Menuju konten utama

We Are All Trying Here: Aku Pecundang, (tapi) Aku Berusaha

Konflik di kisah ini bukan soal si jahat dan si baik hati, melainkan letupan kerentanan yang bisa dipahami, didamaikan, bahkan dirayakan.

We Are All Trying Here: Aku Pecundang, (tapi) Aku Berusaha
Drama Korea We Are All Trying Here. (FOTO/AsianWiki)

tirto.id - [Spoiler alert]

Karakter-karakter dalam drama Korea yang disiarkan Netflix ini tidak relatable buat orang kebanyakan. Saya harus bilang di awal karena penonton sekarang kerap menjadikannya kata kunci saat menikmati karya seni populer, baik film maupun musik. “Ceritanya relate banget,” begitu biasanya cuapan di media sosial. Tentu saya pun begitu berulang kali.

Tokoh utama pertama, Hwang Dong-man, adalah (calon) sutradara film paruh baya yang belum juga punya karya di usia 40-an. Hwang Dong-man menjadi pecundang dan mengkompensasi kegagalan demi kegagalan dengan bacot tanpa ujung soal apa saja, termasuk keburukan karya-karya kawannya yang tergabung di “Kelompok Delapan”. Ia mendominasi pembicaraan, bicara tanpa henti tentang apa yang ia alami saat mereka berkumpul, meski saat ia sendiri, ia sadar betul keterpurukannya, depresinya.

Tokoh utama kedua, Byeon Eun-ah, produser kreatif yang dikenal karena ketajamannya saat membaca naskah. Eun-ah mengalami trauma berat karena ditinggal dan diabaikan puluhan tahun oleh ibunya. Kemampuannya menutupi masa lalu yang getir tak membuat Eun-ah bebas. Setiap ia ditinggalkan, ia mengalami kesakitan yang sama dengan yang ia rasakan dari peristiwa itu.

Tokoh utama lainnya adalah teman-teman klub Dong-man yang tergabung dalam Kelompok Delapan, kumpulan lintas-angkatan yang tergabung sejak mereka mahasiswa: sutradara, produser, dan CEO studio film.

Jadi, sirkel mereka juga bukan “orang biasa”. Ditambah ada Hwang Jin-man, abang Dong-man, penyair yang banting setir jadi tukang las dan petani. Jin-man kehilangan anak karena mantan pasangan menyerahkannya kepada biro adopsi.

Mereka adalah karakter yang kisahnya bisa jadi amat menyedihkan, terpuruk, malang bukan kepalang, bahkan pada kasus Dong-man, jadi bahan tertawaan. Namun, ternyata karakter-karakter yang meminggirkan Dong-man pun punya kekalahannya masing-masing.

Segala macam emosi “buruk” manusia muncul sebagai menu utama dalam pertunjukan ini: kesepian, perasaan diabaikan, rasa gagal, iri hati, kecemasan, kecemburuan, keputusasaan, kesombongan, kebencian, kemarahan, kemunafikan, rasa kecil diri, rasa tak aman, dan seterusnya.

Hubungan paling antagonistik muncul saat Dong-man berhadapan dengan Park Kyung-se, salah satu kawannya di Kelompok Delapan yang relatif sukses menjadi sutradara. Dalam perayaan setelah premier film karya Kyung-se, Dong-man jadi party pooper dengan terus membicarakan aspek buruk dalam film itu, tentu sambil menenggak minuman dan mengunyah hidangan yang disajikan gratis dalam pesta.

Dari sikapnya sejak adegan pembuka episode pertama, kita bisa tahu Kyung-se juga bukan pemenang kehidupan. Sebagai sutradara yang menelurkan film berkali-kali, telinganya merah dan jantungnya berdegup lebih kencang saat Dong-man membuka mulut. Suara-suaranya bergema di telinga Kyung-se, diputar berkali-kali. Pendeknya, Dong-man menumpang hidup di kepala Kyung-se.

