Airlangga: Konflik Cina-Taiwan Tak Berdampak Langsung ke Indonesia

Reporter: Dwi Aditya Putra - 5 Agu 2022 16:51 WIB
Dibaca Normal 1 menit
Airlangga Hartarto memastikan, perseteruan tersebut belum berdampak langsung bagi Indonesia. Mengingat ketegangan ini masih berupa narasi-narasi saja.
tirto.id - Kunjungan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat, Nancy Pelosi ke Taiwan berbuah ketegangan politik baru. Hubungan Amerika Serikat (AS) dan Cina pun kembali memanas. Geopolitik ini diperkirakan bisa berdampak lebih buruk bagi perekonomian Global, termasuk Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto memastikan, perseteruan tersebut belum berdampak langsung bagi Indonesia. Mengingat ketegangan ini masih berupa narasi-narasi saja.

"Saya yakin sampai saat ini relatif dengan situasi belum menyeret ke mana-mana. Jadi ini narasi temperatur saja naik turun," kata dia dalam Konferensi Pers Perkembangan Perekonomian Indonesia Terkini, di Kantornya, Jakarta, Jumat (5/8/2022).

Airlangga menilai, konflik tersebut sebagai perseteruan klasik antara AS dan Cina. Karena Cina telah berupaya menjadi negara nomor satu menggantikan AS. "Ini kita lihat sebagai tantangan negara nomor dua menjadi nomor satu, dan itu sudah relatif klasik," katanya.

Lebih lanjut, Airlangga mengatakan konflik Cina dan AS ini tidak terlepas dari perang dagang tentang nilai tambah. Mengingat Taiwan merupakan produsen utama dari produk semi konduktor. "Kita ketahui bahwa Taiwan ini salah satu produsen atau nadinya dari digital dengan produksi semikonduktor," kata dia.

Produk semikonduktor ini digunakan untuk mendukung digitalisasi. Tentunya ini sangat penting bagi Cina karena bisa memengaruhi sektor perdagangan Cina hingga 10 persen. Sehingga, kata Airlangga, kepentingan negara-negara Eropa Barat terhadap produk semikonduktor ini tidak terdeskripsi. Sebab produk ini menjadi komoditas yang sangat penting di era digitalisasi.

"Semikonduktor Taiwan ini juga digunakan di Cina dan akan mempengaruhi 10 persen dari pada perdagangan Cina," katanya.

Terpisah, Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira justru menilai dampak dari ketegangan Cina dan Taiwan bisa berdampak lebih buruk dibanding perang Ukraina-Rusia.

Pertama, Taiwan sebagai proxy war antara kepentingan yang lebih luas antara AS dan Cina, sementara dua negara raksasa memiliki kaitan terhadap tujuan ekspor tradisional Indonesia masing-masing 21 persen dan 11 persen dari total ekspor.

"Artinya, 32 persen atau sepertiga ekspor Indonesia terancam, dan menurunkan surplus neraca dagang," kata dia.

Kedua, secara geografis, posisi Taiwan ada di Asia yang berarti statusnya lebih berpengaruh dibanding Ukraina-Rusia. Persepsi investasi di kawasan Asia akan dipengaruhi kelanjutan konflik di Taiwan.

Ketiga, langkah Cina memberi sanksi ke Taiwan menambah panjang deretan negara yang melakukan proteksi ekspor pangan setelah sebelumnya ada 30 negara yang lakukan hal serupa dengan berbagai alasan.

"Justru ini kesempatan bagi Indonesia untuk penetrasi ekspor makanan jadi, buah buahan dan sayuran ke Taiwan. Sejauh ini ekspor sayuran ke Taiwan cukup besar. Indonesia juga memiliki keunggulan kompetitif dalam bahan baku makanan minuman dan makanan jadi," jelasnya

Namun, secara risiko kalau Taiwan dan Cina jadi perang dagang, maka eskalasi konflik akan mempengaruhi pasokan semikonduktor. Sehingga penjualan mobil di Indonesia bisa tertekan.


Baca juga artikel terkait KONFLIK CINA-TAIWAN atau tulisan menarik lainnya Dwi Aditya Putra
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Dwi Aditya Putra
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Anggun P Situmorang

DarkLight