Menuju konten utama

Trump Umumkan Israel-Lebanon akan Bertemu Setelah 34 Tahun

Trump menyebut, Israel dan Lebanon akan bertemu untuk negosiasi pada Kamis waktu setempat. Pertemuan ini untuk pertama kali sejak 34 tahun.

Trump Umumkan Israel-Lebanon akan Bertemu Setelah 34 Tahun
Presiden Donald Trump menyambut kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke Gedung Putih di Washington, Senin, 25 Maret 2019. AP / Manuel Balce Ceneta
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan rencana komunikasi langsung antara pemimpin Israel dan Lebanon untuk merundingkan perdamaian pada Kamis, 16 April 2026. Ini adalah momen pembicaraan kedua pihak pertama kalinya dalam 34 tahun.

Donald Trump menuliskan di unggahan terbarunya di Truth Social @realDonaldTrump tentang rencana pertemuan itu. Trump menyambut baik ketika kedua pemimpin negara yang sedang berseteru ini memutuskan untuk bertemu.

“Mencoba menciptakan sedikit ruang bernapas antara Israel dan Lebanon. Sudah lama sekali kedua pemimpin itu tidak berbicara, sekitar 34 tahun. Itu akan terjadi besok. Bagus!,” tulis Trump.

Pernyataan ini muncul hanya sehari setelah duta besar Israel dan Lebanon mengadakan pembicaraan langsung pertama mereka dalam lebih dari tiga dekade di Washington, DC, yang difasilitasi oleh Amerika Serikat sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan.

Kontroversi Negosiasi Damai Israel-Lebanon

Rencana pembicaraan langsung antara Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Presiden Lebanon Joseph Aoun dibenarkan oleh Menteri Sains dan Teknologi Israel, Gila Gamliel.

“Perdana menteri akan berbicara untuk pertama kalinya dengan presiden Lebanon setelah bertahun-tahun terputusnya dialog antara kedua negara, dan langkah ini diharapkan, pada akhirnya, akan mengarah pada kemakmuran,” kata Gamliel dikutip The Times of Israel, Kamis(16/4/2026).

Di sisi lain, laporan dari jurnalis Al Jazeera Zeina Khodr di Lebanon menyebut jika tidak ada informasi apapun terkait pembicaraan itu.

"Ini benar-benar tabu di Lebanon bagi seorang pemimpin Lebanon dan pemimpin Israel untuk berbicara pada saat kedua negara secara teknis masih dalam keadaan perang, pada saat Israel terus menyerang negara itu," kata Zeina dikutip Al Jazeera, Kamis (16/4/2026).

Munculnya inisiatif ini erat kaitannya dengan eskalasi konflik terbaru, yang melibatkan Israel, Lebanon, dan kelompok bersenjata Hizbullah.

Ketegangan meningkat setelah Hizbullah meluncurkan serangan roket ke wilayah Israel pada awal Maret 2026, yang disebut sebagai respons atas operasi militer Israel, termasuk pembunuhan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta pelanggaran berulang terhadap kesepakatan gencatan senjata sebelumnya.

Konflik ini kemudian berkembang menjadi operasi militer besar-besaran, di mana Israel melancarkan serangan udara dan invasi darat ke wilayah Lebanon selatan dengan tujuan menciptakan zona penyangga dan melemahkan Hizbullah.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa ia telah memerintahkan perluasan operasi militer ke arah timur Lebanon, sembari tetap membuka jalur negosiasi dengan pemerintah Lebanon.

Di sisi lain, pemerintah Lebanon menegaskan posisinya yang tidak terlibat langsung dalam konflik bersenjata tersebut dan terus mendorong gencatan senjata serta penarikan pasukan Israel dari wilayahnya.

Dampak kemanusiaan dari konflik ini sangat besar, dengan lebih dari 2.000 korban jiwa dan sekitar 1,2 juta orang mengungsi di Lebanon.

Kabinet Israel Pertimbangkan Gencatan Senjata dengan Lebanon

Kabinet keamanan yang dipimpin oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menggelar rapat penting pada Rabu (15/4/2026) malam untuk membahas kemungkinan gencatan senjata sementara dengan Lebanon.

Seorang sumber politik senior Israel bahkan menyebutkan bahwa dalam beberapa hari ke depan, Israel mungkin akan menghentikan serangan ke Lebanon sementara waktu.

“Penilaian kami adalah bahwa dalam beberapa hari ke depan, kami tidak akan punya pilihan selain sepenuhnya menghentikan tembakan di Lebanon,” kata sumber tersebut kepada Channel 12 dikutip The Times of Israel, Kamis (16/4/2026).

Pihak AS menampik jika keputusan gencatan senjata Israel adalah karena pengaruhnya. Namun, AS tak memungkiri jika keputusan itu benar diambil maka Trump akan senang mendengarnya.

“Ini bukanlah sesuatu yang kami minta, dan juga bukan bagian dari negosiasi perdamaian dengan Iran, tetapi presiden akan menyambut baik berakhirnya permusuhan di Lebanon sebagai bagian dari perjanjian perdamaian antara Israel dan Lebanon,” demikian bunyi pernyataan yang dikaitkan dengan seorang pejabat senior AS.

Baca juga artikel terkait ISRAEL atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra