitar 9400ft. Akun tersebut juga menjelaskan bahwa helikopter miliki BASARNAS tidak akan bisa mencapai titik lokasi korban.
Sebab, helikopter AW139 hanya mampu terbang di ketinggian maksimum atau Hover Out of Ground Effect (OGE) setinggi 8130 kaki diatas permukaan laut. Sedangkan helikopter AS365, hover OGE maksimum bisa dilakukan di 3740ft.
Akun @GerryS juga menjelaskan alasan jenazah Juliana Marins dapat dievakuasi menggunakan helikopter di pos Sembalun. Menurut @GerryS, helikopter sangat mungkin berada di pos Sembalun karena ketinggiannya hanya 3000ft. Terlebih, tim gabungan menggunakan helikopter Bell 206L4 sipil dengan hover OGE mencapai 6500ft.
Meski demikian, helikopter Bell 206L4 tidak bisa menjangkau titik lokasi kejadian. Sebab lokasi terjatuhnya Julianan berada di ketinggian sekitar 9400ft.
Menghimpun berbagai sumber, Juliana Marins jatuh di trek letter E. Letaknya berada sekitar 1 kilometer dari puncak Rinjani. Trek letter E merupakan trek yang menanjak serta jalan yang tipis dibanding trek lainnya. Sepanjang trek leter E dipenuhi pasir dan bebatuan.
Laporan Cuaca Terkini Rinjani
Ketua Tim Data dan Analisis Stasiun Klimatologi BMKG Nusa Tenggara Barat, Bastian Andriano, menjelaskan perubahan cuaca yang terjadi di Gunung Rinjani.
"Perubahan cuaca dalam hal ini kondisi berawan-cerah-berawan di wilayah sekitar puncak gunung adalah hal yang wajar," ujar Bastian Andriano, dikutip Antaranews, Kamis (26/6/2025).
Faktor pemicu perubahan cuaca di Rinjani, menurut Bastian, disebabkan oleh kecepatan angin yang lebih tinggi daripada di dekat permukaan.
Selain itu, udara yang bergerak menuju ke puncak gunung mengalami efek pendinginan dan membentuk formasi awan-awan orografis akibat bentuk topografi gunung.
Melansir laman Mountain Forecast, per 26 Juni 2025, cuaca di sekitar Gunung Rinjani diperkirakan cerah di siang hari dan akan turun hujan pada malam hari.
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Beni Jo
Masuk tirto.id







































