Yang Terjadi di Selat Sunda 1883: Sejarah Tsunami & Erupsi Krakatau

Oleh: Iswara N Raditya - 23 Desember 2018
Dibaca Normal 1 menit
Tercatat ada empat letusan utama Krakatau yang memicu empat kali gelombang besar tsunami di Selat Sunda pada 27 Agustus 1883.
tirto.id - Sepanjang Agustus 1883 itu, Selat Sunda tampak lain dari biasanya. Gelombang airnya kerap tak terduga, sering melonjak-lonjak tak keruan, tapi mendadak bisa kembali tenang dalam deburan yang menghanyutkan. Rupanya bakal datang kejutan besar, dan itulah nanti yang memang terjadi pada 27 Agustus 1883: Krakatau meledak, tsunami menerjang.

Suatu kali di Anyer, menjelang hari mengerikan itu, Schruit, pejabat kolonial yang juga kepala kantor telegraf, mengambil makan siangnya. Ia lalu berjalan ke beranda untuk mengamati tiang asap. Di situlah gerakan laut membuatnya was-was. Demikian kisah Simon Winchester dalam Krakatoa: The Day the World Exploded (2006).

Di seberang Selat Sunda, di Ketimbang (kini Katibung, Lampung Selatan), Kontrolir Beyerinck juga tercengang setelah melihat dermaga kota kecilnya dihajar oleh ombak-ombak yang datang tanpa henti.

Kapal-kapal yang sedang melaut di selat itu –Kapal Loudon, Marie, Charles Bal– semua melaporkan keadaan laut meskipun bagi mereka, tidak terlalu serius. Ombak di laut tidak begitu berbahaya bagi kapal-kapal daripada ombak yang lebih dekat dengan daratan.

Malamnya, laut semakin menggila. Beyerinck melihat perahu-perahu kecil diombang-ambingkan ombak sampai berputar-putar. Pada saat yang sama di sisi Jawa, Schruit mendapatkan kabel telegrafnya putus dihantam tiang roboh.

Selepas pergantian hari tanggal 27 Agustus 1883, dini hari menjelang subuh, kekhawatiran Beyerinck dan Schruit terjadi. Gunung Krakatau yang tertanam gagah di tengah Selat Sunda, meletus. Ada empat ledakan awal yang memicu gerakan air laut bergerak maju-mundur, semakin lama semakin terasa.



Empat Ledakan dan Tsunami

Dinukil dari Materials in Mechanical Extremes: Fundamentals and Applications (2013) karya Neil Bourne, letusan pertama terjadi pada pukul 05.30 pagi, kemudian disusul tiga ledakan besar berikutnya hingga beberapa jam kemudian. Empat guncangan dari Krakatau ini memicu empat kali gelombang tsunami.

Keempat tsunami utama yang diakibatkan oleh, atau berbarengan dengan, ledakan-ledakan vulkanik besar ini kemudian menghantam pantai. Winchester dalam bukunya menggambarkan, gelombang-gelombang itu seperti bola-bola raksasa dengan efek kehancuran yang tak terbayangkan.

Pagi itu, bibir pantai Jawa dan Sumatera yang mengapit Selat Sunda dihajar dinding-dinding air laut yang tinggi dan bergerak tanpa bisa dihentikan. Volume air bisa mencapai ratusan miliar ton. Tsunami datang bergulung-gulung, diiringi suara gemuruh.

Ledakan dan tsunami paling mengerikan adalah yang ketiga, terjadi pada jam 10.02, sebagaimana waktu yang dicatat oleh petugas kolonial Belanda kala itu. Air bah yang sangat besar menerjang tanpa ampun memusnahkan apapun yang ada di depannya.



Siang harinya, hujan abu panas mengguyur Ketimbang dan menewaskan tidak kurang dari 1.000 orang di Lampung Selatan itu. Seluruh penghuni Pulau Sebesi, terletak 13 kilometer di sebelah utara Krakatau, yang berjumlah sekitar 3.000 orang, seluruhnya meregang nyawa.

Catatan pemerintah kolonial, dikutip Kartono Tjandra dalam Empat Bencana Geologi yang Paling Mematikan (2018), menyebutkan, lebih dari 36 ribu orang menjadi tumbal tragedi yang dampaknya dirasakan di berbagai belahan dunia ini. Referensi lain bahkan mengklaim jumlah korban jiwa jauh lebih besar, hingga 120 ribu orang.

Sehari setelah gabungan air bah, tsunami, serta hujan abu dan awan panas, memporak-porandakan daratan di sekitar Selat Sunda itu, Krakatau hanya terbatuk-batuk kecil, kemudian terdiam, kembali beristirahat.

Baca juga artikel terkait TSUNAMI SELAT SUNDA atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Iswara N Raditya