Menuju konten utama

Visi Stephanie Riady tentang Inklusivitas, STEM, dan Pendidikan

Dr. Stephanie Riady menegaskan pentingnya pendidikan inklusif dan adaptif berbasis STEM untuk membentuk generasi unggul di era digital.

Visi Stephanie Riady tentang Inklusivitas, STEM, dan Pendidikan
Dr. Stephanie Riady, B.A., M.Ed., Direktur Eksekutif Pelita Harapan Group (PHG) sekaligus Presiden Universitas Pelita Harapan (UPH). FOTO/Universitas Pelita Harapan
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kemajuan pesat teknologi, Artificial Intelligence (AI), dan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) menjadi sorotan utama di tengah transformasi besar dunia pendidikan. Fenomena ini sekaligus memunculkan pertanyaan reflektif: bagaimana memastikan kemajuan itu tetap berpihak pada manusia?

Bagi Dr. Stephanie Riady, B.A., M.Ed., Direktur Eksekutif Pelita Harapan Group (PHG) sekaligus Presiden Universitas Pelita Harapan (UPH), pertanyaan tersebut bukan sekadar bahan refleksi, melainkan kompas dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan.

Dia memandang pendidikan tidak hanya sebagai sarana transfer ilmu, tetapi juga panggilan untuk membentuk karakter, menumbuhkan empati, dan membuka kesempatan bagi semua orang untuk berkembang.

"Pendidikan adalah bidang yang sangat mulia. Di sinilah kita diberi kesempatan untuk membentuk bukan saja kemampuan berpikir akademik, tetapi juga sudut pandang, nilai, dan tujuan hidup seseorang," kata Dr. Stephanie.

Dia mengungkapkan hal itu saat menyampaikan pemikirannya tentang pendidikan dalam podcast ‘Naratama’ bertajuk “Stephanie Riady, Kenapa Dunia Bergerak ke STEM Tapi Kita Masih Belum? Apa Itu STEM?” yang tayang di kanal YouTube Kompas.com.

Mewarisi Nilai, Meneruskan Misi

Kepedulian besar Dr. Stephanie terhadap dunia pendidikan tak terlepas dari nilai-nilai yang diwariskan oleh keluarganya. Dia meyakini pendidikan merupakan sarana untuk membenahi kehidupan dan memberikan manfaat kepada masyarakat.

"Kakek saya (Dr. Mochtar Riady) dari Kota Batu, Malang, sejak muda bisa menempuh pendidikan sampai ke luar negeri, dan itu mengubah hidupnya. Karena itu, pendidikan menjadi cara keluarga kami untuk give back, dan melalui pendidikan, kami selalu berupaya membantu anak-anak muda mencapai potensi maksimal mereka," ujar dia.

Pengalaman Dr. Stephanie menempuh pendidikan hingga jenjang doktoral (S3) membuat ia bertambah yakin bahwa pendidikan yang bermutu semestinya bisa dijangkau semua orang, bukan hanya oleh mereka yang mampu. Dia menyadari, pendidikan tak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga wawasan dan jejaring yang membuka banyak peluang.

Keyakinan itu juga yang melatarbelakangi sejumlah langkah konkret UPH, seperti membuka jalur pendidikan gratis, mendirikan fakultas baru yang relevan dengan kebutuhan masa kini dan mendatang, hingga pengembangan sistem pembelajaran adaptif yang berasaskan nilai kemanusiaan.

Memperluas Akses Pendidikan bagi Generasi Muda

Komitmen memperluas akses pendidikan bagi masyarakat itu mewujud di berbagai program UPH. Misalnya, Faculty of Nursing (Fakultas Keperawatan) tidak hanya berfokus mencetak tenaga kesehatan unggul, tetapi juga menyediakan kesempatan bagi anak-anak muda dari seluruh Indonesia, termasuk wilayah 3T, untuk menempuh pendidikan di bidang kesehatan.

Melalui kerja sama dengan sejumlah institusi kesehatan dari dalam maupun luar negeri—seperti Belanda, Amerika Serikat, hingga Singapura—UPH menyediakan pendidikan gratis bagi lebih dari 800 calon perawat setiap tahun, lengkap dengan fasilitas tempat tinggal, kebutuhan hidup, serta jaminan kesempatan kerja setelah lulus.

