tirto.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah menyampaikan surat yang ditujukan pada Presiden Prabowo Subianto mengenai kenaikan tarif impor barang Indonesia yang akan masuk ke AS. Apa dampak dan efek kenaikan tarif impor 32% ini untuk Indonesia?
Donald Trump secara serentak mengumumkan kenaikan tarif impor untuk negara-negara di Asia. Selain Indonesia yang dikenai tarif 32%, negara Asia lain juga mengalami kenaikan tarif impor dengan persentase antara 25 hingga 40%.
Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), Amerika Serikat merupakan tujuan ekspor nonmigas terbesar kedua bagi Indonesia setelah China. Pada Februari 2025, nilai ekspor nonmigas Indonesia ke AS mencapai $2,35 miliar dolar AS.
Selama ini, tarif bea masuk produk Indonesia ke AS relatif rendah, berkisar antara 6 hingga 10 persen. Komoditas utama yang diekspor ke pasar Amerika meliputi produk elektronik, tekstil, alas kaki, minyak sawit, karet, furnitur, udang, dan berbagai hasil perikanan laut lainnya.
5 Dampak Tarif Trump 32% untuk Indonesia & Efek ke Harga Barang
Kenaikan tarif impor sebanyak 32% yang diputuskan oleh Presiden Trump bagi Indonesia ini tentu mempunyai dampak yang signifikan. Berikut 5 dampak kenaikan tarif Trump 32% bagi Indonesia:
1. Akan ada Penurunan Ekspor Indonesia ke AS
Karena tarif impor yang tinggi, maka harga barang-barang Indonesia yang dikirim ke AS akan naik harganya. Importir pasti akan berfikir untuk mengambil barang dari produsen lain yang lebih murah harganya.Akhirnya, ekspor barang-barang Indonesia ke AS akan menurun.
2. Ada Ancaman PHK Karena Penurunan Ekspor
Perusahaan-perusahaan yang melakukan ekspor terutama ke AS dengan penurunan permintaan barang, tentu akan pengurangan produksi.Jika perusahaan tidak dapat melakukan tindakan antisipasi dengan mencari negara importir lain, maka ancaman Pemutusan Hubungan Kerja atau PHK bagi karyawannya akan terbuka lebar.
3. Nilai Tukar Rupiah Terancam Anjlok
Dengan industri yang lesu, tentu minat investor akan berkurang juga. Mereka akan mulai berfikir untuk menarik invetasi mereka dari Indonesia. Berpalingnya investor ini akan berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah.4. Daya Beli Menurun Menyebabkan Inflasi
Nilai tukar rupiah yang anjlok bisa menyebabkan daya beli masyarakat menurun. Karena masyarakat tidak melakukan perputaran ekonomi, maka Indonesia bisa saja mengalami inflasi.5. Pemicu Penguatan Pasar Domestik
Meskipun AS adalah negara importir terbesar kedua selain China, namun dengan adanya kenaikan tarif impor ini, Indonesia bisa terpacu untuk menguatkan pasar domestik.Selain itu, negara bisa juga mulai melirik negara-negara lain yang akan bisa dijadikan tujuan ekspor utama dengan tarif masuk yang lebih rendah.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto akan melakukan kunjungan ke AS untuk melanjutkan proses negosiasi tarif impor.
“Karena masih tersedia ruang untuk merespons sebagaimana yang disampaikan oleh Pemerintah AS, Pemerintah Indonesia akan mengoptimalkan kesempatan yang tersedia demi menjaga kepentingan nasional ke depan,” ujar Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto dikutip Antara (9/7).
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id


































