tirto.id - Di banyak negara maju, menggunakan Porsche sebagai mobil polisi adalah hal biasa. Belanda, misalnya, pernah menggunakan Porsche 356, 911, dan 914, sebagai mobil patroli. Di Jerman, negara asal pabrikan Porsche, seri 911 sudah digunakan sejak dekade 1960-an untuk menjaga kawasan Autobahn. Kini, di Uni Emirat Arab, Porsche Taycan menjadi bagian tak terpisahkan dari armada Kepolisian Dubai.
Akan tetapi, tahukah Anda bahwa di Indonesia, pada dekade 1970-an dan 1980-an, ada pula mobil buah karya (Ferdinand) Porsche yang pernah marak digunakan sebagai tunggangan para camat?
Kisah ini bermula pada masa Perang Dunia II. Ferdinand Porsche ketika itu merupakan salah satu insinyur di Volkswagen (VW), pabrikan mobil plat merah yang lahir dari mimpi Adolf Hitler untuk menciptakan mobil bagi khalayak. Kala itu, "Porsche" sebagai pabrikan tersendiri belumlah eksis. Porsche hanya memiliki firma desain dan masih menghabiskan banyak waktunya bersama VW.
Singkat cerita, kepiawaian Porsche dan ambisi Hitler akhirnya bertemu dan sukses melahirkan VW Type 1 alias VW Beetle—di Indonesia dikenal dengan nama VW Kodok. Mobil tersebut diperuntukkan bagi keperluan sipil dan dijual dengan skema kredit, yang hasilnya digunakan untuk membiayai keperluan perang Nazi Jerman. Namun, peran Porsche tak cuma sampai di situ.
Setelah sukses melahirkan VW Type 1, muncul permintaan lain dari pemerintah Jerman. Gampangnya, mereka menginginkan versi militer dari VW Type 1, yang praktis, fungsional, tahan banting, dan bisa digunakan di segala medan. Porsche pun menyanggupi permintaan tersebut dan, dengan segera, memerintahkan anak buahnya, Franz Xavier Reimspiess, mendesain mobil militer tersebut.
Fondasi yang digunakan adalah Type 1, ditambah berbagai modifikasi untuk membuatnya jadi kendaraan militer sesuai permintaan rezim. Akhirnya, setelah melewati berbagai tes tahap akhir, pada 1938, secara resmi lahirlah VW Type 62 alias Kübelwagen (secara harfiah berarti mobil bak air). Ketika Nazi Jerman menginvasi Polandia pada 1939, armadanya sudah terlibat dalam berbagai aksi militer.
Namun, usia Type 62 tidak lama karena, pada 1940, lahir versi upgrade bernamaType 82. Kali ini, yang berperan penting adalah anak dari Ferdinand Porsche, Ferry. Di bawah supervisinya, Type 82 lahir sebagai mobil yang lebih cepat, punya ground clearance lebih baik, berkapasitas bahan bakar lebih besar, lebih ringan (725 kg), dan secara keseluruhan lebih sesuai untuk keperluan tempur dibanding Type 62.
Secara khusus, Type 82 berperan penting dalam operasi militer Nazi Jerman di wilayah Afrika dan Uni Soviet. Namun, setelah Perang Dunia II berakhir, ia tak lagi diproduksi. Total jenderal, lebih dari 50 ribu unit diproduksi selama lima tahun.
Meskipun akhirnya Jerman kalah dalam pertempuran, profisiensi VW Type 82 di medan perang tetap mendapat banyak pujian, khususnya dari Amerika Serikat yang, pada periode sama, sebenarnya mampu mengembangkan Willys, kendaraan militer yang tak kalah tangguh.

Pertanyaannya sekarang, apa hubungannya dengan para camat di Indonesia?
Jawabannya ada pada perlakuan Sekutu terhadap VW selepas perang. Setelah kota Stadt des KdF-Wagens dibebaskan dan diubah namanya menjadi Wolfsburg, pabrik VW diambil alih oleh militer Inggris.
Awalnya, pabrik VW dimanfaatkan untuk memproduksi dan memperbaiki mobil untuk tentara Inggris. Namun, setelah itu, Mayor Ivan Hirst mengubah VW menjadi pabrik produsen mobil untuk keperluan sipil, dengan mempekerjakan orang-orang yang terusir dari kampung halamannya akibat Perang Dunia II. Dengan segera, VW menjadi pabrikan besar. Pada 1947 saja, mereka sudah berhasil memproduksi 20 ribu unit mobil.
Singkat cerita, VW pun sukses besar. Type 1 (VW Kodok) dan Type 2 (VW Kombi) laris manis di pasaran, hingga akhirnya Type 82 pun dibangkitkan dari kubur pada akhir dekade 1960-an. Sama seperti sebelumnya, Type 82 versi baru, yang akhirnya diberi nama Type 181 (untuk versi setir kiri) dan 182 (untuk versi setir kanan) itu pun lahir berkat keperluan militer.
