Timnas AMIN Ungkap Upaya Intimidasi, Netralitas Pemilu & Koalisi

Reporter: Mochammad Naufal, tirto.id - 10 Feb 2024 06:00 WIB
Dibaca Normal 11 menit
Sudirman Said juga menyayangkan sikap presiden Joko Widodo (Jokowi) yang dinilai semakin terlihat memihak.
tirto.id - Palagan jelang pencoblosan Pemilu 2024 semakin sengit dan memanas. Level elite dan akar rumput pendukung ketiga paslon saling menggencarkan kampanye dan upaya di waktu yang tersisa. Gesekan persaingan elektoral ini tak ayal menimbulkan dugaan-dugaan pelanggaran dan intimidasi yang dilakukan untuk menjegal lawan.

Misalnya, pengakuan dari Co-captain Timnas Anies Baswedan – Muhaimin Iskandar (AMIN), Sudirman Said, dan Deputi Pekerja Kreatif Timnas AMIN, Ivan Ahda, yang bercerita kepada Tirto soal intimidasi yang diterima jajaran tim dan pendukung paslon nomor urut 1 tersebut.

Keduanya menyambangi Tirto dalam program siniar bertajuk For Your Pemilu (FYP). Sudirman Said menyatakan bahwa terdapat tekanan-tekanan yang menyasar sejumlah calon donatur finansial Timnas AMIN. Belum lagi, beberapa acara yang akan diselenggarakan AMIN terasa dipersulit dan banyak mengalami hambatan.

Di sisi lain, mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral itu bersyukur tekanan yang diterima pihaknya membuat kreativitas Timnas AMIN terasah. Ivan menilai, tekanan-tekanan tersebut membuat Tim Muda AMIN semakin bersemangat untuk mengkonsolidasikan narasi perubahan kepada para pemilih muda.

Sudirman juga menyayangkan sikap Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang dinilai semakin terlihat memihak. Sebelumnya, Presiden Jokowi sempat menyatakan bahwa dirinya dan menteri boleh berkampanye.

“Saya sih tidak ingin bicara sebagai salah satu pihak yang sedang berkontestasi, tapi sebagai warga negara, sekali lagi yang kebetulan diberi kesempatan untuk punya pendidikan dan bayar pajak. Kita ingin melihat presiden kita itu kembali pada marwah sebagai pemimpin, sebagai pengayom, sebagai teladan,” kata Sudirman di kantor Tirto.

Di sisi lain, Ivan berharap dengan mayoritas pemilih muda yang banyak, justru terjadi pendidikan politik dan etika di masyarakat. Dia mewanti-wanti agar pemilu tahun ini justru bukan menjadi pesta demokrasi lima tahunan terburuk.

“Jangan sampai ini jadi sejarah pemilu terburuk padahal anak muda itu menjadi pemilih dominan,” ungkap Ivan.

Lebih lanjut, keduanya bercerita soal hubungan kubu AMIN dengan kubu paslon nomor urut 3, Ganjar Pranowo – Mahfud MD yang semakin intens. Mungkinkah kedua kubu memiliki peluang bersatu? Berikut petikan wawancara Tirto bersama Sudirman Said dan Ivan Ahda:

Sudirman Said jelang pemilu sibuk apa?

Sudirman: Tentu saja yang paling prioritas adalah mendorong, terus membooster dukungan pemilih masyarakat. Jadi kita memang selalu memprioritaskan ketemu dengan masyarakat. Kebetulan kita berbagai tugas. Kandidatnya ketemu dalam forum-forum yang massal sifatnya.

Kami-kami ketemu dengan para penggerak di lapangan. Dan itu kita lakukan sejak 1,5 tahun lalu. Sampai sekarang juga kita teruskan. Jadi saya banyak waktu keliling daerah bertemu dengan simpul-simpul, kita menyebutnya sekarang pejuang perubahan.

Tapi juga menghubungkan antara elemen partai dengan ormas, dengan para relawan, dsb. Yang lainnya, sesuai dengan tugas saya dari dulu, memang mencoba menjahit atau menghubungkan berbagai stakeholder, termasuk komunitas internasional.

Karena kita memang kepingin sebanyak mungkin mata itu melihat pemilih kita. Mengapa begitu? Karena pemilih ini sangat penting. Tentu, pertama-tama bagi Indonesia.

Demokrasi mesti diselamatkan. Tapi juga penting bagi kawasan. Bahkan penting bagi dunia.

