11 September 1973: Kudeta Berdarah Cile Tiru Indonesia

Oleh: M Faisal Reza Irfan - 11 September 2017
Dibaca Normal 3 menit
Selain diperingati sebagai aksi teror yang menghancurkan World Trade Center, 11 September juga diingat sebagai penggulingan Presiden Allende di Cile oleh Jenderal Pinochet.
tirto.id - Pada 1970 di Cile, seorang sosialis terpilih secara demokratis sebagai presiden. Salvador Allende, politikus Partai Sosialis, diusung oleh koalisi Unidad Popular yang terdiri atas partai-partai politik berhaluan kiri seperti Partai Sosialis, Partai Komunis, hingga Partai Sosial Demokrat, Kristen Kiri, dan banyak lagi.

Kemenangan Allende merupakan kemenangan bagi rakyat pekerja Cile, petani kecil, dan masyarakat adat. Kemenangannya juga didukung oleh faksi-faksi sempalan kubu lawan, misalnya yang berasal dari Partai Kristen Demokrat.

“La via chilena al socialismo” atau sosialisme Cile, jadi platform pemerintahan Allende yang berfokus pada nasionalisasi industri berskala besar, penyediaan layanan kesehatan, jaminan pendidikan penyediaan susu gratis untuk anak-anak, serta redistribusi kepemilikan lahan untuk para petani penggarap.

Perlahan, kebijakan yang diusung Allende mulai memperlihatkan hasil. Ekonomi tumbuh, inflasi dan pengangguran berkurang, angka konsumsi masyarakat naik. Selain itu, pendapatan pekerja naik secara signifikan dan kebutuhan barang pokok sampai ke kalangan masyakarat bawah. Kebijakan sosialis Allende disambut baik oleh sebagian besar penduduk Cile.

Baca juga: Jejak-jejak CIA di Indonesia


Pada 1971, Allende mulai gencar menyasar nasionalisasi bisnis-bisnis asing yang menguasai pertambangan Cile. ITT, perusahaan multinasional yang berbasis di AS pun tak luput dari sasaran. Mendengar kabar itu, Presiden AS Richard Nixon bereaksi keras. Strategi pembalasan diluncurkan: menurunkan harga tembaga dunia dan embargo ekonomi diberlakukan terhadap Cile.

Ekonomi Cile yang sangat bergantung pada ekspor tembaga dibuat tak berdaya oleh strategi AS. Harga tembaga dunia yang menyentuh titik terendah pada 1971 membuat neraca keuangan Cile porak-poranda. Kondisi ini diperparah dihentikannya bantuan ekonomi dari Bank Dunia dan organisasi ekonomi internasional lainnya. Investasi asing pun mandeg lantaran embargo yang dijatuhkan AS. Hasilnya, ekonomi Cile sempoyongan.

Kondisi tersebut mempengaruhi situasi politik dalam negeri. Pemerintahan Allende menghadapi perlawanan dari sebagian kelas menengah yang tidak merasa diuntungkan oleh nasionalisasi industri. Tuan tanah menghalang reforma agraria, bos-bos pabrik menghentikan aktivitas produksi, dan buruh transportasi mogok.

Dalam situasi tak menentu itu, Allende mencoba melakukan pendekatan dengan Partai Kristen Demokrat. Kedua belah pihak merundingkan program-program nasionalisasi ekonomi. Sayangnya, pembicaraan itu tak menghasilkan apa-apa dan malah menajamkan polarisasi antara dua kubu: pemerintahan sayap kiri yang dikuasai Unidad Popular dan oposisi sayap kanan yang dipimpin Partai Kristen Demokrat.

Pada 11 September 1973, militer Cile meluncurkan aksi kudeta untuk menggulingkan Allende. Barisan pasukan dan deretan tank mengepung istana.

Tepat sebelum siang hari, akhirnya serangan udara diluncurkan ke arah istana. Kobaran api menyelimuti sebagian besar sisi La Moneda. Militer masuk ke dalam dan menggeledah seisi bagian. Allende ditemukan tewas dengan memegang senapan otamatis di tangannya.

Selanjutnya, puluhan ribu pendukung Allende dibunuh dan dihilangkan. Tak lama setelah tanggal 11 September itu, 5000 orang dikumpulkan di stadion utama Santiago untuk diinterogasi atau langsung dieksekusi.

