Menuju konten utama

Tender Proyek PLTS 100 GW Dibuka Tahun Ini, Tahap Pertama 30 GW

Pengembangan PLTS tersebut menjadi bagian dari target pemerintah meningkatkan bauran energi baru terbarukan.

Tender Proyek PLTS 100 GW Dibuka Tahun Ini, Tahap Pertama 30 GW
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia (tengah) didampingi Kepala SKK Migas Djoko Siswanto (kanan), CEO INPEX Corporation Takayuki Ueda, dan Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa (kedua kiri) memberikan keterangan pers usai peletakan batu pertama atau groundbreaking proyek Proyek Strategis Nasional LNG Abadi Masela di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, Kamis (16/7/2026). Pemerintah menyatakan Proyek Strategis Nasional (PSN) tersebut akan memperkuat ketahanan energi nasional, sekaligus menjadi penggerak pembangunan ekonomi di kawasan timur Indonesia yang dirancang mampu memproduksi gas alam cair (LNG) sebesar 9,5 juta ton per tahun, kondensat sekitar 35 ribu barel per hari, serta gas pipa mencapai 150 juta kaki kubik per hari. ANTARA FOTO/Alfian Sanusi/sgd/foc.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah mulai menjalankan rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW). Tahap pertama pembangunan PLTS tersebut akan dimulai dengan pembangunan kapasitas 30 GW pada 2026.

Menurut dia, proses tender untuk pembangunan PLTS tersebut akan mulai dilakukan tahun ini. Hal itu disebut menjadi bagian dari upaya pemerintah mendorong penggunaan energi baru terbarukan dalam bauran energi nasional.

“Di tahun 2026, kami akan mulai tahap pertama dengan pembangunan 30 gigawatt. Kami sudah bahas. Tendernya kami akan mulai lakukan sekarang," tutur Bahlil dalam kegiatan The 12th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition di Jakarta, Rabu (19/8/2026).

Bahlil menyebutkan Presiden Prabowo Subianto telah menyampaikan rencana pembangunan PLTS 100 GW dalam beberapa tahun ke depan. Pemerintah akan mulai merealisasikan target tersebut secara bertahap.

"Sebagai bentuk keseriusan, pemerintah kemarin dalam pidato pengantar APBN, Bapak Presiden itu menyampaikan bahwa kita akan mendorong untuk membangun PLTS, pembangkit listrik tenaga surya, sebesar 100 gigawatt dalam kurun waktu beberapa tahun ke depan," ujarnya.

Kata Bahlil, pengembangan PLTS tersebut menjadi bagian dari target pemerintah meningkatkan bauran energi baru terbarukan. Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2035 telah menetapkan sekitar 70-75 persen bauran energi berasal dari energi baru terbarukan.

Bauran tersebut mencakup sejumlah sumber energi, mulai dari gas, panel surya, geotermal, hingga energi air.

Di satu sisi, Bahlil mengatakan percepatan pengembangan energi baru terbarukan diperlukan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil.

Mengingat, produksi minyak dalam negeri masih jauh di bawah kebutuhan konsumsi nasional. Pemerintah pun perlu segera meminimalkan ketergantungan tersebut sebagai bagian dari upaya mencapai kedaulatan energi.

"Lifting kita sampai dengan sekarang tidak pernah lebih dari 600 ribu-610 ribu barel. Konsumsi kita itu 1,5 juta–1,6 juta barel," ucapnya.

"Cara-cara seperti ini, ketergantungan kita harus segera kita minimalisir dalam rangka menuju kepada kedaulatan energi," lanjut dia.

Baca juga artikel terkait PLTS atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Insider
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Fadrik Aziz Firdausi