Kalau demokrasi Indonesia ini terganggu, saya kira sebagian negara yang dengan ukuran penduduk besar, jumlahnya besar, dan sebagian besar muslim itu juga menjadi sesuatu yang patut diperhatikan juga. Jadi kita juga komunikasi dengan berbagai organisasi atau institusi untuk menceritakan situasi kita seperti apa dan minta mereka, mengundang mereka memberikan satu atensi.

Salah satunya ke Amerika Serikat?

Sudirman: Salah satunya. Tapi saya pergi ke beberapa negara ASEAN juga. Kemudian bertemu dengan komunitas masyarakat Eropa. Diaspora-diaspora.

Bukan saja teman-teman warga Indonesia, tapi juga para pemerhati, para aktivis, dan juga para policymaker yang konsen pada demokrasi kita.

Bertemu konglomerat-konglomerat gitu?

Sudirman: Sekali-sekali ya. Kan kita tahu. Dan kan begini, bertemu konglomerat itu tidak harus konteksnya soal uang ya. Karena mereka juga butuh pandangan, butuh update.

Jadi kita bertemu dengan para pengusaha juga untuk menjelaskan suasana, menjelaskan progres, sekaligus menyampaikan pandangan-pandangan bahwa ya tentu mereka bertanya soal platform, program, segala macam. Jadi itu bagian yang juga saya kerjakan.

Sudirman Said dan Ivan Ahda
Wansus Padcasy FYP Sudirman Said dan Ivan Ahda. (Tirto.id/Andhika Krisnuwardhana)


Goal enggak menjadi dukungan secara finansial?

Sudirman: Secara keseluruhan saya harus mengatakan memang semua orang bercerita bahwa para donatur potensial itu sangat sulit untuk bergerak. Kalau dikatakan terus terang, pesannya bukan saja harus mendukung salah satu, tapi juga dilarang atau jangan sampai mendukung yang lain.

Dan kami termasuk yang dikasih warning. Dukungan pada kami termasuk yang dikasih warning. Dan berkali-kali saya nyatakan kami simpati sepenuhnya kalau kemudian ada sikap-sikap yang sangat berhati-hati, karena memang yang dihadapi mereka, jangankan pengusaha. Para pimpinan partai pun mengalami tekanan luar biasa.

Jadi memang ini sesuatu yang sangat tidak biasa, sangat pribadi yang kita alami. Kalau Pak JK [Jusuf Kalla] sudah mulai bicara terus terang, belum pernah ada pemilihan umum seburuk sekarang ini. Dan itu harus menjadi satu informasi yang diketahui oleh masyarakat. Karena pemilihan adalah hak publik. Dan kalau penyelenggaranya begini kan sebenarnya kurang sehat.

Tekanan-tekanan ke AMIN bentuknya seperti apa?

Ivan: Jadi kalau saya dan teman-teman, ini ada elemen-elemen muda kita fokus memang mengawal bagaimana usaha kampanye ini sampai ke suara anak muda. Salah satu yang jadi concern kita adalah sebenarnya tren beberapa waktu terakhir itu kita cukup memberikan semangat.

Sebab, memang secara organik kita melihat teman-teman yang anak muda, yang awalnya silent majority ini, mulai bersuara. Dan momentum itu ketika debat itu sudah mulai berlangsung.

Jadi sampai kemarin kita secara rutin tuh, teman-teman muda, buat titik nobar debat, sudah kayak nobar main bola, Mas. Kalau selama ini kan nobar itu nobar bola ya. Ini nobar debat. Ini kan satu tradisi yang baru sekali ada. Dan kita ngerasa ini salah satu cara yang gampang.

Nah, tekanannya ada di mana? Nah, sebenarnya gini, kalau kita melihat suara anak muda itu bisa kita temukan, selain kami juga terjun ke daerah-daerah secara rutinnya, mungkin sudah lebih dari 50 titik di daerah, gitu ya. Tapi kita melihat di percakapan di media sosial. Ya, percakapan di media sosial lah. Tweet-tweet gitu.

Itu begitu intimidatifnya. Kita anak-anak muda yang di AMIN ini nggak pernah takut sekalipun. Tapi intimidatif lebih kemarin. Kita membayangkan bagaimana negara kita yang tingkat literasinya begitu challenging dan menantang, gitu ya, Mas. Tapi kemudian percakapan gagasan itu akhirnya kemudian kalah dengan percakapan, pokoknya nggak ngaruh, tetap ini. Pokoknya nggak ngaruh, dan seterusnya.