Inisiatif serupa dijalankan oleh Teachers College (TC) atau Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UPH yang mencetak calon guru berkualitas untuk mengajar di berbagai pelosok negeri.

Bagi Dr. Stephanie, pendidikan guru merupakan fondasi utama kemajuan bangsa, terutama dalam menghadapi kebutuhan penguasaan bidang STEM.

"Guru di sekolah dasar sering kali dituntut untuk mengajar banyak hal mulai dari bahasa, sains, sampai olahraga. Karena itu, penting bagi kami untuk turut membekali mereka agar dapat mengajarkan STEM dengan cara yang sederhana, murah, dan menyenangkan," kata dia.

Fakultas AI, Inovasi Menjawab Tantangan Zaman

Tidak hanya berfokus pada bidang kesehatan dan pendidikan, UPH juga tanggap terhadap dinamika perubahan zaman. Salah satunya dengan pendirian Fakultas Artificial Intelligence (FAI).

Saat dunia masih berjuang menghadapi pandemi COVID-19, PHG telah mengambil langkah nyata dengan mendirikan FAI. Langkah ini menjadikan UPH sebagai salah satu perguruan tinggi pertama di Indonesia yang menawarkan pendidikan khusus di bidang AI. Inisiatif ini menegaskan komitmen UPH dalam menyiapkan generasi muda menghadapi era digital dan kemajuan teknologi.

"Kami punya moto ‘We do not tolerate AI illiteracy’. Semua orang harus memahami AI, bukan hanya mereka yang belajar teknologi, tetapi juga di bidang hukum, kesehatan, hingga jurnalisme," tegas Dr. Stephanie.

Berkolaborasi dengan Zhejiang University, China, UPH terus memperluas pengembangan di bidang AI sekaligus menciptakan peluang karier baru bagi lulusannya. Meskipun begitu, Dr. Stephanie menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan peran berpikir manusia.

"AI memang membantu, tapi jangan sampai membuat anak-anak kehilangan kemampuan berpikir kritis. Proses membaca, menulis, dan menganalisis itu penting untuk melatih otak mereka agar tetap tajam," ujar dia.

Mewujudkan Pendidikan yang Inklusif

Salah satu nilai utama yang dijunjung PHG adalah inklusivitas. Artinya, setiap anak berhak mendapat kesempatan belajar.

Dari sisi sosial-ekonomi, PHG berupaya menjamin pendidikan tetap terjangkau bagi semua kalangan, termasuk mereka yang kurang mampu. Melalui program beasiswa dan kolaborasi UPH dengan berbagai perusahaan, banyak anak muda dapat melanjutkan pendidikan tanpa terbebani masalah biaya. Skema ini diterapkan tidak hanya di Fakultas Keperawatan, tetapi juga Teachers College, FAI, dan berbagai program lain di UPH.

Sementara itu, di sisi intelektual, Dr. Stephanie menekankan pentingnya menciptakan ruang pendidikan yang terbuka bagi anak-anak berkebutuhan khusus agar mereka dapat belajar bersama di sekolah umum.

"Riset menunjukkan bahwa ketika anak-anak berkebutuhan khusus belajar di sekolah mainstream, mereka berkembang lebih baik. Bahkan, anak-anak lainnya pun tumbuh dalam empati, emosional, dan akademik," jelasnya.

Melalui pendekatan itu, UPH bersama seluruh sekolah di bawah naungan PHG berkomitmen menjadi jembatan bagi semua lapisan masyarakat.

"Terpenting adalah terus mengasah kemampuan berpikir, selalu ingin tahu, dan tidak mengambil jalan pintas. Proses yang sulit justru membentuk kita menjadi pribadi yang kuat," pesan Dr. Stephanie, yang kini juga menjabat sebagai Penasihat Ahli Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, (Kemendikdasmen) RI.

Bagi Dr. Stephanie, makna pendidikan sejati melampaui batas ruang kelas. Pendidikan adalah perjalanan membentuk hati, pikiran, dan tindakan, serta menumbuhkan karakter, mengasah empati, dan menghadirkan perubahan.

Dengan semangat inovasi dan inklusivitas, dia berharap pendidikan di Indonesia terus melahirkan generasi unggul yang beriman, siap mengabdi, dan membawa dampak positif bagi masyarakat. Nilai inilah yang menjadi fondasi dari komitmen UPH sebagai institusi pendidikan tinggi di Indonesia.

(INFO KINI)

Penulis: Tim Media Servis