Menuju konten utama

TPA Suwung Tutup 2026, Sampah Denpasar-Badung Digeser ke Bangli

Selama Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) dibangun, TPA Landih akan digunakan jadi penampungan sementara.

TPA Suwung Tutup 2026, Sampah Denpasar-Badung Digeser ke Bangli
Menteri Lingkungan Hidup (LH), Hanif Faisol Nurofiq, dan Gubernur Bali, Wayan Koster, seusai rapat bersama Gubernur di Kantor Gubernur Bali, Senin (29/12/2025). tirto.id/Sandra Gisela
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Lingkungan Hidup (LH), Hanif Faisol Nurofiq, mengungkapkan revitalisasi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Landih di Kabupaten Bangli sebagai salah satu alternatif solusi menyusul penutupan TPA Regional Sarbagita Suwung pada 1 Maret 2026 mendatang.

Selama Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) dibangun, TPA Landih akan digunakan sebagai tempat penampungan sementara sampah dari Kota Denpasar dan Kabupaten Badung. Hanif mengatakan diperlukan waktu kurang lebih 2 tahun untuk membangun fasilitas tersebut.

"Hanya ada waktu 2 bulan bagi jajaran Pemerintah Provinsi Bali untuk meng-upgrade TPA Bangli itu untuk sementara bisa digunakan sambil menunggu waste to energy. Biaya pengangkutan sampah dari Kota Denpasar dan Kabupaten Badung akan mahal ke Bangli. Untuk itu, memaksimalkan penyelesaian sampah di hulu menjadi keniscayaan," kata Hanif usai rapat bersama Gubernur Wayan Koster di Kantor Gubernur Bali, Senin (29/12/2025).

Saat ini, pembangunan PSEL di Bali sedang berada dalam proses lelang. Namun, Hanif menegaskan bahwa di Bali perlu dibangun kultur masyarakat yang benar-benar paham mengenai pengelolaan sampah secara mandiri. Langkahnya adalah dengan partisipasi desa-desa untuk mengelola sampahnya sendiri.

"Kalau sampah bisa kita kelola dengan baik, dengan membangun kultur baru, maka ini akan menjadi fondasi yang kuat untuk Bali sebagai kota pariwisata. Saya mohon maaf apabila salah, tetapi ini langkah-langkah yang harus diambil oleh pemerintah," ungkap Hanif.

Sementara itu, Gubernur Bali, Wayan Koster, mengungkapkan pengelolaan sampah harus dioptimalkan terlebih dahulu di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung. Untuk sampah residu, akan dibawa ke TPA Landih untuk ditampung sementara.

Koster mengatakan bahwa dalam aturan, TPA Landih memang bukan TPA regional. Namun, terdapat pasal yang mengatakan Kabupaten Bangli dapat bekerja sama dengan daerah lain untuk pengelolaan sampah. Dalam kasus penutupan TPA Suwung, kerja sama tersebut adalah dengan Kota Denpasar dan Kabupaten Badung.

"Iya [sampah dibawa ke TPA Landih], ada sebagian. Kira-kira sampai sekarang mungkin 50-an persen," ujar Koster.

Bupati Bangli, Sang Nyoman Sedana Arta, mengatakan bahwa TPA Landih memungkinkan untuk menerima sampah dari Kota Denpasar dan Kabupaten Badung. Pasalnya, letak TPA Landih berada di bawah lembah dan produksi sampah Kabupaten Bangli tidak besar.

Sedana juga menilai efek dari permasalahan pengelolaan sampah di Bali berpengaruh terhadap iklim pariwisata. Menurutnya, jika permasalahan sampah bisa dituntaskan, manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat Kabupaten Bangli sebagai bagian dari Bali.

"Kami juga ingin menjadi solusi alternatif jangka pendek. Dalam jangka pendek, syukur-syukur tidak banyak sampah yang dibawa ke Bangli. Namun, saya harus melakukan sosialisai kepada semua komponen masyarakat, bagaimana sampah ini juga bisa dikelola dengan baik lagi," jelas Sedana.

Di sisi lain, Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, mengatakan Kota Denpasar tidak berniat untuk membuang sampah ke luar kota. Namun, Menteri LH telah menegaskan bahwa TPA Suwung harus ditutup pada 1 Maret 2026 mendatang.

Saat ini, Kota Denpasar telah berhasil mengelola 500 ton sampah dengan memaksimalkan Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST). Namun, masih terdapat 200 truk sampah residu yang harus dibuang oleh Kota Denpasar ke TPA.

"Kami sampaikan, 200 truk itu cukup berat bebannya di jalanan. Terlepas dari itu, kami tetap mencari cara untuk memanfaatkan tempat-tempat lain agar tidak sebanyak itu truknya ke Bangli. Kami tidak enak juga membawa sampah, sedangkan kami di Denpasar, masyarakat kami sudah mengeluh ditimbuni sampah," pungkas Jaya Negara.

Baca juga artikel terkait PENGELOLAAN SAMPAH atau tulisan lainnya dari Sandra Gisela

tirto.id - Flash News
Kontributor: Sandra Gisela
Penulis: Sandra Gisela
Editor: Fadrik Aziz Firdausi