Nah, itu yang lebih kepada kemudian kita tuh jadi kayak resah dan, wah nggak, ini harus lebih nambah semangat lagi. Jadi sebenarnya kita ngerasa sejauh ini anak-anak muda itu lebih kepada kan kita harus manfaatin juga FOMO-nya ya. Fear of missing out itu kan. Kayak, wah kalau yang lain nih pada milih ini, kok enggak ada yang milih 01, segala macam. Tapi sekarang kita minta semua bersuara di semua platform yang mereka miliki.

Sudirman: Jadi menarik ya, saya sambung sedikit. Kalau tadi kan saya cerita soal kesulitan memperoleh support, tapi juga ada hikmahnya. Kita dalam keterbatasan kita sebagai Timnas ya, tetapi kemudian didukung oleh masyarakat umum, masyarakat apa? Organik-organik ya. Yang tidak kita mobilisasi, ternyata sumber daya mereka itu luar biasa.

Jadi kalau kita lihat di daerah-daerah itu, ya masyaallah, artinya kami setiap kali pulang dari kunjungan ke daerah, bertemu dengan tadi para penggerak, bertemu dengan kader, bertemu dengan orang-orang yang aktif di belakangan itu, seperti mendapat energi dobel gitu ya.

Kalau orang-orang itu yang dalam keterbatasan saja begitu semangat. Apalagi kita yang di level nasional. Jadi ada satu dinamika baru yang juga mungkin tidak ditemukan di tempat lain.

Justru akibat tekanan-tekanan yang berlebihan itu, kemudian muncul keberanian baru. Dan mungkin refleksi yang disampaikan Mas Ivan tadi adalah muncul di anak muda. Bahwa betapa pun tekanannya begitu keras.

Ivan: Juga banyak banget gerakan-gerakan yang suka rela, itu berbasis interest, hobi gitu kan, teman-teman. Itu benar-benar kalau kita ditanya, kita juga nggak tahu yang mulai siapa, siapa orang di balik ini. Karena itu bagian dari memang suara-suara anak muda yang memang tulus, pengen dukung aja.

Itu bahkan enggak diorkestrasi sama teman-teman Tim Muda, itu udah enggak ada sama sekali.

Sudirman Said dan Ivan Ahda
Wansus Padcasy FYP Sudirman Said dan Ivan Ahda. (Tirto.id/Andhika Krisnuwardhana)


Soal videotron diturunkan itu emang karena kesalahan administrasi apa tekanan sih?

Ivan: Kalau dari cerita teman-teman, sebenarnya kan seandainya pun ada klausul enggak boleh buat politik, kan sebenarnya itu sesuatu yang bisa di-clearkan dari awal.

Itu yang disesalkan oleh teman-teman sebenarnya. Jadi akhirnya kemudian kan wajar ketika orang-orang punya prasangka yang lain-lain. Dan teman-teman ini bayangin, ini mereka tuh uangnya uang sendiri.

Patungan segala macam. Bahkan fundraising kita lakukan benar-benar kolektif aja. Jadi kita juga bayangin udah semangat segala macam, terus malah enggak ada segala macam. Dan hilang satu tumbuh seribu. Hilang satu tumbuh seribu.

Bagaimana menanggapi pernyataan presiden boleh berkampanye dari Pak Jokowi?

Sudirman: Saya sangat prihatin dengan sikap itu karena pertama respons publik kan luar biasa. Karena bagi saya, saya kira bagi kita semua orang-orang berpendidikan itu, betul presiden itu punya hak berkontestasi. Tapi dia juga punya kewajiban mengayomi seluruh rakyat.

Sehingga tugas terpenting dari seorang presiden adalah di samping dia mungkin punya hak asasi untuk mendorong siapapun, tapi juga dia punya tugas memimpin, memberikan teladan, meninggalkan legasi atas tindakan, kata-kata, perilaku, pilihan sikap yang bisa menjadi rujukan. Bukan saja sekarang, tapi juga nanti ke depan.

Jadi ketika seorang presiden mengatakan, Presiden boleh kampanye, boleh memihak, kata-kata. Ya konteksnya apa dulu? Secara undang-undang pemilu mengatakan begitu. Tapi ada undang-undang dasar 45 yang mengatakan presiden bersumpah akan memerintah dengan adil-adilnya, melindungi seluruh rakyat adil-adilnya, dan memberikan satu leadership yang mengayomi seluruhnya.