Peran CIA dan Lahirnya Rezim Diktator Pinochet

Kudeta Pinochet tak bisa dilepaskan dari keterlibatan pemerintah Amerika dan CIA, yang telah lama menjegal Allende bahkan sebelum pemilu yang dimenangkannya.

Pada 1964, CIA berusaha menggiring opini publik dengan tujuan mencegah Salvador Allende menjadi presiden dan memuluskan jalan untuk memenangkan Eduardo Frei dari Partai Kristen Demokrat.

Dengan anggaran 3 juta dollar, CIA berhasil mendudukkan Frei ke istana. Operasi CIA pun diperluas jangkauannya: mempromosikan anti-komunisme dan mewaspadai kehadiran Blok Soviet di Cile.

Baca juga: Peran CIA di Balik Pemberontakan Sumatera dan Sulawesi

Sikap pemerintah Amerika yang getol menggoyang pemerintahan Allende bukan tanpa sebab. Dalam konteks Perang Dingin, sosialisme Allende dipropagandakan sebagai ancaman demokrasi di Cile, sebagaimana Castro di Kuba. Jika Allende dibiarkan terus berkuasa, demikian pemikiran para pengambil kebijakan di AS, Cile akan mengancam kepentingan AS di Amerika Selatan.

Pada 1970, mimpi buruk Washington jadi kenyataan: Allende memenangkan pemilu.

infografik washington arsitek kudeta



Kudeta pun dipilih sebagai opsi. Bersama Kissinger (menteri luar negeri), John Mitchell (Jaksa Agung Amerika), serta Direktur CIA Richard Helms, Nixon merancang kudeta terhadap pemerintahan Allende. Pemerintah Nixon mengucurkan dana sebesar 10 juta dollar untuk menggulingkan Allende. Operasi dilakukan tanpa sepengetahuan kedutaan besar AS di Santiago dengan cara menyabotase perekonomian Cile.

Setelah embargo diterapkan dan harga tembaga jatuh, CIA mulai menyebarkan kampanye hitam ke seluruh dunia tentang pemerintahan Allende, menggiring opini oposisi lewat media massa lokal, sampai mempengaruhi para pemimpin gereja di Cile agar memusuhi Allende.

Selain itu, CIA juga melakukan pendekatan intensif dengan militer Cile. Atase militer AS bahkan ditempatkan di bawah kendali operasional CIA untuk menyampaikan perintah kudeta kepada kontak-kontak militernya. Intel-intel CIA sendiri secara langsung mendorong para perwira militer agar melakukan upaya kudeta di tengah gejolak politik dalam negeri.

Baca juga: Kudeta-Kudeta dalam Sejarah Venezuela

Di tengah antusiasme merancang kudeta, CIA meminta pimpinan kelompok sayap kanan Jenderal Roberto Viaux untuk melenyapkan kepala kepolisian Cile Rene Schneider. Schneider merupakan sosok penentang kudeta dan campur tangan militer dalam proses demokrasi Cile. Tewasnya Schneider memantik reaksi dalam negeri. CIA berdalih tak terkait dalam pembunuhan itu.

Jack Devine, agen CIA yang bertugas di Cile mengakui bahwa seluruh instruksi kudeta di Cile berasal dari Gedung Putih, dalam hal ini atas dasar perintah Nixon. Devine menambahkan, apa yang terjadi di Cile bukan keputusan CIA.

Jenderal Pinochet yang menjadi pimpinan kudeta kemudian naik jabatan sebagai presiden dengan dukungan Amerika. Hampir sebagian besar kabinetnya diisi oleh perwira militer. Selama 17 tahun berkuasa, ribuan rakyat Cile hilang, dibunuh, atau dipenjara tanpa pengadilan.

Baca juga: Daftar Bunuh PKI, Made in USA

Operasi penyingkiran Allende dinamai Operation Jakarta, yang terinspirasi dari penggulingan Sukarno dan pembantaian massal terhadap kaum kiri antara 1965-1966. Banjir darah di Indonesia pada waktu itu juga disponsori oleh Amerika Serikat yang tak lain adalah arsitek kudeta di Cile beberapa tahun setelahnya. Tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa Indonesia pernah menjadi ladang eksperimen pergantian rezim dan pembantaian massal, yang kesuksesannya ditiru oleh banyak negara lain.

Baca juga artikel terkait CILE atau tulisan menarik lainnya M Faisal Reza Irfan
(tirto.id - Politik)

Reporter: M Faisal Reza Irfan
Penulis: M Faisal Reza Irfan
Editor: Windu Jusuf