Berdasarkan informasi dari VW Thing Registry—di AS mobil ini disebut VW Thing— Type 181/182 pertama kali diproduksi pada 1969 setelah dipesan oleh militer Jerman Barat. Namun, mobil ini baru benar-benar populer selepas 1971, ketika pertama kali dijual sebagai kendaraan sipil usai diproduksi massal di Meksiko. Dari produksi di Meksiko itulah lahir nama VW Safari untuk Type 181/182.
Desain VW Safari sedikit berbeda dari Type 82 lantaran mengambil inspirasi dari berbagai jenis mobil, mulai dari Fiat Ghia Jolly sampai Citroen Mehari. Produksinya pun memanfaatkan mobil-mobil VW yang sebelumnya sudah diproduksi. Sasisnya menggunakan sasis VW Karmann Ghia, sementara sistem mekanikanya meminjam milik VW Kodok dan Kombi.
Di Indonesia, VW Safari pertama kali masuk pada 1972 lewat PT Garuda Mataram, yang memiliki kontrak dengan ABRI. Menariknya, mobil-mobil tersebut sudah masuk dengan skema CKD (Completely Knocked Down) sehingga proses perakitannya dilakukan di dalam negeri. Selama tiga tahun, PT Garuda Mataram menyuplai VW Safari untuk keperluan militer ABRI, sampai 1975.
Meski demikian, VW Safari untuk ABRI tidak sama dengan VW Type 181/182 yang digunakan militer Jerman Barat. VW Safari ABRI tidak dilengkapi berbagai peralatan dan perlengkapan militer karena fungsinya sebetulnya tidak untuk bertempur, melainkan hanya sebagai kendaraan resmi bagi perwira.
Jadi Andalan Camat-Camat Dalam Negeri
Di kalangan pemerintahan sipil Indonesia, VW Safari mulai masuk pada 1974, ketika Solihin GP, Gubernur Jawa Barat kala itu, menerima 60 unit VW Safari dari Kolonel Arifin Adil, salah satu direktur PT Garuda Mataram. Mobil-mobil tersebut lantas didistribusikan ke 19 kabupaten di wilayah Jawa Barat.
Setelahnya, pada 1976, pemerintah pusat memesan 3.500 unit VW Safari dari PT Garuda Mataram untuk keperluan Pemilu 1977. Pesanan tersebut kemudian ditambah lagi 2.500 unit karena, ternyata, kebutuhan Pemilu jauh lebih besar daripada perkiraan awal. Meski begitu, masih menurut VW Thing Registry, hanya 5.988 unit yang akhirnya berhasil diproduksi.

Mobil-mobil itulah yang akhirnya dipakai sebagai mobil dinas para camat, dengan kelir diganti oranye. Menilik kondisi infrastruktur Indonesia pada era tersebut, penggunaan mobil semi-militer seperti VW Safari dirasa sangat cocok. Mobilnya ringan, bandel, irit, dan bisa melahap segala medan.
Kendati VW Safari awalnya masuk untuk keperluan negara, bukan berarti rakyat biasa tidak bisa membeli mobil tersebut. Namun, harganya terbilang mahal, mencapai Rp2,95 juta per unit. Maklum saja, meskipun perakitan dilakukan di tanah air, semua komponen masih harus diimpor dari pabrik utama di Puebla, Meksiko. Sampai akhirnya, kiprah VW lewat PT Garuda Mataram berakhir pada 1980 karena pihak Volkswagen menarik diri. Mereka menilai, kebijakan pajak di Indonesia kurang sesuai dengan arah bisnis perusahaan.
VW akhirnya comeback di Indonesia pada 1992, setelah PT Garuda Mataram diakuisisi oleh Indomobil Group. Namun, tidak ada lagi kelanjutan VW Safari. Setelah produksinya disetop pada 1980, tak ada lagi mobil VW Safari yang diproduksi maupun dipasarkan di Indonesia. Hingga akhirnya, mobil tersebut jadi barang langka.
Di lokapasar, tak banyak yang menjual VW Safari bekas. Kalaupun ada, harga bekasnya saja bisa mencapai Rp298 juta. Kini, VW Safari lebih mudah ditemukan di tempat wisata, salah satunya di wilayah Candi Borobudur, Magelang.
Selebihnya, VW Safari benar-benar sudah sulit ditemukan. Paling-paling hanya kolektor serius yang masih memilikinya. Meski demikian, kisah VW Safari di Indonesia, sebagai buah karya Porsche yang pernah jadi tunggangan camat, tidak bisa dilupakan begitu saja. Sebab, suka tidak suka, mobil tersebut pernah jadi bagian penting dari perjalanan sejarah Indonesia walau hanya dalam waktu singkat.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id
































