Alasan Mengapa Saat Ini Krisis Energi Bisa Melanda Eropa

Oleh: Maysa Ameera Andarini - 25 Oktober 2021
Dibaca Normal 2 menit
Harga gas di Eropa naik lima kali lipat dibanding bulan yang sama di tahun lalu.
tirto.id - Warga Eropa dan Inggris belakangan mengeluh tentang kenaikan harga gas alam yang mencapai lebih dari dua kali lipat. Pencetusnya tentu saja krisis energi.

Isu tentang krisis energi tengah menjadi topik hangat yang dibicarakan banyak rumah tangga di Eropa.

Pada bulan Oktober ini peningkatan harga gas mencapai 5 kali lebih besar dari tahun lalu. Kenaikan harga yang luar biasa ini tentu jadi problematika besar karena gas alam digunakan sebagai sumber listrik, energi untuk memasak, dan juga pemanas (sekitar 45 persen).

Hal ini mengundang polarisasi argumen.

Beberapa orang dari industri gas percaya peningkatan harga hanya sementara sebagai dampak krisis ekonomi, efek samping pandemi Covid-19. Padahal fenomena ini terjadi akibat Uni Eropa bergantung pada impor gas sejak lama.

Sebagian orang mulai menyoroti krisis energi sebagai penyebab kenaikan harga dan kekurangan pasokan gas di seluruh Eropa kemudian

Mirisnya, masyarakat harus memikul beban tagihan yang terus meningkat, sementara beberapa industri padat energi mulai memperlambat produksi.

Menurut Pengamat Energi Tom Marzec Manser, Eropa hanya bergantung pada dua pilihan pasokan gas. Impor gas dari Rusia, atau bergantung pada kargo gas alam cair, alias Liquified Natural Gas (LNG).

Tapi sayang, kedua skenario itu tidak berjalan sesuai rencana. Pasokan gas di Eropa menipis dan krisis semakin memburuk. Akhirnya, Pemerintah Eropa mencoba memfokuskan anggaran untuk energi terbarukan dan alternatif yang lebih hijau.

Ada beberapa alasan yang mendasari krisis energi di Eropa, mulai dari bencana alam hingga politik. Berikut penjelasannya.

Politik Kekuasaan Vladimir Putin

Eropa sangat bergantung pada pasokan gas Rusia. Negara ini merupakan pengekspor gas alam terbesar mewakili lebih dari 40 persen impor Uni Eropa di tahun 2019 dan 2020.

Rusia seperti sengaja menggunakan krisis di Eropa demi meloloskan rencana Vladimir Putin membangun Nord 2 Stream Pipeline -- pipa gas ekspor yang mengalir dari Rusia ke Eropa melintasi Laut Baltik -- yang kontroversial.

Mereka mengancam dengan tidak lagi mengirimkan gas alam kepada Eropa seperti tahun-tahun sebelumnya.

Karena tampak mencurigakan, 40 anggota dari Parlemen Eropa melakukan investigasi terhadap Rusia. Investigasi ini dilakukan untuk mengungkap kebenaran apakah Rusia mendorong Eropa terutama Berlin untuk mempercepat persetujuan pipa Nord Stream 2.

Di sisi lain sebagian orang mengatakan bahwa Rusia memang tengah kesulitan memasok gas ke Eropa. Namun, tidak dapat dipungkiri ambisi politik Putin juga ikut berperan menjadi dalang dibalik kenaikan harga gas di Eropa.

Pemasok Dominan di Eropa Menurun

Kota kecil Groningen yang terletak di Belanda merupakan salah satu pemasok gas alternatif bagi Eropa.

Namun produksi di Groningen sengaja ditekan demi menyeimbangkan permintaan dan pasokan. Kondisi ini kemudian membuka peluang bagi ladang gas lain untuk bebas produksi sepanjang tahun.

Groningen akhirnya menjadi beban liabilitas bagi Pemerintah Belanda. Selain itu, gempa kecil yang sempat beberapa kali menerpa Groningen juga menjadi faktor penurunan bisnis dan produksi gas setempat.

Akibat beberapa alasan ini, Pemerintah Belanda memutuskan mulai menurunkan produksi dan menutup bisnis tersebut.

Tidak hanya Belanda yang mengalami kekurangan pasokan gas alam, Inggris juga mengalami hal serupa. Inggris justru memiliki pasokan gas alam paling sedikit dibanding negara Eropa lainnya, karena fasilitas penyimpanan Inggris tutup sejak tiga tahun lalu.

Akibat kedua pemasok gas internal ditutup, Eropa memiliki kapasitas impor LNG lebih tinggi dibanding wilayah lain. Saat Rusia dengan permainan politiknya mulai menurunkan ekspor gas, kondisi Eropa menjadi sangat mengkhawatirkan.


Baca juga artikel terkait KRISIS ENERGI atau tulisan menarik lainnya Maysa Ameera Andarini
(tirto.id - Bisnis)

Kontributor: Maysa Ameera Andarini
Penulis: Maysa Ameera Andarini
Editor: Aditya Widya Putri
DarkLight