#10YearChallenge: Nostalgia yang Membahagiakan dan Menguatkan

Infografik 10 yearchallenge politisi
Ilustrasi ten years chalenges. FOTO/Istockphoto
Oleh: Ign. L. Adhi Bhaskara - 18 Januari 2019
Dibaca Normal 2 menit
Media sosial tidak pernah kehabisan ide dan 10-Year Challenge adalah selebrasi atas nostalgia.
tirto.id - Media sosial tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan. Setelah berbagai macam tantangan aneh keluar dalam setahun terakhir, mulai Kiki Challenge hingga Bird Box Challenge, kini hadirlah 10 Years Challenge. Idenya sederhana, mengunggah dua foto yang berjarak 10 tahun.

Belum jelas asal muasal tantangan ini. Namanya pun berubah-ubah sejak awal kemunculannya. Dimulai dari tantangan "How hard did aging hit you" hingga tantangan ‘Glow up’. Namun, salah satu unggahan awal terkait tantangan ini adalah milik ahli meteorologi asal Amerika Serikat Damon Lane di Facebook pada 12 Januari lalu.

Di Indonesia, banyak selebritas yang langsung ikut-ikutan: mengunggah foto mereka di 2009 dan 2019. Yang ikut tantangan ini, antara lain Desta, Anggun C. Sasmi, hingga Maia Estianty.

Di jagat politik, tak banyak yang ikut terlibat. Satu dari yang sedikit itu adalah Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji. Menariknya, banyak beredar meme politik dari tantangan ini, terutama yang berkaitan dengan Pilpres 2009. Saat itu, seperti kita tahu, Megawati Soekarnoputri dan Prabowo berpasangan menjadi Capres dan Cawapres. Saat ini, mereka berada di pihak yang berseberangan.

Mereka saat itu belum memperhitungkan sosok Joko Widodo sebagai penantang di bursa pemilihan Presiden. Satu dekade lalu, Jokowi masih menjadi Wali Kota Solo. Dia tampak sibuk menyelesaikan urusan relokasi dan penataan kembali para pedagang kaki lima. “Mereka kami seragamkan agar tidak kalah dengan pasar modern dan swalayan,” sebut Jokowi, seperti dikutip dari Kompas.


Nostalgia Kebahagiaan

Jika Anda melongok satu demi satu unggahan terkait tantangan 10 tahun ini, satu yang hal yang jarang tampak adalah kesedihan. Nyaris semua orang bernostalgia dengan perasaan hangat. Hal ini juga mengindikasikan bahwa tantangan ini memang membuat orang mengenang masa lalunya dengan gembira, atau setidaknya penuh candaan.

Susan Krauss Whitbourne, seorang profesor emiritia dari University of Massachusetts Amherst, dalam esainya berjudul “What’s so Nice about Nostalgia? di Psychology Today menuliskan bahwa nostalgia dan kebahagiaan memang bisa dijelaskan secara psikologis. Ia menuliskan sebuah fenomena di dunia psikologi yang disebut dengan “reminiscence bump” atau lonjakan kenangan. Ini merupakan kejadian saat orang dewasa dapat mengingat masa muda dengan jelas dan dengan keterikatan yang kuat.

"Setelah usia 30, ketika kita bernostalgia, kenangan buruk perlahan memudar dari ingatan. Proses mengingat kejadian bahagia dan bukan kesedihan, itu adalah kemampuan adaptif kita."

Ia mengatakan, membentuk hubungan emosional dengan imagi diri yang lebih muda dapat membuat manusia menjaga rasa kontinuitas yang dimilikinya dari waktu ke waktu. Pengalaman hidup yang telah dimiliki itulah yang kemudian dapat membantu orang untuk menentukan pribadinya.

“Tanpa ingatan kita tidak akan memiliki identitas,” jelas Whitbourne.

Namun Whitbourne juga memberikan catatan: penting untuk mengingat kembali beberapa kejadian menyedihkan. Karena, tulis Whitbourne, kalau kita terlalu fokus pada hal yang membahagiakan, kita akan melupakan realitas yang sebenarnya turut membentuk diri kita sekarang ini.


Koneksi Emosional

Tidak sedikit pula yang melakukan tantangan ini sembari mengunggah foto mereka dengan sejumlah teman ataupun orang yang pernah menjadi bagian hidup mereka. Doktor Psikologi Juliana Breines dari University of Rhode Islands dalam salah satu esainya di Pyschology Today menuliskan bahwa nostalgia memang dapat menghubungkan orang dengan orang yang lain secara emosional.

Merujuk pada riset yang ada, Juliana mengatakan bahwa memori-memori terkait nostalgia memang hampir selalu secara alamiah bersifat sosial. Ini berarti gambar, musik, tempat atau apapun yang memantik nostalgia kerap berkaitan dengan orang-orang tertentu, seperti teman masa kecil ataupun mereka yang pernah terlibat dalam satu kelompok sosial (kelompok olahraga ataupun hobi).



Dalam jurnal berjudul “Nostalgia: Content, Triggers, Functions” oleh Tim Wildschut, Constantine Sedikides dan Jamie Arndt, disebutkan bahwa obyek penelitian yang sedang dalam masa nostalgia merasa lebih dicintai dibanding dengan yang tidak.

Sementara itu, Juliana juga menyebutkan studi lain yang menunjukkan bahwa nostalgia dapat melawan dampak buruk dari perasaan kesepian. Hal ini kemudian dapat membuat obyek studi yang terlibat merasakan dukungan sosial yang lebih kuat.

Selain itu, nostalgia seperti yang ditunjukkan melalui unggahan-unggahan 10 year challenge juga dapat membantu mengubah cara pandang manusia mengenai masa-masa sulit di masa lalu.

Masih dari studi oleh Tim dkk., Juliana menuliskan bahwa melalui nostalgia manusia dapat membangun narasi "ikhlas" terkait kesulitan di masa lalu, belajar tentang hal yang berharga dalam hidup, berefleksi tentang pengalaman hidup, dan mengambil hikmah dari situasi paling buruk sekalipun.

“Keacakan yang melekat dalam banyak peristiwa negatif bisa sangat menyedihkan; nostalgia dapat membantu kita memahami situasi acak tersebut dan memberi situasi tersebut sebuah tujuan,” tulis Juliana.

Baca juga artikel terkait NOSTALGIA atau tulisan menarik lainnya Ign. L. Adhi Bhaskara
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Ign. L. Adhi Bhaskara
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight