Menuju konten utama

Update Korban Kecelakaan Bus ALS: Identifikasi Hanya dengan DNA

Korban kecelakaan Bus ALS-truk tangki sulit diidentifikasi karena hangus terbakar. Tim DVI hanya mengandalkan pencocokan DNA.

Update Korban Kecelakaan Bus ALS: Identifikasi Hanya dengan DNA
Tim DVI Polda Sumsel menggelar konprensi pers perkembangan identifikasi korban kecelakaan bus ALS-truk tangki di RS Bhayangkara Palembang, Sabtu (9/5/2026). FOTO/Irwanto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sumatera Selatan cukup kesulitan dalam proses identifikasi korban kecelakaan bus ALS-truk tangki di Musi Rawas Utara, Rabu (9/5/2026). Hal ini disebabkan kondisi para korban sudah nyaris gosong terbakar.

Tim DVI berusaha mencocokkan keterangan dan ante mortem dari keluarga korban dengan post mortem pada jenazah. Ante mortem dimaksud mulai dari properti yang dikenakan korban, seperti jam tangan, cincin, kalung, dompet, hingga ciri-ciri fisik korban.

Properti ini awalnya menjadi petunjuk kuat dan memudahkan dalam proses identifikasi. Namun dari hasil pemeriksaan, seluruh properti yang disebutkan tak lagi menempel di tubuh korban sehingga tak dapat dijadikan data pembanding.

"Dalam kondisi kali ini, semua properti atau benda-benda milik korban tidak ada satu pun yang masih menempel di tubuh korban," ungkap Kabid DVI Pusdokkes Polri Kombes Pol Wahyu Hidayati, Sabtu (9/5/2026).

Di dalam kantong jenazah yang diterima, sebenarnya tim menemukan barang-barang korban, seperti kepala ikat pinggang, dompet, sisa pakaian, dan lainnya. Namun barang-barang itu tidak dapat dipastikan milik dari jenazah di dalam kantong.

"Jadi data dari keluarga atau barang yang ada di kantong tidak bisa jadi data pembanding dengan post mortem pada jenazah. Artinya identifikasi korban cuma berharap pada DNA," kata Wahyu.

Dalam pengambilan DNA dari jenazah, Wahyu menyebut tim DVI sempat mengalami kesulitan karena kondisi korban yang gosong. Kulit daging korban nyaris tak ada lagi sehingga penyambilan sampel DNA dari bagian ini tak dapat dilakukan.

Awalnya tim berharap DNA diambil dari gigi yang masih melekat pada korban. Hanya saja, gigi korban ternyata sudah hancur dampak besarnya api membakar tubuh mereka.

"Sebagian gigi masih ada, tapi begitu dipegang hancur, bahkan tanpa dipegang pun sudah rapuh," kata Wahyu.

Melihat kondisi ini, Tim DVI mengambil sampel DNA dari tulang jenazah. Tim harus memilah tulang yang masih bisa diambil sampel karena sebagian besar tulang korban sudah hangus terbakar.

"Semua DNA korban kita ambil dari tulang, kita cari tulang yang masih merah," kata Wahyu.

Sejauh ini, kata dia, pihaknya telah memerima 15 sampel ante mortem dari 17 jenazah. Hanya saja, satu sampel di antaranya dapat digunakan untuk identifikasi dua jenazah yang diduga terdiri ibu dan anak berusia di bawah lima tahun.

"Untuk anak itu nanti dicocokkan dengan orangtuanya jika ibu dan ayahnya sudah teridentifikasi," kata Wahyu.

Kepala RS Bhayangkara Mohammad Hasan Palembang Kombes Pol Budi Susanto menambahkan, properti yang disampaikan keluarga tak satu pun cocok dengan yang ada pada jenazah. Hal ini lantaran kondisi korban yang hangus terbakar.

"Kita cocokkan berupa properti kalung berwarna silver yang melekat pada leher jenazah dan hasil keterangan keluarga, juga ada tato burung di punggung. Tapi setelah rapat konsiliasi data tersebut tidak cukup kuat mengidentifikasi jenazah," kata Budi.

Setelah tidak adanya data yang sinkron, Tim DVI memutuskan identifikasi menunggu hasil DNA karena lebih akurat.

"Harapan terakhir kita menunggu hasil DNA yang sekarang masih diproses, paling cepat lima hari bisa ditayangkan dan paling lama dua minggu," tutup Budi.

Baca juga artikel terkait KECELAKAAN BUS atau tulisan lainnya dari Irwanto

tirto.id - Flash News
Kontributor: Irwanto
Penulis: Irwanto
Editor: Dipna Videlia Putsanra