Tim Ekspedisi Temukan Tinja hingga Kotoran Sapi Dibuang ke Ciliwung

Reporter: Farid Nurhakim - 19 Mei 2022 15:43 WIB
Dibaca Normal 1 menit
Pembuangan limbah tinja dan kotoran sapi menjadi penyebab buruk dan baunya kualitas air Sungai Ciliwung.
tirto.id - Tim Ekspedisi Sungai Nusantara menemukan pembuangan kotoran manusia hingga sapi dibuang ke Sungai Ciliwung. Hal itu menjadi penyebab buruk dan baunya kualitas air Sungai Ciliwung.

Tim juga menemukan sejumlah pabrik tahu di Lenteng Agung dan Jagakarsa, Jakarta Selatan, membuang limbah bersuhu tinggi serta menimbulkan bau menyengat.

Hal tersebut merupakan temuan dari kegiatan susur sungai yang melibatkan komunitas Ciliwung Saung Bambon, Komunitas Ciliwung Kedung Sahong dan Ciliwung Institut.

“Tidak semestinya ada kegiatan usaha yang membuang limbah cair langsung ke Ciliwung, seharusnya ada pengolahan limbah sebelum dibuang ke sungai, ditambah lagi dengan kotoran-kotoran sapi di bantaran Ciliwung yang menyumbangkan polusi nitrit dan aroma busuk,” ujar Penggiat Komunitas Ciliwung Tanjung Barat, Tyo lewat keterangan tertulis yang dikutip pada Kamis (19/5/2022).

Tyo mengatakan uji kadar nitrit Ciliwung menunjukkan kadar melampaui baku mutu air kelas II. Menurut Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup mensyaratkan kadar nitrit dalam air Ciliwung tidak boleh lebih dari 0.06 miligram per liter (mg/L).

Peneliti Ecoton, Daru Setyorini melaporkan bahwa mereka menemukan kadar nitrit tertinggi Ciliwung sebesar 0,15 mg/L di wilayah Jalan Camar Cijantung.

Lanjut dia, tingginya kadar nitrit mengindikasikan adanya pencemaran bahan organik yang berasal dari tinja atau limbah dari kamar mandi.

“Faktanya, terdapat pabrik tahu dan kandang sapi di lokasi pengambilan sampel air, yang sedang membuang limbah,” kata Daru.

Selain pencemaran Nitrit, tim ekspedisi juga menemukan tingginya kadar phospat di Ciliwung wilayah Srengseng Sawah sebesar 0,5 part per million (ppm), Jl Camar Cijantung 1,5 ppm, Kedung Sahing 0,6 ppm, dan di bawah Jembatan TB Simatupang sebesar 2 ppm.

Padahal, baku mutu berdasarkan PP 22/2021 mensyaratkan bahwa sungai kelas 2 yang dimanfaatkan sebagai bahan baku Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) kadar phospat tidak boleh melebihi 0.2 ppm.


Baca juga artikel terkait SUSUR SUNGAI atau tulisan menarik lainnya Farid Nurhakim
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Farid Nurhakim
Penulis: Farid Nurhakim
Editor: Gilang Ramadhan

DarkLight