Menuju konten utama

Alasan Orang Tertarik Mengadopsi Spirit Doll, Menurut Psikolog

Spirit doll atau boneka arwah, mengapa orang tertarik mengadopsinya?

Alasan Orang Tertarik Mengadopsi Spirit Doll, Menurut Psikolog
Ilustrasi Spirit Doll. foto/istockphoto

tirto.id - Spirit doll atau bisa disebut boneka arwah jadi tren akhir-akhir ini karena beberapa artis mengadopsi mereka, di antaranya ada Ivan Gunawan dan Celine Evangelista.

Bagi sebagian orang, mengadopsi "bayi" boneka mungkin menjadi sesuatu hal yang aneh, tetapi sebagian lainnya percaya hal ini dapat membuat semangat dalam hidup mereka.

Hal ini seperti disampaikan Ivan Gunawan yang membagikan kebahagiaan saat ia bisa mengadopsi spirit doll.

"Telah lahir dan hadir menjadi berkat dan sukacita yang tak ternilai. Eqqel..kamu membuat hari hari aku akan lebih berwarna," tulis Ivan di akun instagram resminya.

Boneka adalah mainan anak-anak. Jika anak-anak bermain boneka sesuai dengan usianya dan dimainkan dengan cara yang wajar, maka hal ini normal dan malah akan baik untuk stimulasi perkembangan anak tersebut.

Aspek perkembangan yang dapat terstimulus dengan bermain boneka adalah aspek perkembangan kognitif, bahasa, sosial, emosi, termasuk imajinasi anak.

Sementara jika ada orang dewasa bermain dengan boneka dan lebih khususnya adalah spirit doll, maka ada beberapa kemungkinan penyebabnya.

Menurut Psikolog Kumala Windya R, penyebab pertama, orang dewasa tersebut memiliki kebutuhan untuk mengekspresikan emosinya untuk menyayangi dan merawat atau bahasa lainnya adalah nurturance need.

"Pada tahap dasar, kebutuhan merawat ini diekspresikan pada benda pasif, misalnya boneka. Namun pada tahap selanjutnya, orang dewasa diharapkan untuk mengekspresikan kebutuhan tersebut pada pihak yang lebih memberikan respons aktif, misalnya tumbuhan, hewan, dan orang lain," kata Kumala saat dihubungi Tirto, Rabu (5/1/2022).

Penyebab kedua, imbuhnya, ada kebutuhan untuk berimajinasi dengan peran tertentu yang dimainkan bersama boneka tersebut. Kebutuhan ini bisa berkaitan dengan kebutuhan nurturance atau kebutuhan yang lain, misalnya meningkatkan kreativitas.

"Jadi dengan bermain spirit doll, maka ia bisa berperan menjadi orangtua atau caregiver. Ia diharapkan memiliki pikiran dan perasaan bahwa apa pun yang dilakukan atau dimainkan adalah bermain peran," jelasnya.

Kemudian pada tahap selanjutnya, orang dewasa ini diharapkan benar-benar melakukan peran tersebut dalam kehidupan nyata.

"Untuk kebutuhan imajinasi dan kreativitas, orang dewasa dapat menuangkan imajinasinya terhadap spirit doll dengan memberikan dandanan sesuai kreativitasnya," ujarnya.

Lebih lanjut, Dosen Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta ini menyatakan, penyebab ketiga yaitu, ada kebutuhan untuk mengikuti tren hanya untuk ikut-ikutan saja tanpa memahami kebutuhan yang dimiliki atau tujuan dari kegiatan yang dilakukan dengan spirit doll tersebut.

Salah satu terapi untuk masalah psikologis ini adalah play therapy dan salah satu mainan yang digunakan adalah boneka.

"Jika orang dewasa memiliki kebutuhan untuk self-healing maka dapat dilakukan dengan spirit doll namun harus dengan panduan dan pendampingan dari psikolog profesional maupun play terapis. Tujuannya agar penggunaan spirit doll sesuai dengan tujuan dan permasalahan yang dihadapi dan tidak malah memicu masalah psikologi yang lain," tutur Kumala.

Berdasarkan penelitian dalam jurnal imajinasi, kognisi, dan kepribadian yang dilakukan oleh Angelie Ignacio dan Gerald Cupchik tahun 2021, ada hubungan antara rasa tidak aman atau insecure dengan kecenderungan fantasi menggunakan boneka pada orang dewasa.

Jika orang dewasa memiliki rasa tidak aman, ia akan cenderung memiliki fantasi agar merasa aman dengan bermain boneka.

Di lain pihak hal ini juga menunjukkan adanya indikasi regresi atau kemunduran kemampuan untuk mengatasi masalah yang dihadapi.

"Orang dewasa yang bermain dan mengadopsi spirit doll tetap dapat dianggap wajar jika kegiatan yang dilakukan dilakukan secukupnya, dalam batas wajar, dan orang tersebut tetap menyadari bahwa ini adalah bermain peran, bukan kenyataan yang sesungguhnya," ujar Kumala.

Orang dewasa tersebut juga tetap dapat berfungsi dalam pendidikan, pekerjaan, interaksi sosial, dan kegiatan kesehariannya.

"Menjadi wajar jika orang dewasa tersebut menyadari tujuannya bermain spirit doll ia menyadari kebutuhan emosi dan afeksi yang dimilikinya, serta tetap mampu memenuhi kebutuhan tersebut melalui interaksi langsung secara dua arah dalam hubungan yang baik dengan orang lain," papar dia.

Apabila dilakukan dengan wajar, secukupnya, dan tidak berlebihan, tambahnya, maka mengadopsi spirit doll dapat membuat orang terpenuhi kebutuhan untuk merawat pada tahap dasar, latihan bermain peran tertentu, misalnya peran merawat anak. Selain itu kreativitas dan imajinasi juga dapat terstimulasi

Namun, Kumala melanjutkan, hal ini menjadi tidak wajar, tidak sehat dan akan mengarah pada gangguan kejiwaan jika orang tersebut tidak mampu menyadari dan membedakan antara kenyataan dan imajinasi, terlebih lagi jika sudah muncul halusinasi tentang spirit doll tersebut.

Misalnya halusinasi bahwa spirit doll bisa berbicara, membisikkan kata-kata tertentu, bisa bergerak sendiri, memiliki emosi yang hanya bisa dipahami pemiliknya, dan sebagainya.

Gejala yang mengarah ke gangguan jiwa lainnya adalah ketika pemilik tidak dapat meninggalkan spirit dollnya.

Ia menjadi sangat tergantung kestabilan emosinya dengan kehadiran spirit doll tersebut, menjauh dan menghindari interaksi dengan orang lain, dan mulai tidak dapat melakukan kegiatan dan tugas yang menjadi tanggung jawabnya dengan baik.

"Jika penggunaan spirit doll dilakukan secara berlebihan, maka ada kemungkinan perasaan insecure dapat muncul karena objek lekatnya atau bonekanya tidak ada di dekatnya," tukas Kumala.

Baca juga artikel terkait SPIRIT DOLL atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

tirto.id - Kesehatan
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Iswara N Raditya