Alasan Cinta Pertama Abadi dalam Ingatan

Reporter: Aulia Adam - 19 Feb 2017 21:00 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Pengalaman jatuh cinta pertama tak hanya kekal di ingatan, tapi turut membentuk siapa diri kita, dan siapa orang berikutnya yang akan membuat kita jatuh cinta.
tirto.id - Seorang penyanyi atau musisi tampaknya selalu punya satu lagu yang khusus mereka ciptakan untuk cinta pertamanya. Beberapa di antaranya adalah Adele, Utada Hikaru, Luke Bryan, Jennifer Lopez, Isyana Sarasvati dan lainnya.

“Kini aku tahu rasanya orang jatuh cinta, seperti terbang ke angkasa…” kata Isyana. “Lihat saja, kau membuatku terbang melayang,” kata Jennifer. “Yang kupikirkan cuma kamu, dan segala yang kamu lakukan,” tambah Luke.

Potongan-potongan bait lagu mereka menggambarkan kalau cinta pertama Isyana, Jennifer, dan Luke berkesan indah, hingga sulit dilupakan.

Istilah ‘sulit dilupakan’ tak serta-merta cuma buat yang indah-indah saja. Adele dan Hikaru punya lirik pahit di lagu berjudul “First Love” milik masing-masing. “Kuharap aku juga punya tempat di hatimu,” kata Hikaru. “Maafkan aku, Cinta Pertamaku, tapi aku bosan. Aku butuh pergi supaya bisa merasa lagi,” kata Adele.

Selain musisi yang masih mengingat-ingat kisah cinta pertamanya, dan menganggap cinta pertama susah dilupakan, para ahli psikologi juga setuju. Cinta pertama memang berbekas lebih lama di ingatan seseorang.

Pada dasarnya, sensasi intens emosi yang timbul saat jatuh cinta pertama kali, membentuk apa yang disebut “flashbulb memories” alias “kenangan lampu kilat” dalam dunia psikologi, kata ahli psikologi Jay Dixit di Psychology Today. Istilah ini digunakan untuk mengambarkan kenangan-kenangan pertama kita sebagai manusia.

Misalnya, kenangan saat masuk sekolah pertama kali, pergi melihat laut pertama kali, ciuman pertama kali, atau melahirkan anak pertama. Pengalaman-pengalaman itu yang kemudian mengikat pada emosi-emosi tertentu yang bisa muncul sewaktu-waktu untuk membuat kita kembali ingat.

Namun, tak cuma ikatan emosi, pengalaman-pengalaman pertama kali seperti itu juga punya dosis kebaruan yang tinggi. Kebaruan-kebaruan ini yang memicu dopamine dan norepinephrine—zat kimia di dalam otak yang membuat kita merasa senang—untuk mengikatkan kenangan itu pada kesadaran kita. Sehingga kelak, kita akan mengingatnya lebih lama.

Pengalaman romansa pertama tentu juga punya elemen kebaruan. “(Jatuh cinta pertama kali) adalah satu-satunya masa ketika kita jatuh cinta tanpa didahului patah hati,” kata Laura Carpenter, sosilog dari Vanderbit University, seperti yang dikutip Jay Dixit dalam artikelnya.

Bisa jadi kita memiliki hubungan lebih baik dari hubungan dengan cinta pertama kita, tapi, “Tak akan pernah seperti saat kita belum pernah tersakiti,” tambah Carpenter.

Infografik Cinta Pertama


Bahkan, bagi mereka yang punya pengalaman hubungan cinta pertama yang kuat, kemungkinan besar hubungan-hubungan cinta selanjutnya akan dipengaruhi oleh pengalaman tersebut. Susan Andersen, Psikolog dari New York University, mengatakan bila sedikit saja kemiripan antara orang baru dan mantan cinta pertama bisa membangkitkan kenangan tentang pengalaman tersebut.

Selain terus mencari kesamaan, pikiran kita juga akan mengaktifkan lagi perasaan lama, dan motivasi serta ekspektasi baru. Studi Andersen juga menunjukkan kalau manusia punya kecenderungan untuk lebih menyukai sang orang baru, ketimbang mantan cinta pertamanya, tapi ingin mengulangi hal-hal terikat yang pernah dijalani dengan mantan cinta pertama.

Kebanyakan orang juga tak mempertahankan cinta pertamanya jadi cinta terakhir. Sebab, secara psikologi, manusia selalu punya hasrat untuk mencoba pengalaman baru. Itu sebabnya, “Punya pengalaman jatuh cinta pertama kali di umur 14 hingga awal 20-an, akan sangat mengejutkan bila bisa bertahan,” tulis Luisa Dillner, seorang ahli psikologi di artikelnya untuk The Guardian.

Cinta pertama selalu punya tempat tersendiri di hati. Pengalaman bersama cinta pertama membentuk sebuah idealisme sendiri tentang romansa yang kita inginkan, yang pada akhirnya hanya akan terasa tepat jika dijalani dengan cinta pertama. Tentu saja hal ini berbahaya bagi hubungan selanjutnya.

Dalam tulisannya, Dillner mencontohkan kisah Linda Waud, seorang psikolog yang akhirnya juga meneliti tentang cinta pertama. Linda akhirnya menikahi Ben, cinta pertamanya, setelah 35 tahun tak pernah bertemu.

Keduanya menjalani hubungan empat tahun sebelum akhirnya putus karena Linda siap dinikahi, tapi Ben lebih memilih melanjutkan studi. Keduanya juga sempat menikah dengan pasangan yang lain, sebelum akhirnya bercerai, dan menikahi satu sama lain. “Mereka kini sudah menikah selama 12 tahun,” tulis Dillner.

Linda sendiri tak menyarankan orang-orang untuk meninggalkan pernikahan bahagia mereka hanya demi mengejar cinta pertama. Sebab menurutnya, tak semua kisah cinta pertama itu indah. “Hubungan (romansa) yang pertama biasanya tak akan bertahan karena orang-orang ingin move on dan mencoba hal-hal baru,” kata Linda.

“Dan hanya jika kau terus melihat ke belakang dan berpikir kalau, wow, ternyata (cinta pertama) yang kupunya itu istimewa, makanya hubungan-hubungan selanjutnya yang kau jalani jadi lebih berat. Aku sendiri memang selalu mendambakan Ben, tapi aku selalu menyarankan orang-orang untuk memilih yang terbaik baginya,” tambah Linda.

Namun bila semua orang tak seberuntung Linda dan Ben, maka pengalaman yang didapat dari cinta pertama bisa digunakan untuk menemukan orang yang lebih sempurna hubungan berikutnya. Bukankah, manusia harus sakit dulu baru tahu caranya menghargai kesehatan?

Baca juga artikel terkait CINTA atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Aulia Adam
Penulis: Aulia Adam
Editor: Suhendra

DarkLight