Ada tekanan-tekanan jelang pencoblosan Pemilu ini?

Sudirman: Ya, yang terjadi di Jogja umpamanya satu contoh ya. Tiba-tiba digeser di Sumatra Barat dulu. Jadi tentu akan ada upaya-upaya seperti itu.

Dulu waktu di Banten sampai secara kasar kan di tempat yang mau dipakai untuk syarat alhamdulillah, di lempari ular berkarung-karung gitu ya. Di tempatnya Pak Wahidin. Ini bagi kita sesuatu yang disayangkan ya, karena, saya sebutnya saja, karena sejak awal sinyal yang diberikan oleh pimpinan tersebut di negara itu bukan sinyal yang netral, tapi sinyal yang berpihak.

Jadi, seluruh tahapan yang sifatnya menghambat atau menghalangi kita itu sebetulnya konsekuensi dari pesan itu. Mudah-mudahan tidak berlanjut, mudah-mudahan. Tapi, ya kami menghadapinya dengan ya case by case lah bagaimana menghadapi ini.

Dan itu sebenarnya melatih keterampilan kita untuk bersiasat, beradaptasi. Jadi sesuatu yang, eh, kalau begini dihalangi bagaimana caranya? Itu membuat mereka yang di lapangan makin punya skill tambahan untuk beradaptasi berbagai masalah.



Kenapa tidak dilaporkan ke Bawaslu, malah berkoar di media massa?

Ivan: Ya, sebenarnya, ini yang perlu dipahami adalah karena sebenarnya kalau pakai perspektif yang bukan pendukung AMIN, kita perlu tanyakan juga. Teman-teman media perlu tanyakan juga sebenarnya. Apakah kemudian proses pemilu saat ini buat mereka wajar?

Kami sangat yakin bahwa ini saja sudah membuat keresahan buat mereka. Nah, kita tahu ada banyak juga laporan-laporan yang dilaporkan, baik pasangan 01 yang dilaporkan atau sebaliknya dan seterusnya.

Tapi kita tahu juga bahkan kadang-kadang itu enggak dilanjutkan ataupun kemudian tidak punya muaranya. Nah, kami percaya bahwa begini. Proses ini juga bermakna bahwa kita paslon kandidat dan para pendukungnya punya kewajiban mengedukasi publik juga dalam literasi politik.

Sudirman: Bahwa kan kita punya tim hukuman nasional. Terus seluruh 38 provinsi ada Tim hukum daerah. Ada ratusan pos-pos pengaduan. Karena itu kita mendapatkan laporan tadi. Jadi proses legal tetap dilakukan. Lapor ke Bawaslu, lapor ke Aparat Hukum kalau memang itu. Memang kaitannya sama penegakan hukum.

Tapi tadi memang sejak awal kita ingin, istilah Pak Anies tuh, kita harus meningkatkan level permainan. Bahwa pemilu ini tidak sekedar kontestasi mendapatkan suara, tapi juga cara untuk melakukan edukasi publik. Karena itu setiap kali ada persoalan begini kita angkat. Supaya orang belajar bahwa ini patut atau tidak patut.

Saya sedikit meng-highlight tadi. ASN diminta netral, polisi diminta netral. Pimpinan daerah diminta netral, BUMN diminta netral. Semuanya diberikan instruksi untuk netral. Lah, bibitnya [pimpinan] dari semua itu, kok bisa mengatakan saya berpihak? Itu sebetulnya sedang membatalkan perintah kepada seluruhnya.

Ada kesamaan narasi akhir-akhir ini antara kubu paslon nomor urut 1 dan 3, ada kemungkinan bekerjasama?

Sudirman: Begini, secara normatif kita mengatakan pemilu ini betul kompetisi, tapi ujungnya adalah berteman lagi. Jadi kita memang komunikasi dengan siapapun. Dengan pihak 02 juga kita komunikasi. Saya kebetulan banyak teman di sana. Di pihak 03 juga begitu.

Kalau melihat suasana batin belakangan ini, memang mesti diakui bahwa ada suasana yang satunya sedang memperoleh benefit [keuntungan] dari kedekatannya dengan kekuasaan. Kami dari awal memang sudah bukan bagian dari kekuasaan, jadi kita lebih relaks.