Tentu saja, sikap tengil Dong-man kepada Kyung-se disebabkan rasa iri luar biasa. Dong-man bisa menyebut apa saja soal film karya Kyung-se, termasuk menyebut keberhasilannya sebagai sutradara merupakan buah kerja keras dan networking Ko Hye-jin, istri Kyung-se, CEO studio film dan juga anggota Kelompok Delapan. Namun, fakta dalam bentuk kalimat pendek berbunyi lebih nyaring: Kyung-se adalah sutradara sukses.

Tak ada yang bertanya kepada Kyung-se dengan nada sangsi seperti dialami Dong-man saat ia memperkenalkan diri sebagai sutradara, “Film apa yang (sudah) kamu buat?”

Teman-teman di Kelompok Delapan pun terbelah. Di antara kekesalan, ada upaya-upaya pemahaman, bahkan kekaguman. Muncul juga cuap-cuap yang menunjukkan ketidakamanan mereka sendiri, dari yang kesulitan menulis naskah, hingga kecemasan terkait teknologi AI.

Mungkin sang penulis naskah, Park Hae-young, sedang bicara tentang dunianya. Mungkin penulis yang sukses memenangi skenario terbaik Baeksang Arts Award—lewat drama My Mister dan My Liberation Notes dengan membawa tema-tema pergulatan eksistensial ke televisi—ini sedang mengemukakan kegamangannya sendiri sebagai penulis dan pencipta di industri film.

Tapi tenang saja, pada akhirnya, semua perkelahian literal dan figuratif itu reda. Penulis Park Hae-young cukup bermurah hati memberi plot tradisional. Konflik di sinetron ini punya resolusi. Klub anti-sad-ending bisa mulai menonton tanpa waswas. Park Hae-young juga memberi ending meriah untuk We Are All Trying Here, sedikit berbeda dengan gayanya dalam My Mister dan My Liberation Notes.

Kemurahan hati lain, Park Hae-young juga memberi sentuhan opera sabun yang cukup kental dengan kemunculan plot kebetulan yang … opera sabun banget. Mungkin itu ia lakukan untuk mengimbangi cerita pertarungan para pencipta dalam dunia film yang bisa dianggap terlalu berat untuk pemirsa televisi.

Ratingnya saat disiarkan JTBC—stasiun televisi berbayar di Korea Selatan—memang di bawah My Mister dan My Liberation Notes. Perbedaan dengan kedua drama sebelumnya adalah yang tadi saya sebut di awal. Ini bukan cerita tentang orang-orang lumrah seperti bapak-bapak pekerja kantoran atau gadis-gadis pekerja komuter yang tiap hari PP kabupaten-Seoul-kabupaten.

Dunia Hwang Dong-man sama sekali tidak mundane.

Cara berpikir dan tingkah dan jalan hidupnya lain. Sikap Dong-man yang tampak arogan dan tak bisa dipotong saat berbicara membuatnya tampak seperti narsisis, tapi ia bukan. Ia hanya pecundang yang mengakui kepecundangannya dan tenggelam dalam kecemburuan.

Saat mata Dong-man terpejam, kepalanya menggambarkan bayangan kemenangan. Dengan segala kejujurannya, ia ingin diberi selamat, ingin ditepuktangani. Ia berbahagia ketika bertemu belahan jiwa. Di situlah Dong-man, dengan segala keanehannya, ternyata sama dengan teman-temannya. Teman-temannya pun, dengan cara mudah maupun sulit, insyaf bahwa Dong-man adalah bagian kebahagiaan mereka, bukan sumber kesusahan belaka.

Konflik mereka bukan soal si jahat dan si baik hati, melainkan letupan kerentanan yang, sampai level tertentu, bisa dipahami, didamaikan, bahkan dirayakan. Mungkin dengan cara inilah cerita We Are All Trying Here mengungkap kebenaran untuk kita.

Baca juga artikel terkait FILM atau tulisan lainnya dari Maulida Sri Handayani

tirto.id - Film
Penulis: Maulida Sri Handayani
Editor: Nuran Wibisono