Menuju konten utama

Warna Air Situ Cangkring di Periuk Berubah, Ribuan Ikan Mati

Bagi warga sekitar, fenomena ini bukan sekadar masalah ekologi, tetapi ancaman langsung bagi kehidupan mereka.

Warna Air Situ Cangkring di Periuk Berubah, Ribuan Ikan Mati
Ribuan Ikan Mati di Situ Cangkring, Priuk Jaya, Kota Tangerang Diduga Tercemar Limbah. Foto / Jupri Nugroho

tirto.id - Situ Cangkring di Kelurahan Periuk Jaya, Kecamatan Periuk, Kota Tangerang, selama ini menjadi nadi kehidupan warga sekitar. Dari danau seluas belasan hektare itu, masyarakat menggantungkan sumber air, mencari ikan untuk makan sehari-hari, hingga mengais rezeki dari hasil pancingan.

Namun dalam tiga pekan terakhir, wajah Situ Cangkring berubah drastis. Air yang biasanya jernih kehijauan kini tampak keruh dan hijau pekat. Di permukaannya, bangkai ikan mujair mengambang ribuan jumlahnya. Bau anyir menusuk, membuat warga enggan mendekat.

Bagi warga sekitar, fenomena ini bukan sekadar masalah ekologi, tetapi ancaman langsung bagi kehidupan mereka.

Naji Hardianto, seorang warga RT 03/07, mengatakan air sumur yang selama ini menjadi andalan keluarga, kini ikut berubah rasa.

“Rasanya itu anyir gitu, makanya sudah enggak dipakai lagi buat masak atau buat minum. Kalau mau minum, tiga minggu ini kami beli galon,” tutur Naji, Selasa (19/8/2025).

Ia khawatir rembesan air dari situ yang tercemar sudah masuk ke sumur-sumur warga. “Karena rata-rata sumur warga dekat sekali dengan situ, bisa jadi sumbernya satu. Lurah kami juga bilang jangan dikonsumsi, takut mengandung merkuri,” ungkapnya.

Widodo, warga lainnya, mengaku kehilangan banyak hal sejak situ tercemar. Selain tak bisa lagi memancing ikan untuk lauk harian, ia juga harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli air bersih.

“Pokoknya sekarang air sumur cuma bisa dipakai mandi, selebihnya gak bisa. Jadi beban buat keluarga, karena tiap minggu harus beli air,” keluhnya.

Widodo mengingat, beberapa tahun lalu kejadian serupa pernah menimpa Situ Cangkring. Kala itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) sempat turun tangan dan kondisi kembali normal. Namun kini, kejadian itu berulang lagi.

“Dulu alhamdulillah setelah dicek, ikannya tidak mati lagi. Tapi sekarang terulang. Kami menduga kuat ada perusahaan sekitar sini yang buang limbah sembarangan. Soalnya banyak pabrik yang gak punya tempat pembuangan, buangnya ya ke situ,” ujarnya.

Dugaan Limbah Industri

Fenomena matinya ribuan ikan di Situ Cangkring memunculkan dugaan pencemaran limbah industri. Warna air yang berubah pekat, bau anyir, serta dampaknya ke air sumur warga memperkuat asumsi bahwa ada zat kimia berbahaya yang masuk ke perairan.

Syarif Hidayat dari Malika (Masyarakat Peduli Lingkungan Kota) menegaskan, peristiwa ini bukan persoalan teknis biasa, melainkan bentuk kejahatan lingkungan.

“Kematian massal ikan ini indikasi kuat adanya pencemaran limbah industri. Ini pengkhianatan terhadap hak hidup warga. Jangan sampai masalah berhenti di janji pengecekan, sementara pencemar tetap bebas,” tegas Syarif.

Ia mendesak DLH Kota Tangerang untuk bergerak cepat, transparan, dan tegas.

“Warga sudah kehilangan sumber penghidupan, ikan mati, air sumur tercemar, dan rasa aman mereka hilang. Jika pemerintah lamban, sama saja membiarkan kejahatan lingkungan terus berlangsung. Kami menuntut langkah nyata, bukan sekadar wacana,” kata dia.

Hingga Selasa (19/8/2025), belum mendapatkan informasi resmi mengenai jadwal peninjauan lapangan. Namun sebelumnya, Kepala DLH Kota Tangerang, Wawan Fauzi, mengatakan pihaknya akan mengirim tim dari Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup (PPKLH) untuk mengecek kondisi Situ Cangkring.

“Itu nanti kami cek, di Situ Cangkring, ya. Nanti kita kirimkan tim dari PPKLH untuk ngecek,” ujarnya.

Wawan menyebut, hasil pengecekan akan menjadi dasar langkah tindak lanjut. “Nanti kalau sudah dicek oleh bidang PPKLH, rekomendasinya baru kita tindaklanjuti. Pengecekan segera kita lakukan dalam waktu dekat,” tambahnya.

Situ Cangkring bukan hanya sekadar danau. Ia berfungsi sebagai kawasan resapan air, ekosistem ikan, dan penopang aktivitas warga sekitar.

“Jika tercemar limbah industri, dampaknya bisa meluas hingga mengganggu kesehatan masyarakat, menurunkan kualitas air tanah, dan merusak ekosistem," tegas Syarif.

Warga kini hidup dalam kecemasan, setiap teguk air terasa penuh risiko. Bagi mereka, setiap bangkai ikan yang mengapung di danau adalah pengingat bahwa situ yang dulu memberi kehidupan, kini berbalik membawa ancaman.

====

Tangsel_Update adalah akun IG City Info yang merupakan bagian dari #KolaborasiJangkarByTirto.

Baca juga artikel terkait PENCEMARAN AIR atau tulisan lainnya dari Tangsel_Update

tirto.id - Flash News
Kontributor: Tangsel_Update
Penulis: Tangsel_Update
Editor: Abdul Aziz