Namun, lebih karena concern-concern besar yang kaitannya dengan pelaksanaan demokrasi. Jadi kita sering komunikasi, termasuk dengan 03. Apakah tekanan-tekanan yang kami alami secara bersama-sama itu dengan mirip-mirip itu membuat kita menjadi lebih dekat? Saya kira itu human nature saja. Itu urusan normal sebagai manusia. Ketika kita sering merasa ada senasib.

Dan, benar bahwa kita punya semangat untuk sama-sama menjaga demokrasi. Itu yang saya bisa katakan pada publik.

Komunikasinya cuma di level elite atau di level akar rumput?

Ivan: Kita kita juga tahu bahwa sebenarnya anak-anak muda ini di level tertentu itu punya organisasi mahasiswa dan sebagainya. Yang menarik ya, ini 01 juga enggak sangat tidak homogen. Maksud saya begini, saya bisa bilang misalnya ada satu organisasi kemahasiswaan yang terafiliasi pada paslon 03 misalnya. Itu sebenarnya banyak banget yang ada di 01, teman-teman. Saya pengen bilang begini.

Saat ini, narasinya benar-benar menembus pada kemudian keberpihakan pada apa yang diyakini. Kami komunikasi ya komunikasi 02 dan 03. Karena kan ini banyak teman-teman lain.

Ini salah satu yang menarik sebenarnya, salah satu selain bahwa pemilihnya 56 persen anak muda. Tapi para pelakunya sekarang ya, Pak Dirman, itu banyak sekali memang udah level anak muda. Dan mereka ini temenan semua. Sama-sama ketua BEM di kampus, terus ketemu. Eh, kita beda tugas nih.

Jadi sesederhana kalau kita WA terus ngobrol-ngobrol ya segala macam. Jadi kalau misalnya saya akhirnya melihat begini, sangat wajar ketika misalnya ada teman di paslon lain, mungkin gelisah dan resah, terus kayak, wah, gua lagi mengalami ini, dan seterusnya. Kita ngobrol, kita saling bertukar pikiran dan info.

Dan ketika pada satu titik tertentu, salah satu yang diharapkan adalah kita ingin kemudian menjaga, sama-sama salah satu yang diharapkan adalah pemulihan kualitas demokrasi. Nah, kualitas demokrasi kan ditandai dengan kemudian apa ya, fairness gitu kemudian. Kalau hal-hal yang substansial ini udah nggak ada, apalagi yang mau kita rawat. Jadi komunikasinya itu tetap ada koridor value yang kita perjuangkan, kira-kira gitu.

Sudirman: Saya sebagai yang lebih tua ya, bersyukur karena teman-teman muda ini cukup cair mendialogkan itu semua. Saya pernah melihat satu, mereka bikin kemah demokrasi namanya di suatu tempat. Itu isinya mantan-mantan Ketua BEM dari berbagai angkatan.

Dan bicara mengenai keadaan sekarang. Jadi kita berharap ini terus terjadi, karena kan kira-kira elektoral ini kan lima tahun sekali kan. Sesudah itu negara ini mau ke mana? Itu yang harus menjadi concern lebih panjang mungkin.

Pak Sudirman Said yakin enggak pemilu ini satu putaran?

Sudirman: Saya enggak bisa memprediksi ya. Tapi semua orang bicara kekhawatiran. Ya boleh saja satu putaran, dua putaran. Tapi jangan ada pemaksaan dengan cara-cara yang saya sebut melampaui batas tadi. Menggunakan power yang berlebihan, kita memberi warning bahwa bansos itu kalau digunakan oleh paslon tertentu, itu bisa jadi definisi korupsi.

Sebab, korupsi adalah menggunakan kewenangan publik untuk kepentingan kelompok tertentu. Kalau itu dilakukan, kemudian terjadilah seseorang atau satu pasangan menang satu putaran dengan kekuasaan. Bisa saja secara politik itu menang, tapi secara legitimasi dan kestabilan itu akan berisiko.

Dan itu semua orang sudah memberi warning begitu. Karena itu akan baik kalau semua pihak menjaga diri. Ya kita berproses normal saja, kita memahami siapapun yang ada dalam kekuasaan, inkumben, itu punya keuntungan. Kita paham.

Tapi jangan eksesif. Jangan berlebihan. Karena itu akan menimbulkan reaksi juga. Nah kami juga menyadari yang di dalam sebagai penantang pasti terbatas, pasti dihalangi, pasti ditekan, kita menyadari itu.

