tirto.id - Grup band pop legendaris, KLa Project, merayakan ulang tahun ke 37 dengan cara istimewa: menggelar konser tunggal bertema ‘Lux Nova”, membawakan 23 lagu, sebagian di antaranya jarang atau bahkan tidak pernah dimainkan secara live.
Di konser yang bertempat di Balai Sarbini, Jakarta Selatan, pada Sabtu (7/2) ini, KLa membuka konsernya dengan mengadakan pemotongan tumpeng bersama wartawan, personel band, dan tim produksi. Band yang beranggotakan vokalis Katon Bagaskara, gitaris Romulo “Lilo” Radjadin, dan keyboardis/ pianis Adi Adrian, ini mengucapkan rasa syukur bisa bertahan selama 37 tahun.
“Ini bukan suatu yang pendek, tapi 37 tahun ini bukan soal angka, tapi bagaimana kami memaknai dan menikmati perjalanan,” ujar Adi. “Semoga bisa sampai 38, 39, dan seterusnya.”
“Hari ini kami membawakan konser dengan sistem suara surround, jadi konser ini adalah kerja keras kita semua, dan semoga kalian bisa menerimanya dengan baik,” tambah Lilo.
Menurut Katon, lux nova berarti cahaya baru. Ia menyebut, segala keputusan dalam band diharapkan bisa menghadirkan karya yang bisa menjadi cahaya baru bagi musik Indonesia. Ini tercermin dari konser malam tadi.
“Walaupun mungkin tidak bikin karya baru yang terlalu banyak, tapi karya show ini semoga bisa jadi cahaya baru bagi musik Indonesia,” tutur Katon.
Pertunjukan malam ini membuktikan kebenaran omongan Katon. Pilihan setlist, juga obrolan hangat di jeda lagu, membuat konser 37 tahun ini terasa istimewa. Apalagi mengingat biasanya KLa membuat konser ulang tahun setiap lima tahun sekali, tapi sejak tiga tahun terakhir mereka mengadakannya setiap tahun.
KLa membuka lagu dengan “Tinggal Sehari”, sebuah lagu hits dari album Klasik (1999). Lagu ini terasa dekat mengingat pengandaian tentang kehidupan yang tinggal sehari di dunia, mengingatkan akan persahabatan KLa Project yang sudah merentang nyaris empat dekade.
Dengan “Tinggal Sehari” sebagai pembuka, KLa serasa ingin mengajak audiens merenung tentang nilai waktu, pilihan hidup, dan esensi kebersamaan. Sebagai sebuah grup, perjalanan mereka tentu tak melulu mulus. Ada naik, turun, bahkan bubar. Tapi mereka kembali dan berjalan lagi.
Setelah lagu pertama, berturut-turut hadir “Datanglah Pesona” dan “Menjemput Impian”. Semua disambut akrab oleh penonton dari berbagai kalangan usia.
Katon sempat bercanda dengan bertanya ke penonton, “Siapa yang usianya 35 tahun?” yang disambut sorak sorai.
“Yang usianya 25 tahun ada gak?”, dan ternyata disambut lebih meriah.
Konser ini terasa makin hangat karena obrolan antar personel di atas panggung. Lilo menguasai panggung dengan guyonan-guyonan khasnya. Karena keahliannya ini, Katon menjuluki sahabatnya ini sebagai Ketua Umum Stand Up Comedian Musisi.
“Ada banyak lagu yang saya ciptakan, juga saya nyanyikan. Tapi gak laku,” kata Lilo yang disambut ketawa kencang para penonton. “Rejekinya emang ada di Katon.”
“Makanya, meski Katon begitu, kami semua sayang sama dia,” lanjut Lilo dengan terkekeh.
Namun Katon, yang setidaknya tiga kali berganti busana, sesekali melakukan retrospeksi yang membawa nostalgia mengingat bagaimana mereka berjuang di awal. Katon berkata bahwa mereka tak pernah bermain-main jika bicara musik.
“Ini karena kami meninggalkan apa yang disuruh orang tua ke kami. Lilo dan Adi disuruh kuliah. Orang tua saya menyuruh saya bekerja. Tapi kami meninggalkan semua demi main musik,” kenang Katon.
Sebagai konser tunggal, KLa memang ingin membawakan sesuatu yang segar. Di sela-sela hits seperti “Romansa”, “Terpurukku Disini”, “Meski Tlah Jauh”, “Tak Bisa ke Lain Hati”, ada juga lagu-lagu yang relatif jarang dibawakan, seperti “Hasrat Bathin”, “Bantu Aku”, sampai “Hey”. Bahkan ada juga “Prasangka”, yang menurut Katon, baru pertama kali ini dibawakan secara live.
Sebagai bagian dari ulang tahun ini, KLa juga menyiapkan kejutan berupa hadirnya Fransisca “Sisca” Insani Rahesti, penyanyi yang pernah berkolaborasi bersama KLa pada awal karier mereka. Sisca naik ke panggung untuk membawakan tembang klasik “Tentang Kita” yang pertama kali muncul di album kompilasi 10 Bintang Nusantara (1988). Lagu ini kemudian jadi tembang jagoan di album perdana, KLa, yang dirilis setahun kemudian.
Setelah melempar jurus klasik pura-pura pamit dan menunggu penonton meneriakkan encore, KLa kembali ke panggung dan membawakan dua lagu pamungkas, “Tak Bisa ke Lain Hati” dan tentu saja hits terbesar mereka sepanjang masa, “Yogyakarta”.
Konser tunggal ini memang memberikan bukti sahih, bahwa band yang sudah berusia 37 tahun masih bisa memberikan cahaya baru. Lux Nova, bagi KLa, bukan hanya konsep di atas kertas. Malam itu istilah Bahasa Latin itu menemui pembenarannya. KLa masih bersinar di hadapan para penggemarnya.
Selamat ulang tahun, para maestro!
Editor: Nuran Wibisono
Masuk tirto.id