Nah, kalau interplay ini terjadi dengan wajar, saya kira siapapun yang menang, mau satu putaran, mau dua putaran, enggak ada masalah. Karena memang pemilu selalu ada yang menang, ada yang kalah. Tapi jangan mengambil yang bukan hak orang, apalagi dengan cara-cara yang tadi, yang saya sebut melampaui batas.




Tapi kalau misalnya kubu AMIN yakin satu putaran?

Sudirman: Kita tidak ingin jumawa, tidak ingin takabur ya. Kita juga tahu keterbatasan gitu. Tapi kembali, kadang-kadang kita melihat ke daerah itu semangat yang luar biasa. Dan saya tidak tahu ujungnya seperti apa.

Yang jelas di DKI dulu pernah ada kejutan besar. Pak Anies dikatakan masuk putaran dua pun tidak bisa. Waktu itu kan, 2017. Tapi ternyata bukan saja masuk, tapi memenangkan putaran kedua dengan sangat meyakinkan. Itu satu kejutan yang kita tidak pernah duga.

Jadi kejutan seperti itu bisa terjadi. Dan tadi kami mengambil posisi yang penting ikhtiar keras, berdoa terus-menerus untuk kebaikan bangsa ini. Dan mudah-mudahan apapun hasil dari pemilih ini betul-betul membawa Indonesia, seperti istilah para senior di Gerakan Nurani Bangs aitu, pemilu yang jujur dan bermartabat. Itu yang kita harapkan.

Kok jarang Pak Sudirman Said sebut nama Muhaimin Iskandar?

Sudirman: Mungkin saya by default saja ya sejak awal membantu Pak Anies. Dan yang kedua saya punya kepekaan psikologi bahwa Pak Muhaimin adalah bagian dari Partai Kebangkitan Bangsa, jadi saya menghormati wilayah itu. Tapi dari berbagai event ya kita membicarakan keduanya. Kita tidak punya hambatan sama sekali, lebih kepada mungkin by default saja.

Ada pernyataan terakhir dan harapan dari AMIN?

Ivan: Kita berharap nilai etika proses dijaga benar benar. Saya yakin teman teman media garda terdepan menjaga itu di masyarakat. Agar keberpihakan pada value bukan kandidat. Kami semangat meningkatkan level permainan kemudian. Saat ini ada referensi survei sebagainya, tapi saya selalu bilang ke teman teman muda di lapangan, survei itu satu hal tapi dalam politik apapun bisa terjadi.

Sampai peluit pertandingan belum selesai selalu ada peluang untuk menang. Kami mengeluarkan one day, one AMIN, mudahnya setiap hari spiritnya orang dengan mudahnya satu hari bisa ngajak milih AMIN. Kita ingin semangat teman teman terkonversi menjadi suara. Dan mudah-mudahan proses ini menjadi pendidikan politik bagi anak muda dan masyarakat.

Jangan sampai ini jadi sejarah pelimu terburuk padahal anak muda itu menjadi pemilih dominan.

Sudirman: Saya kagum pada AMIN. Keduanya saling melengkapi, dan keduaanya adalah aktivis. Itu yang kami syukuri dan chemistry-nya cepat nyambung. Pak Anies itu banyak terekspos di pergaulan internasional dan bahasanya itu bahasa mereka lah.

Sementara Gus Muhaimin sangat terbangun, sangat berpengalaman, mengurus grassroot sebagai seorang Nahdliyyin. Kalau melihat kan pak Anies juga ini cenderung serius. Nah, Pak Muhaiminnya cair, jadi kadang-kadang keduanya saling melengkapi di mana-mana.

Bila nanti mereka dijodohkan atau dipersatukan dengan peran besar yang sama, kita membayangkan republik ini di depan wajah internasional diwakili Pak Anies, dan di grassroot diwakili Pak Muhaimin yang sangat dekat sama masyarakat bawah.

Kami punya harapan besar dua orang muda ini akan bisa membentuk pemerintahan yang kuat yang profesional kemudian betul-betul merangkai seluruh spektrum baik keumatan maupun kebangsaan.


Baca juga artikel terkait PEMILU 2024 atau tulisan menarik lainnya Mochammad Fajar Nur
(tirto.id - Politik)

Reporter: Mochammad Naufal
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Maya Saputri

DarkLight